Sabtu, 30 Juli 2016

Dukung Jokowi dan kisah Kutukan Golkar usai Soeharto Lengser

OkTerus.com – Kepastian Partai Golkar untuk mendukung Joko Widodo (Jokowi) di Pemilu Presiden 2019 dilihat kembali untuk membuktikan tidaknya ada kader mumpuni di partai berlambang pohon beringin tersebut yang memiliki elektabilitas dan kapabilitas untuk menjadi presiden.

Sejak kekuasaan presiden kedua RI, Soeharto, runtuh pada 1998 dan digantikan Habibie sampai 1999, Golkar selalu kalah mengantarkan kader terbaiknya untuk menjadi orang nomor satu di negeri ini.

Pada Pemilihan Presiden 2004, pasangan yang dicalonkan Golkar, Wiranto-Salahuddin Wahid, tidak berhasil diputaran pertama. Ketika pilpres pertama yang langsung dipilih oleh rakyat ini, Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla keluar menjadi pemenang. Kalla memang berstatus sebagai kader Golkar dan terpilih menjadi ketua umum setelahnya. Tetapi, posisinya hanya menjadi wakil presiden.

Golkar dan Soeharto.Golkar dan Soeharto.

Pada Pilpres 2009, Kalla mencoba hokinya untuk maju sebagai calon presiden dari Golkar, berpasangan dengan Wiranto yang sudah membentuk Partai Hanura. Tetapi, pasangan ini kalah dari SBY yang pada kesempatan ini berpasangan dengan Boediono. Golkar tidak hanya kalah meraih kursi presiden, tetapi juga wakil presiden. Pada Pemilu 2014, Golkar juga gagal untuk mencalonkan kadernya sebagai calon presiden atau wakil presiden.

Golkar mengikhlaskan diri untuk mencalonkan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto dan Ketua Umum Partai Amanat Nasional Hatta Rajasa. Padahal, pendapatan suara Golkar pada pemilu legislatif lebih besar dibanding dengan Gerindra dan PAN. Tetapi , pasangan Prabowo-Hatta juga harus tumbang kepada pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla.

Sekarang, jauh sebelum pertarungan Pilpres 2019 dimulai, Golkar nampaknya sudah menyerah dan mengakui kekalahannya dengan memutuskan untuk mendukung Jokowi yang merupakan kader PDI-P sebagai capres 2019.

Padahal, jika melihat dari perolehan suara, Golkar bukanlah partai kecil. Seusai menjadi runner-up dan tumbang oleh PDI-P pada Pileg 1999, Golkar berhasil bangkit dan memenangi Pileg 2004.

Pada Pileg 2009 dan 2014, Golkar juga kembali mengisi urutan nomor dua. Tetapi, prestasi Golkar di ajang pilpres berbanding terbalik dengan hasil itu.

Editor Picks:

Sebagai perbandingan, Partai Demokrat yang pada Pileg 2004 cuma menempati urutan kelima dengan 7,45 persen bisa menggiring SBY sebagai presiden dengan berkoalisi dengan sejumlah partai lain. Pengamat politik dari Voxpol Center, Pangi Syarwi Chaniago, melihat, pasca-reformasi, kader Golkar seperinya dikutuk untuk tidak menang menduduki kursi RI-1.

Tetapi, Pangi menilai, kekalahan Golkar ini bukan tanpa sebab. Tak mampunya Golkar melakukan kaderisasi menjadi faktor utamanya. Saat Orde Baru berlangsung selama 32 tahun, Golkar terlalu menggantungkan dirinya dengan sosok Soeharto sehingga tidak memikirkan kaderisasi yang semestinya harus dilakukan oleh semua partai.

Pada era reformasi, Golkar juga masih terlalu menggantungkan dirinya dengan pemerintah yang berkuasa. Walau kalah dalam pilpres, Golkar selama dua periode mendekat sebagai koalisi pemerintahan SBY dan kini mendekat ke Jokowi. Akhirnya, kaderisasi di Golkar pun tidak berjalan maksimal.

"Ini menjadi evaluasi terhadap perjalanan Partai Golkar, kadernya belum ada yang mampu menjadi presiden. Ada yang salah dengan sistem kaderisasi Partai Golkar," ujar Pangi.

Pangi pun melihat, Golkar kini sedang memainkan peran yang sama dengan memutuskan untuk mendukung Jokowi pada 2019. Golkar, katanya mau memastikan untuk tetap mendapat kekuasaan pada 2019 nanti, walau bukan menduduki posisi kepala negara. Ia mengindikasikan Partai Golkar hanya ingin menduduki posisi wapres dan beberapa menteri dan posisi lain di pemerintahan.

"Sangat disayangkan partai sebesar Golkar tidak menentukan konstelasi politik nasional, belum berhasil menjadi partai penentu dan berhasil mengantar kader terbaiknya menjadi Presiden," kata Pangi.

Seperti slogan "karya kekaryaan", sejak berdiri pada 1964, Golkar memang selalu didesak untuk berkarya di dalam pemerintah.

"Namun, sebagai parpol yang pernah berkuasa selama 32 tahun, tak berhasratkah Golkar untuk menempatkan kadernya sendiri menuju kursi RI 1?" terang Pangi.

Penulis: Ariestia Fiky | Editor: Atta Pratama

Let's block ads! (Why?)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Incoming Search