Minggu, 21 Agustus 2016

MENGINSPIRASI!! Kisah Penjual Jajanan Tradisional yang Berangkat Haj

JATUH BANGUN: Aberan dan Hamsah saat ditemui di kediamannya. (FOTO: DEVITA MAULINA/RADAR SAMPIT)

Berhaji adalah urusan panggilan. Tanpa panggilan Sang Khalik, sekaya apapun akan sulit menunaikannya. Sebaliknya, jika panggilan itu tiba, siapa kuasa menolak. Seperti halnya Aberan, yang sehari-hari hanya menjual kue tradisional. Di usia senja, panggilan itu tiba.

DEVITA MAULINA, Sampit.

Menunaikan ibadah haji adalah idaman umat muslim. Tapi untuk itu perlu biaya yang tak sedikit. Sehingga rukun Islam kelima itu hanya diwajibkan bagi yang mampu.

Namun, tak ada kata mustahil. Terutama bagi mereka yang mau berusaha dan menyimpan tekad kuat. Begitulah yang terjadi pada Aberan, pria 76 tahun yang bermukim di jalan Pandjaitan, Gg langsat No 23, Kecamatan MB Ketapang, Kotim.

Sehari-hari berjualan kue tradisional di pasar, Aberan tak menyangka niatnya menunaikan ibadah haji bisa tercapai. Bersama istrinya, Hamsah (66), dia resmi terdaftar sebagai calon jamaah haji yang diberangkatkan tahun ini.

"Tidak menyangka kalau bisa berangkat haji tahun ini. Padahal dulu, jangankan mikir naik haji, untuk makan sehari-hari saja susah," ujarnya, Kamis (18/8).

Ditemui Radar Sampit di rumah sederhananya dari kayu, Aberan bercerita tentang kenangan masa lalu. Tentang sulitnya kehidupannya dulu. Dia dan istri berasal dari Banjarmasin. Sekitar 1990, mereka merantau dan mengadu ke Palangka Raya.

Di Kota Cantik itu, dia sempat bekerja sebagai nelayan. Tetapi usahanya tersebut kurang berhasil. Sehingga akhir 1993 dia memutuskan untuk hijrah ke Sampit.

Pertama tiba di Sampit, Aberan dilanda kebingungan. Dia tidak mempunyai modal sepeser pun untuk membuka usaha. Semua pekerjaan serabutan dijalani. Sebagai penjaga di bangsau (pabrik kayu) dengan upah Rp 150 ribu sepekan pun pernah dilakukan.

Untuk tempat tinggal, dia hanya mampu menyewa sebuah barak sederhana yang terdiri dari satu ruangan berukuran 4x5 meter. Di ruangan tersebut semua aktivitas rumah tangga dilakukan. Mulai dari memasak, mencuci, makan, sampai tidur. Jika tiba waktu tidur, semua peralatan memasak maupun mencuci harus ditempatkan di luar, agar tersedia cukup tempat untuk dia, istri, dan kedua anaknya, beristirahat.

Let's block ads! (Why?)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar