Sabtu, 30 Juli 2016

Kisah Freddy Budiman, sebelum Jadi Gembong Narkoba Ternyata Pencopet

POJOKSUMUT.com, SURABAYA-Nama Freddy Budiman sebagai gemnbong narkoba kelas kakap Indonesia bakal abadi dalam catatan kriminal. Namun, layaknya manusia tak ada yang sempurna, meski hidup dipenuhi sisi kelam tetap ada sisi lain. Beruntung, ya sangat beruntung sebelum malaikat maut mencabut nyawanya, dia sedang dalam masa pertobatan.

Lalu bagaimana masa kecil hingga dia terjerumus dunia hitam bisnis haram Narkoba? Berikut penuturan dari teman-temannya. Jawa Pos (grup pojoksumut.com) berhasil bertemu dengan salah seorang teman masa kecil Freedy Budiman.

Pria yang berprofesi sebagai guru di sebuah sekolah SMA swasta di kawasan Indrapura itu meminta namanya disamarkan, sebut saja Rahmat.

Sama dengan kesaksian para tetangganya, di mata Rahmat, Freedy juga sosok yang baik. Saat kecil, sikap dermawan Freedy sudah menonjol.

"Sama seperti anak-anak kecil lainnya, dia juga sering lari-larian dari ujung gang ke ujung satunya, lalu ngejar layangan. Cuma memang dia itu suka menraktir jajan," cerita Rahmat.

Sejak kecil pergaulan Freedy cukup luas. Tidak hanya punya teman satu gang, tapi juga tersebar di sekitaran Krembangan, Surabaya. Keluarganya memang salah satu yang disegani.

Teman-teman masa kecil Freedy tahu bahwa ayahnya adalah seorang pebisnis ulung. Freedy kecil lebih terlihat terawat daripada teman-teman sebayanya. "Dia itu nggak pilih-pilih teman. Saya yang nggak punya apa-apa tapi tetap dianggap sama dia," lanjut pria berkumis itu.

Rahmat tidak tahu bagaimana rekam jejak Freedy hingga akhirnya terseret ke lembah hitam narkoba. Sejak duduk di bangku SMP, gembong narkoba yang pernah dekat dengan artis Anggita Sari itu sudah jarang terlihat di rumah. Rahmatpun sudah lama tidak bertemu Freedy.

Tahu-tahu, Freedy ditangkap. Saat itu, berita penangkapan Freedy begitu menghebohkan masyarakat sekitar rumahnya.

Freedy diketahui sempat kabur saat sudah masuk Nusakambangan. Rahmat tahu betul, ke mana Freedy lari saat itu. "Ya dia pulang ke rumahnya sini. Waktu itu abahnya (ayahnya) meninggal," beber Rahmat.

Rahmat melihat dari kejauhan saat itu. Dia tidak sampai memanggil Freedy. Dia ingat betul bahwa tidak ada satu warga sana yang menyapa Freedy. "Nggak ada yang berani mas. Waktu itu dia dikawal 6-8 orang bodyguard yang badannya gede-gede," katanya.

Dia melanjutkan, Freedy benar-benar sedih kala itu. Raut mukanya terlihat terpukul dengan kepergian sang ayah. Kabar yang diterima Rahmat dari teman-temannya yang tahu, ayahnya itu memang sakit lantaran memikirkan kasus Freedy.



Let's block ads! (Why?)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar