
JAKARTA - Jumat siang itu begitu cerah..riuh orasi dari para habib dan kyai meneriakkan kata-kata penjarakan Ahok menggelegar di langit Jakarta. Jumat itu begitu penuh berkah, ribuan orang seIndonesia demi satu keinginan meminta polisi mengusut tuntas kasus Gubernur DKI Basuki Cahaya Purnama karena diduga menistakan Alquran Surat Almaidah ayat 51 di Kepulauan Seribu.
Aksipun berjalan damai dan tertib, tak tampak aksi dorong-dorongan, yang ada sikap saling melindungi satu sama lain.
Perempuan diberikan jalan lebih dahulu, ayah yang menggendong anaknyapun diberikan prioritas, para laskar bertindak layaknya tour guide dengan senyum dan penuh keramahan. Beberapa laskar menjaga persimpangan jalan yang berpotensi terjadinya tabrakan antar massa. Tak luput para PKL juga menjadi perhatian para laskar dakwah ini dengan melindungi mereka dari kepadatan arus massa.
Haus dan lapar tak jadi soal karena sepanjang jalan sudah berdiri relawan yang menawarkan minuman dan makanan. "ini makanan dan minuman pak silahkan diambil semangat ya pak" kata seorang petugas, semua saling melempar senyum dan menyapa satu dengan yang lain, bahkan sesama peserta aksi saling menawarkan minuman dan makanan, mereka saling mengenalkan diri dan daerah asalnya.
Suplai makanan dan minumanpun tidak berhenti terus mengalir menghampiri para pendemo. Relawan begitu bersemangat menyediakan logistik untuk peserta aksi bela Islam. Hanya saja, ketika konsentrasi massa sudah berkumpul di depan istana, suplai logistik terhambat karena tidak ada lagi jalan untuk distribusi. Massa begitu padat namun tertib duduk atau berdiri mendengarkan orasi dari mobil komando.
Justru dalam keterbatasan persediaan air itulah saya melihat bagaimana seorang muslim memperlakukan saudaranya yang lain. Bagi yang memiliki persediaan air, selalu berusaha menawarkan ke orang-orang sekitarnya sebelum dia minum. Itupun tidak mudah menawarkan, karena yang ditawarkan hanya mengangguk lalu menolak dengan halus agar pemilik air menawarkan airnya ke orang lain dulu.
Waktu solat Asharpun masuk, lautan massa mulai mengantri ke toilet, antrian wudhu dan semua sangat teratur. Ingat lho,.. jumlah massa sudah ratusan ribu bahkan jutaan orang, yang melakukannya dengan tertib dan teratur. Seluruh muslim baik itu polisi dan pendemo tumpah ruah melaksanakan sholat Ashar berjamaah, bahkan ada peserta demo yang menjadi Imam dan makmumnya polisi, seluruhnya bersatu dalam suasana ibadah dan syiar Islam.
Memasuki waktu solat maghrib, beberapa peserta aksi mulai haus sementara jalan keluar untuk mencari air sudah tertutup. Bagi pendemo yang memiliki dua botol air mineral dengan senang hati menawarkan air kepada teman yang lain. Lalu apa yang terjadi? Peserta hanya minum satu atau dua tenggak saja sehingga beberapa orang hanya menghabiskan setengah botol saja.
Waktu Isyapun masuk, polisi mulai menembakan gas air mata ke tengah massa. Banyak peserta yang matanya perih, termasuk saya, bahkan ada yang muntah. Ada sebagian pendemo menyiram air ke matanya. Saya sendiri lalu mengoleskan odol ke mata agar menetralisir efek gas air mata.
"Air...air...air..", banyak peserta yang berteriak meminta pertolongan. Beberapa orang yang masih memiliki sisa persediaan air berlomba berikan pertolongan. Dengan sekuat tenaga pendemo inipun mencoba menggunakan sisa air di tasnya untuk menolong. Tahu apa yang terjadi? Satu setengah botol air bisa dimanfaatkan untuk banyak orang, karena peserta yang terkena efek gas air mata hanya menggunakan air sedikit mungkin untuk dirinya, lalu memberikan ke peserta aksi yang lain, yang mual hanya minum satu teguk, lalu memberikan ke orang lain. Bahkan ada peserta yang memiliki persediaan air membasahi sorbannya agar bisa lebih banyak menolong dengan cara mengelap mata korban dengan sorban yang basah tadi. Tidak hanya itu, ketika hujan gas air mata semakin banyak dan mata makin perih, dan ketika odol sudah habis, banyak peserta aksi yang sudah mengoleskan odol di sekitar matanya, tiba-tiba mengelap odol dari wajahnya agar bisa dioleskan ke wajah orang lain.
Kaum muslimin saling melindungi saudaranya dari hujan gas air mata. Beberapa lelaki membuat lingkaran kecil untuk menjadi tameng bagi peserta aksi perempuan. Beberapa orang kemudian berlari mengejar peluru gas air mata yang datang, menginjak-injaknya agar tidak mengeluarkan gas lebih banyak. Tidak hanya itu, jika dari udara terlihat gas air mata yang akan jatuh ke massa, para peserta aksi saling menarik saudaranya agar terhindar, bukan berlari menyelamatkan diri sendiri padahal dalam kondisi yang gawat.
Persediaan air habis, beberapa orang mencoba mengais botol-botol kosong yang berserakan di jalan sambil berharap siapa tahu masih ada setes air yang bisa digunakan untuk menetralisir gas di mata atau mual di mulut. Hingga aksi dipindahkan ke gedung DPR dan bubar di waktu shubuh. Jadi teringat pelajaran di sekolah tentang kisah heroik muslimin dalam peperangan di awal-awal sejarah Islam. Dimana dalam sebuah peperangan ketika ada prajurit terluka yang sedang ditolong dengan diberikan air, prajurit itu meminta agar air diberikan ke prajurit lain yang lebih membutuhkan. Ketika air ingin diberikan ke prajurit kedua, sang prajurit pun meminta agar air diberikan ke prajurit yang lebih sekarat, hingga akhirnya para prajurit itu satu per satu meninggal demi mengutamakan saudaranya yang lain.
Dalam aksi ini tidak ada sekat, tidak saling mengenal, tidak mementingkan diri sendiri, tapi saling melindungi. Para peserta akasi banyak mendapatkan pengalaman betapa murninya persaudaraan dala
PADANG - Upaya membangkitkan sepakbola Indonesia di kalangan Mahasiswa, Torabika Capucino gelar ajang kompetisi sepak...
PADANG - Semen Padang FC hanya membawa dua kiper muda, saat menantang Sriwijaya FC (SFC) dalam laga lanjutan Indonesia...
JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) mendadak berkunjung ke kediaman Ketua umum Gerindra Prabowo Subianto, siang...
PADANG PARIAMAN - Sebuah asrama yatim milik Muhammadiyah di Jalan Raya Bukittinggi Padang, Lubuk Alung, Sumatera Barat...
PADANG PARIAMAN -- Penutupan semarak pekan Muharam 1438 sekaligus penyerahan hadiah lomba di Masjid Raya Mujahidin...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar