Senin, 31 Oktober 2016

Kisah dari Kampung Persaudaraan: Harmoninya 3 Agama dalam Keluarga Kotong

BERITA TERKAIT

  • Belajar Toleransi dari Kampung Persaudaraan: Semeja Bahas Tiga Kitab Suci

JawaPos.com - Perbedaan keyakinan dalam keluarga besar pasangan suami istri (pasutri) mendiang Seman Kotong dan Pintje Pengki bisa menjadi potret harmonisnya kehidupan di Kampung Sawah, Jati Murni, Pondok Melati, Kota Bekasi.

Yakni, tiga agama dalam satu rumah. Fakta itu sejatinya menjadi pelajaran untuk saling menghormati dalam pilihan masing-masing. Anak dan cucu keluarga Kotong sudah beranak pinak. Di antara mereka, ada penganut Islam, Kristen Protestan, dan Katolik.

Hal itu berlangsung selama puluhan tahun. Namun, perbedaan tersebut tidak membuat keluarga itu pecah. Keharmonisan persaudaraan terus menyelimuti keluarga mereka.

Kondisi itu membuat keluarga tersebut lebih berwarna. Berbagai tradisi keagamaan sering dilakukan bersama. Mereka saling mendukung. Selain itu, saling mengingatkan jika ada yang lalai menjalankan ibadah. "Misalnya, mengingatkan untuk salat atau ke gereja," kata Yosua Andi Kotong yang didampingi adiknya, Nini dan Dadang Kotong, kemarin (30/10).

Andi Kotong merupakan putra pertama pasutri mendiang Seman Kotong dan Pintje Pingke. Awalnya, dia memeluk Kristen Protestan. Sama dengan keyakinan orang tuanya. Namun, pada 1984, keyakinannya berubah. Setelah menikah, pria 65 tahun itu memeluk Katolik karena mengikuti sang istri.

Proses panjang dialami Andi. Sebab, urusan agama bukan persoalan sepele. Dia berunding dengan keluarga besarnya. Terutama dia meminta pendapat orang tuanya. Hal tersebut dilakukan agar Andi tidak salah melangkah. Perundingan itu menuai hasil. Pihak keluarga menyetujui keputusannya.

Let's block ads! (Why?)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar