Sabtu, 06 Agustus 2016

Kisah Pedagang Martabak Jadi Polisi

SIDANG TERBUKA – Muhamad Meka bersama orang tuanya Sutarso usai sidang terbuka penetapan kelulusan akhir penerimaan Bintara Umum dan Bintara Khusus Penyidik Pembantu TA 2016.

Menjadi polisi adalah cita-citanya sejak kecil. Keinginannya untuk mengayomi dan melindungi masyarakat sudah tertanam sejak kecil. Itulah impian dari Muhamad Meka.

ENDANG, Banjarmasin

TAPI karena keterbatasan ekonomi keluarga, Ayahnya yang hanya seorang sopir dan ibunya seorang petani, tidak terbayang sama sekali dalam pikirannya bisa mewujudkan cita-citanya. Selepas tamat sekolah di SMK, Meka berpikir untuk membantu orangtuanya. Remaja yang lahir tahun 1995 itu kemudian nekat pergi merantau ke Kalimantan Selatan (Kalsel).

Meski tinggal di tempat pamannya di Landasan Ulin, Banjarbaru, ia tidak mau tergantung dengan pamannya. Semenjak tiba di Kalsel, putra pasangan Sutarso dan Suheni ini harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Bermodalkan keahlian membuat martabak, ia kemudian membuka usaha martabak di sekitar kawasan Landasan Ulin, Banjarbaru.

Meskipun belum terlalu ramai pembelinya, usaha martabak yang diberi nama Martabak Podomoro itu bisa mencukupi kebutuhan ekonominya sehari-hari. Meka memang mudah berteman. Meskipun masih belum lama menetap di Banjarbaru, dia cukup banyak memiliki teman sebayanya.

Tapi ternyata Tuhan berkata lain, setelah setahun lamanya berjualan martabak di kawasan Landasan Ulin Banjarbaru, ada temannya yang menginformasikan penerimaan bintara Polri. Semangatnya pun muncul kembali. Dia pun mulai mempersiapkan diri. Selain mempersiapkan fisik dan mental, ia juga tak lupa meminta restu kepada kedua orang tuanya di kampung. "Sebelum mendaftar saya sudah minta restu sama bapak ibu di rumah," ucapnya.

Alhasil, setelah megikuti serangkaian tes baik tertulis maupun kesehatan, kemarin (5/8) pagi, panitia pelaksana dalam Sidang Terbuka Penetapan Kelulusan Akhir Penerimaan Bintara Umum dan Bintara Khusus Penyidik Pembantu TA 2016, nama Meka dinyatakan lulus sebagai calon siswa Bintara Umum dan berhak mengikuti pendidikan di SPN Banjarmasin.

Mengetahui lulus seleksi casis, Meka tidak dapat menutupi kegembiraannya. Mulutnya terlihat terus mengucap syukur. Meka termasuk dari 160 casis Bintara Umum polisi laki (Polki) yang dinyatakan lulus, sedangkan Polwan bintara umum hanya 12 orang. Kemudian Bintara Penyidik yang lulus 5 Polki sedangkan Polwan hanya 1 orang.

Meka pun sempat berbincang langsung dengan Kapolda Kalsel Brigjen Pol Erwin Triwanto usai sidang kelulusan yang dilaksanakan di Aula Bhayangkara. Kapolda bertanya apa motivasi dirinya hingga ingin menjadi polisi? Dia menjawab dengan tegas, karena ingin mengayomi, melindungi masyarakat, mengabdi terhadap negara, pastinya ingin membahagiakan dan membanggakan bagi kedua orangtuanya.

Bapaknya selama ini berprofesi sebagai sopir, sementara ibunya juga bekerja sebagai petani untuk membantu meringankan kebutuhan ekonomi keluarga. Dia berharap kelak, setelah lepas pendidikan dan mulai bertugas sebagai polisi bisa membantu. Karena sebagai anak sulung, sudah sejatinya bisa menjadi panutan untuk adiknya.

Sutarso yang juga hadir dalam sidang kelulusan itu, terlihat sangat senang setelah tahu putranya dinyatakan lulus dan akan segera memasuki pendidikan. "Pastinya saya sangat bangga dan pastinya bersyukur dengan Allah SWT," ucapnya dengan logat Jawa yang medok. Apa yang telah diberikan oleh Allah SWT, semuanya akan saya kembalikan kepada-Nya. "Artinya apapun yang sudah diberi akan saya kembalikan kepada yang di atas," tuturnya. (gmp/tof)

Let's block ads! (Why?)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar