Jumat, 05 Agustus 2016

Kisah di Balik Pengambilan Foto Paus

FOTO paus terdampar yang dimuat Harian Serambi Indonesia hari ini adalah hasil jepretan Muhammad Anshar, fotografer Serambi, Kamis kemarin. Saat berupaya mengambil foto ikan raksasa yang terdampar di pantai Alur Naga, Kecamatan Syiah Kuala, Banda Aceh itu, ternyata Anshar mengalami suatu peristiwa yang tidak lazim. Apa itu? Berikut penuturannya.

SAAT saya tiba di lokasi paus terdampar pukul 09.30 WIB, air laut sedang pasang. Untuk mengabadikan foto paus dari bibir pantai saya agak kesulitan karena sebagian besar tubuhnya tertutup air. Saya menunggu momen saat ombak balik ke laut. Namun, terhalang pula oleh banyaknya warga yang mengerumuni bibir pantai.

Lalu saya bertanya kepada nelayan setempat pukul berapa biasanya air laut surut. Menurut nelayan, air laut surut pukul 14.00 WIB. Saya pun memutuskan untuk menunggu hingga siang sambil terus memantau posisi paus.

Pada pukul 12.00 WIB, tampak air laut perlahan surut. Saya dan dua wartawan foto, yaitu Adrian dari Kompas dan Heri dari Associated Press (AP) turun ke laut yang saat itu airnya sudah setinggi lutut orang dewasa. Tujuan kami adalah untuk memotret paus dari arah laut dengan latar belakang warga yang mengerumuni bibir pantai.

Pengambilan gambar dengan rencana awal itu berhasil saya lakukan. Setelah ke luar dari laut dan memeriksa hasil foto saya merasa ada yang kurang, karena posisi ekor paus masih belum terlihat seutuhnya. Lalu saya putuskan mengambil lagi foto dengan posisi ekor paus terangkat oleh hempasan ombak dengan latar belakang warga yang menonton

Saat jarak saya dengan objek foto semakin dekat dan sudut pengambilan gambar sudah sangat pas, tiba-tiba ombak besar datang, sehingga paus yang sudah mati itu tergerak ekornya oleh ombak. Di luar dugaan, hempasan ekor paus itu langsung menghantam kamera dan muka saya, sehingga saya bersama kamera di tangan jatuh ke air.

Dengan kondisi basah kuyup dan kamera padam total akibat terendam air laut, saya langsung menyelamatkan memory card untuk memastikan hasil foto terselamatkan. Dan, alhamdulillah, memang selamat.

Sebelumnya bersama sesama fotografer kami sempat membahas posisi pengambilan foto dari arah laut, bahkan saya sempat mengusulkan untuk menyewa boat nelayan. Namun, hal itu tidak kami lakukan karena kondisi gelombang dan angin yang tidak mendukung. Tapi kalau kami nekat naik boat dalam situasi laut sedang bergolak seperti itu, mungkin kisah ini akan lain lagi ceritanya. (*)

Let's block ads! (Why?)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar