Senin, 01 Agustus 2016

Remaja Putri Sragen Ini Banting Tulang Hidupi Ayah-Nenek yang Buta

Mariyem berjalan denan menggunakan tongkat didampingi Ngatimin saat di rumahnya yang terletak di Dukuh Jipangan RT 008, Desa Jambanan, Kecamatan Sidoharjo, Sragen, Jumat (29/7/2016). (Tri Rahayu/JIBI/Solopos) Mariyem berjalan denan menggunakan tongkat didampingi Ngatimin saat di rumahnya yang terletak di Dukuh Jipangan RT 008, Desa Jambanan, Kecamatan Sidoharjo, Sragen, Jumat (29/7/2016). (Tri Rahayu/JIBI/Solopos)

Kisah tragis dialami keluarga di Sragen yang hidup dalam kegelapan, tanpa bisa melihat.

Solopos.com, SRAGEN – Ummi Shalikhah, 19, remaja putri Dukuh Jipangan RT 008, Desa Jambanan, Kecamatan Sidoharjo, Sragen, bekerja menjadi buruh pabrik tekstil di PT Pan Brother Sragen.

Alumnus SMPN 6 Sragen itu membanting tulang untuk mencari nafkah buat ayahnya dan neneknya yang buta serta kakeknya yang tuli. Ibunya menjadi tenaga kerja wanita (TKW) di luar negeri yang hingga kini tak pernah memberi kabar.

Mariyem, 70, terbaring di ranjangnya yang tertutup kelambu. Ruang sempit berdinding gedek dan gebyok lawas menjadi kamarnya. Ia jarang keluar kamar meskipun di siang hari.

Ia nyaris tak bisa membedakan siang dan malam karena penglihatannya gelap sepanjang waktu sejak 10 tahun terakhir. Glaukoma membuat kedua matanya buta.

"Kami enggak pernah dapat bantuan. Padahal yang lainnya dapat," keluhnya. Perempuan tua itu bangun dari berbaringnya. Ia meraba tongkat bambunya seraya berjalan perlahan.

Gerakan tongkat menjadi mata baginya untuk menemukan jalan yang tepat. Ia bisa keluar dari kamar yang nyaris tak ada ventilasi itu.

Di depan pintu, Mariyem disambut anak laki-lakinya, Ngatimin, 44. Tangan kanan mariyem meraba kursi kumal di ruang tengah sebagai tempat untuk duduk. Ngatimin pun ikut meraba dingklik kayu di samping Mariyem.

Mereka tak mengenakan alas kaki. Lantai rumah lawas itu pun masih berupa tanah. Bahkan bambu berukuran besar menjadi penyangga rumah yang doyong ke samping barat.

Penglihatan Ngatimin juga tak normal. Syaraf retinanya terganggu sejak 12 tahun lalu. Penyakit itulah yang membuat mata Ngatimin hanya bisa menangkap bayangan. "Awalnya ginjal saya bengkak dan infeksi. Lama-lama penglihatan saya tertutup sampai sekarang," katanya saat Solopos.com bertandang ke rumahnya, Jumat (29/7/2016) lalu.

Mariyem dan Ngatimin tinggal di Dukuh Jipangan RT 008, Desa Jambanan, Kecamatan Sidoharjo, Sragen. Rumah itu juga dihuni suami Mariyem, Kerto Tamban, 80, yang total tak bisa mendengar. Kakek-kakek itu berkomunikasi dengan bahasa isyarat karena masih bisa melihat.

Buruh Pabrik

Pasangan Slamet Sujadi, 37, dan Tumiyati, 36, tinggal di rumah tembok di samping timur rumah Ngatimin. Mereka adik Ngatimin. Merekalah yang membantu memasak untuk kebutuhan makan dan minum keluarga Ngatimin.

Selain itu, Ngatimin masih memiliki seorang anak gadis, Ummi Shalikhah, 19, yang menjadi buruh di pabrik tekstil PT Pan Brother Sragen. Alumnus SMPN 6 Sragen itulah yang membanting tulang untuk mencari nafkah buat ayahnya dan kedua simbahnya.

"Upahnya Rp1,105 juta per bulan. Kalau lembur ya sampai Rp1,7 juta per bulan. Dengan upah segitu ya hanya pas-pasan karena saya masih memiliki tanggungan utang untuk biaya berobat dulu dan untuk kebutuhan sehari-hari. Sebenarnya dokter menyarankan saya ke RS dr. Sarjito Jogja, tetapi saya tidak punya biaya," kata Ngatimin.

Untuk menambah penghasilan keluarga, Ngatimin nekat bekerja sebagai tukang pijat panggilan. Jasa tukang pijat itu hanya dihargai Rp20.000/orang. Kalau kesehatannya baik, ia bisa melayani sampai lima orang pelanggan.

Bila kondisi kesehatannya menurun, ia melayani dua orang saja sudah susah payah. "Pagi dapat upah sore sudah habis. Atau sebaliknya sore dapat upah paginya sudah habis. Begitu seterusnya," ujarnya.

Sejak matanya sakit, Ngatimin pun ditinggalkan istrinya. Semula istrinya menjadi tenaga kerja wanita (TKW) di luar negeri. Pada periode pemberangkatan TKW kali kedua, istrinya sudah tak memberi kabar sampai sekarang. Bahkan disapa anaknya pun lewat Facebook sudah enggan menanggapi.

Belakangan Ngatimin sering mengeluh sakit di bagian retinanya. Ketika sakit itu kambuh, kata dia, sering kali berdampak pada naiknya tensi darah. "Kalau sudah nggliyer seperti vertigo itu, saya tak berani ke mana-mana," katanya.

Slamet Sujadi membantu ekonomi keluarga kakaknya dengan berjualan makanan setiap pagi. Penghasilan dan sisa dagangannya bisa untuk kebutuhan makan sehari-hari dua keluarga besar itu. Slamet berharap ada uluran tangan dermawan untuk membantu nasib keluarganya.

Lowongan Kerja
SHIPPING YANG BERPENGALAMAN, informasi selengkapnya

KLIK DISINI

Berita Terkait

Let's block ads! (Why?)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar