Minggu, 21 Agustus 2016

Wow, rokok linting ternyata diciptakan Roro Mendut

MAKASSAR – Ribut-ribut dan kisruh tentang wacana kenaikan harga rokok hingga Rp 50 ribu menuai kontroversi dari berbagai kalangan di Tanah Air. Beberapa pejabat dan petinggi nasional seperti anggota DPR angkat suara. Menurut mereka, naiknya tarif cukai rokok berkali-kali lipat dari harga sebelumnya, akan menghancurkan industri rokok dan mengakibatkan pengangguran para pekerja rokok.

Pro dan kontra mengemuka. Dari kalangan dan praktisi kesehatan, tentu wacana tersebut patut diapresiasi. Pasalnya, dengan murahnya harga rokok kalangan manapun tidak terkecuali anak-anak, dapat menjangkau barang yang dianggap dapat merusak kesehatan tersebut, bahkan menjadi salah satu "mesin" pembunuh nomor satu di dunia versi WHO.

Gonjang-ganjing yang menyebar dengan cepat di dunia maya itu, juga ditanggapi netizen dengan beragam komentar. Termasuk, mengajak para penikmat asap tembakau agar kembali ke "tempo doeloe" untuk menikmati rokok lintingan yang murah meriah. Bahkan, mereka membuat gerakan untuk kembali ke "rokok linting".

Penelusuran MAKASSATERKINI.com, salah satu grup di Facebook, Komunitas Pecinta Rokok Lintingan (Koprol) sudah ramai berkoar-koar untuk mengajak pecinta rokok untuk kembali menikmati rokok tradisional khas Nusantara itu.

Lihat Juga : Wow, ini daftar harga rokok yang "sadis" mahal

Di beberapa daerah di Sulawesi Selatan (Sulsel), rokok lintingan kerap disebut "ico", khususnya di Kabupaten Bone. Rokok linting yang merupakan cikal bakal rokok modern (bungkus) ini memang sudah jarang ditemui. Namun, di beberapa daerah terpencil masih bisa dijumpai, dan biasanya dikonsumsi hanya orang-orang tua di desa.

Tetapi, tahukah Anda jika sebenarnya rokok lintingan diciptakan Roro Mendut di zaman Mataram dulu? Memang, tidak banyak sejarah yang mengupas terkait rokok lintingan ini. Namun, seorang pemerhati budaya dan sejarah Tanah Air, almarhum Yusuf Bilyarta Mangunwijaya yang lebih akrab disapa Romo Mangun ini pernah menerbitkan novel sejarah Roro Mendut. Dalam novelnya, ia menceritakan kisah kehidupan Roro Mendut termasuk usaha rokok linting yang dirintisnya pada zaman keemasan Kerajaan Mataram.

Film Roro Mendut karya sutradara Ami Prijono (1982) / Foto: IstFilm Roro Mendut karya sutradara Ami Prijono (1982) / Foto: Ist

Novel Romo Mangun sempat diangkat menjadi film karena dianggap dapat mewakili salah satu sejarah Nusantara. Film tersebut berjudul "Roro Mendut".

Roro Mendut adalah film drama tragedi romantis yang disutradarai Ami Prijono dan diproduksi pada 1982, dibintangi Meriam Bellina sebagai Roro Mendut, Mathias Muchus sebagai Pronocitro, dan WD Mochtar sebagai Tumenggung Wiroguno.

Cerita film ini berlatar abad ke-17 di Kesultanan Mataram (di era Republik Indonesia, kerajaan ini terletak di Pulau Jawa dan berpusat di Jawa Tengah). Kisah bermula tentang cinta Roro Mendut yang selalu diinginkan Tumenggung Wiroguno, namun Roro Mendut tidak mencintainya karena lebih mencintai Pronocitro, cinta sejatinya.

Roro Mendut dan Pronocitro melarikan diri dari kungkungan tembok Mataram, dan membuat Wiroguno murka. Keinginan Wiroguno untuk menangkap kembali Roro Mendut kemudian bukan sekadar urusan pribadi cintanya, namun untuk menegakkan citra keagungan dan kekuasaan Mataram atas Kadipaten Pati yang memberontak terhadap Mataram.

Roro Mendut adalah seorang wanita muda cantik dan salah satu rampasan kekayaan dari Kadipaten Pati yang diboyong ke Mataram setelah berakhirnya perang antara Kesultanan Mataram dengan Pati. Karena kemenangan gemilang tersebut, Sultan Agung berkenan menghadiahkan semua hasil rampasan perang itu kepada Tumenggung Wiroguno, panglima perangnya yang berhasil memimpin penumpasan pemberontakan Kadipaten di pantai utara Jawa di abad-17 tersebut.

Wiroguno yang sangat terpukau kecantikan Roro Mendut tidak bisa menikmati hadiah tersebut sepenuhnya, karena Roro Mendut menolak untuk dijadikan selir. Wiroguno sangat terpukul dan merasa runtuh harga dirinya sebagai panglima tertinggi Mataram karena ditolak Roro Mendut. Demi menegakkan wibawa dan harga dirinya, Wiroguno menghukum Roro Mendut untuk membayar pajak yang sangat besar jumlahnya.

Ternyata, Roro Mendut selalu bisa memenuhinya. Caranya dengan mengisap dan menjual rokok linting di sebuah warung tertutup di pasar rakyat. Makin pendek batang rokok yang diisap, makin mahal harganya. Karena populernya rokok yang dijual Roro Mendut, konon rokok itu dianggap cikal bakal rokok linting yang beredar di Nusantara hingga saat ini.

Suatu ketika, Roro Mendut bertemu dan jatuh cinta dengan Pronocitro. Namun, hubungan cinta mereka terhalang kungkungan tembok Mataram dan harga diri Tumenggung Wiroguno. Pronocitro mencari siasat dengan menghamba kepada Tumenggung Wiroguno. Dalam puncak cerita, ia mengajak Roro Mendut melarikan diri, mencari kebebasan dan kebahagiaan bersama keluar dari kungkungan tembok Mataram.

Wiroguno sangat murka. Ia bertekad menangkap Roro Mendut kembali, bukan semata-mata karena persoalan harga diri dan wibawa pribadi, namun demi menegakkan citra keagungan dan kekuasaan Mataram yang jaya atas daerah Kadipaten Pati.

Kisah cinta Roro Mendut dan Pronocitro kemudian harus berakhir tragis di ujung keris, namun kisah cinta mereka menjadi abadi dan menjadi simbol teguhnya pendirian insan Nusantara kala itu.

Comments

Let's block ads! (Why?)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar