
Oleh: M SUBHAN SD
Jika ingin menguji watak seseorang, berilah dia kekuasaan (Abraham Lincoln)
Sekitar bulan April 1950, Hasjim Ning dan Buyung Djalil-keluarga Bung Hatta-mengunjungi ibunda Wakil Presiden itu di Sumedang.
Siti Saleha atau Mak Tuo, ibunda Bung Hatta, saat itu tinggal bersama anak-menantunya, Sanusi Galib.
Ning dan Djalil membujuk agar sang bunda datang ke Jakarta karena Bung Hatta sudah sangat rindu. Ning usul agar ibunda Bung Hatta ke Jakarta menggunakan mobil dinas.
Namun, Bung Hatta keberatan. Orang nomor dua di republik itu menolak menggunakan mobil dinas.
Peristiwa 66 tahun lalu itu jika diceritakan ulang sekarang mungkin serasa dongeng pengantar tidur. Boleh jadi ada yang terheran-heran, sampai sebegitukah?
Padahal, mungkin juga takkan ada yang meributkan jika Bung Hatta menggunakan mobil dinas menjemput sang ibu.
Siapa yang akan mempersoalkan tokoh yang tanpanya Bung Karno pun tak berani membacakan teks Proklamasi pada 17 Agustus 1945?
Namun, Bung Hatta adalah pemimpin sejati. Jiwa besarnya tak terkikis setitik pun oleh hasrat pribadi.
Josie Darik yang menuliskan kisah itu dalam Bung Hatta, Pribadinya dalam Kenangan (1981) bahkan baru memahami pesan dan keteladanan itu setelah memperhatikan perilaku sejumlah pemimpin dunia, seperti Clement Attlee (PM Inggris 1945-1961) dan Charles de Gaulle (Presiden Perancis 1959-1969).
Menyalahgunakan kekuasaan adalah perbuatan tercela yang dapat menurunkan wibawa seorang pemimpin.
Kalau kisah Bung Hatta itu diputar ulang, bagaimana menurut Anda? Atau bandingkan saja dengan kisah-kisah saat ini.
Contoh, ya, ini contoh saja: ada menteri malah membolehkan pegawai negeri sipil menggunakan mobil dinas untuk mudik Lebaran (tetapi kemudian melarang setelah ribut-ribut), ada pimpinan dan anggota DPR minta dilayani kedutaan besar ketika dirinya atau keluarganya berkunjung ke luar negeri, ada juga pejabat tersangkut kasus etik tetapi kariernya malah berkibar terus di panggung politik.
Pemimpin sekarang memang jauh berbeda dengan tempodoeloe. Sekarang ini nyaris setiap hari dihiasi perilaku pejabat aneh-aneh, tak terpuji, sampai bermental maling (korupsi).
Pemberantasan korupsi-meminjam judul novel Mochtar Lubis-seperti "jalan tak ada ujung". Kalau ada yang ditangkap KPK, hanya dianggap sedang "apes". Dasar pikiran sontoloyo!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar