Rabu, 10 Agustus 2016

Kisah Pilu Maestro Topeng Cirebon

Maestro Topeng Kelana Cirebon (Kreyo) Mimi Tumus Menunjukan Kepiawaiannya (Foto: Panji)

Maestro Topeng Kelana Cirebon (Kreyo) Mimi Tumus Menunjukan Kepiawaiannya (Foto: Panji)

CIREBON, FOKUSJabar.com: Tubuhnya yang kecil dan renta tak mematahkan semangat Mimi Tumus menampilkan keluwesannya menari Topeng Kelana Cirebon. Di tengah usianya yang menginjak 80 tahun dan lebih dari 20 tahun tidak menari, Mimi Tumus baru menyatakan diri untuk siap menari.

Sang Maestro Tari Topeng Kreyo Cirebon Mimi Tumus Tetap Muda di Arena Tari (Foto: Panji)

Sang Maestro Tari Topeng Kreyo Cirebon Mimi Tumus Tetap Muda di Arena Tari (Foto: Panji)

Hal itu dibuktikan Mimi saat menghibur warga Desa Kreyo, Kabupaten Cirebon. Bahkan, Mimi sukses membuat ratusan pasangan mata tak berkedip saat menyaksikan lenggok tariannya yang super keren itu di acara Youth Environmental Award (YEA) 2016. Di usianya yang tak muda lagi itu, Maestro ini tampil maksimal menghibur para tamu undangan dari Keraton Kanoman Cirebon.

Liuk badan, langkah kaki dan tangannya konstan berpadu dengan mimik muka yang sesuai karakter tariannya. Dia mengaku sangat terkesan dalam penampilannya itu.

"Saya dirayu sama anak-anak dari Sanggar Lingkungan Hidup (SLH) yang kebetulan lokasinya dekat dengan rumah saya di Desa Kreyo. Karena sudah saya anggap mereka seperti anak sendiri, saya pun memutuskan menari lagi untuk mereka," kata Mimi Tumus belum lama ini.

Darah seni memang sudah mengalir di tubuh Mimi Tumus. Tubuh mungilnya itu seolah mendukung regenerasi kesenian topeng Kreyo dari keluarga kepadanya. Tanpa kesulitan menjalani proses, Mimi menjelma menjadi penari topeng profesional di zamannya.

"Sebelum menari saya belajar main gamelan dahulu mungkin sudah 15 tahun. Orang-orang justru menonton saya bukan menonton penarinya. Karena saya perempuan kecil sendirian dan lihai memainkan Saron (alat musik gamelan berupa bilah-bilah logam yang diletakkan di atas wadah kayu berongga, jumlah bilahnya antara 6-8 tangga nada) kanan yang sulit," kenang Mimi Tumus.

Saat itu, Tumus remaja yang sudah lihai memainkan alat musik tradisional diminta untuk belajar menari topeng oleh ibu dan 'uwaknya'. Mulanya, tawaran tersebut ditolak karena malu dan waktu itu sudah dipercaya sebagai pemain alat musik tradisional (panjak) mengiringi para penari. Seiring berjalannya waktu dia pun berubah pikiran dan bersedia berlatih tari topeng.

(Panji/LIN)

Baca Juga: Prestasi Yang Tergadai "Nasi"

Jangan Lupa Bagikan Artikel ini :

Let's block ads! (Why?)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar