Sabtu, 06 Agustus 2016

Kisah Dibalik Lapangan Kadipolo, Dulu Pernah Lahirkan Tim Juara (Bagian 1)

Lapangan Kadipolo yang pernah jadi saksi lahirnya tim besar Asia Tenggara bernama Arseto Solo. Sekarang, kondisi lapangan tersebut tak seindah dulu karena jarang dirawat. Foto : Maksum Nur FauzanLapangan Kadipolo yang pernah jadi saksi lahirnya tim besar Asia Tenggara bernama Arseto Solo. Sekarang, kondisi lapangan tersebut tak seindah dulu karena jarang dirawat. Foto : Maksum Nur Fauzan

SOLO – Tim sepak bola Arseto boleh saja bubar 18 tahun lalu. Namun sebagai salah satu tim besar era 80-90an, namanya hingga kini masih melekat di hati pecinta sepak bola Tanah Air, khususnya warga Solo.

Arseto didirikan pengusaha sekaligus putra presiden kedua RI Soeharto, Sigit Harjojudanto di Jakarta pada 1978 lalu. Lima tahun kemudian, Arseto dibawa ke Solo untuk berkandang di Stadion Sriwedari Solo. Prestasi tingkat nasional hingga Asia pernah dicatatkan Arseto. Salah satunya gelar kejuaraan antarklub Asia Tenggara tahun 1993.

Ada satu tempat yang tak akan dilupakan Ricky Yakobi dan kawan-kawan bila kembali mengingat memori indah di Arseto. Tempat itu bernama Lapangan Kadipolo yang terletak di Kelurahan Panularan, Kecamatan Laweyan, Solo. Tempat yang dulunya merupakan Rumah Sakit (RS) Kadipolo itu menjadi mess, sekaligus tempat latihan anak-anak Arseto Solo.

Chaidir Ramli menjadi salah satu saksi begitu pentingnya Lapangan Kadipolo sejak Arseto hadir di Solo hingga kini lapangan tersebut digunakan klub-klub lokal Solo berlatih. Kala itu, dia bercerita tentang Lapangan Kadipolo yang jadi magnet penggemar sepak bola di kawasan eks karesidenan Surakarta. Mereka berduyun-duyun datang ke Mes Arseto untuk sekadar menyapa, atau melihat aktivitas pemain-pemain top Tanah Air.

"Saat Arseto datang, mereka begitu dicintai. Lapangan Kadipolo dan Stadion Sriwedari langsung diserbu para penggemar sepak bola. Saking banyaknya, saat pertandingan di Sriwedari penonton sampai manjat pohon atau tribun karena kehabisan tiket," terang Chaidir Ramli kepada Joglosemar, Sabtu (6/8/2016).

Pengelola Lapangan Kadipolo Solo, Chaidir Ramli. Foto : Nofik Lukman HakimPengelola Lapangan Kadipolo Solo, Chaidir Ramli. Foto : Nofik Lukman Hakim

Bukan soal kecintaan terhadap sepak bola saja yang didatangkan Arseto. Gerombolan pemain bintang Tanah Air menghiasi tim Arseto. Maka tak heran jika saat itu Arseto yang main di kompetisi Galatama lebih menarik untuk ditonton ketimbang Persis Solo yang bertarung di perserikatan.

Hal tersebut diakui Agung Setyabudi. Pemain asal Solo yang mengawali karir profesional bersama Arseto itu tak pernah lupa cerita-cerita bersama tim berjuluk Biru Langit tersebut. Kala itu, Agung yang dipromosikan dari Diklat Arseto dikelilingi para pemain bintang.

"Dulu waktu gabung saya masih muda. Rata-rata yang di Arseto merupakan pemain hebat. Jadi ya masih belajar dari yang senior," tutur pria yang kemudian menjelma sebagai kapten Timnas Indonesia. Agung merupakan salah satu talenta lokal yang terpantau Danurwindo, pelatih Arseto saat itu.

Namun cerita indah di Lapangan Kadipolo Solo turut tenggelam saat Arseto bubar tahun 1998. Sejak saat itu, kondisi mes hingga lapangan tak terawat. Bahkan jika sekarang anda melewati kawasan tersebut, yang terlihat hanyalah bangunan tua dengan cerita-cerita mistis.

Salah seorang penjaga Lapangan Kadipolo, Paimin saat membersihkan bangunan karena hendak digunakan untuk pertandingan internal Persis Solo antara PS STER vs Monas Unsa Asmi, Sabtu (6/8/2016) sore. Foto : Maksum Nur FauzanSalah seorang penjaga Lapangan Kadipolo, Paimin saat membersihkan bangunan karena hendak digunakan untuk pertandingan internal Persis Solo antara PS STER vs Monas Unsa Asmi, Sabtu (6/8/2016) sore. Foto : Maksum Nur Fauzan

Tapi untuk urusan sepak bola, Lapangan Kadipolo tetap dipergunakan. Mulai tim-tim lokal hingga profesional macam Persis Solo. Ada pula tim bernama Arseto Amatir yang didirikan beberapa orang yang dulu di Arseto. Salah satunya mantan pelatih Persis Solo, Abdul Hafied Djamado.

"Cari lapangan di Solo cukup susah. Jadi ya lapangan ini sampai sekarang masih dipergunakan, meski kondisinya tidak seperti dulu. Semoga saja ada pihak, salah satunya pemerintah kota yang mau ikut memperbaiki lapangan ini. Semakin banyak lapangan, semakin banyak pula pesepakbola lahir dari sini," tutur Djamado.

Lapangan itu masih dimiliki Sigit Harjojudanto. Terkadang, ajudan dari pengusaha yang  menetap di Jakarta itu masih menengok kawasan tersebut. Chaidir Ramli yang dulu pernah menikmati indah kawasan itu pun kini jadi pengelola Lapangan Kadipolo.

"Kalau pak Sigit tidak kesini. Terkadang ajudannya saja. Saya bersama teman-teman lain masih merawat tempat ini agar tetap aktif untuk sepak bola," ucap Chaidir.

Mohammad Isnan | Nofik Lukman Hakim

Let's block ads! (Why?)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar