
PROKAL.CO, Menjadi bidan di kawasan pedesaan adalah profesi yang sangat mulia. Bagaimana tidak, panggilan kemanusiaan untuk menolong para ibu yang akan melahirkan tidak bisa ditolak. Tidak pernah menyerah dan putus asa, menjadi tekad Lia Mariyati (23), bidan yang bertugas di Puskesmas Desa Sebakung Taka, Kecamatan Long Kali, Kabupatan Paser.
SUSIANTO
SELAIN menjadi tenaga bidan tetap di puskesmas, Mariyati juga kerap dipanggil oleh warga untuk menangani persalinan. Jika sudah seperti itu, dirinya tak pernah bisa menolak meski waktunya tengah malam. Berbagai pengalaman dan situasi didapatkannya semenjak bertugas di Desa Sebakung Taka, Kecamatan Long Kali.
"Saya biasa dipanggil tengah malam untuk melakukan persalinan. Tidak ada kata menolak, apalagi ini menyangkut keselamatan si ibu. Jadi enggak perduli tengah malam, mau jauh atau dekat, tetap jalan," tutur bidan kelahiran Long Kali 25 tahun lalu itu.
Meski tidak ada yang menemani, Mariyati tetap berangkat ke tempat tujuan. Dia menyerahkan semuanya kepada Allah SWT. Jika rasa takut menghampirinya, utamanya saat menerobos gelapnya malam di tengah areal persawahan, Mariyati membuang rasa itu jauh-jauh demi menunaikan tugasnya.
"Saya naik sepeda motor, tapi jalan yang dilewati gelap, licin, sepi, dan sudah pasti timbul rasa takut. Tapi untuk menyelamatkan seseorang, saya harus berjuang sampai ke tujuan. Rasa takut dan capek itu terbayarkan di saat mendengar suara tangisan bayi serta proses persalinannya lancar," beber Mariyati menceritakan pengalamannya selama bertugas di Sebakung Taka, sejak 2012 lalu.
Wanita yang pernah mendapat penghargaan oleh gubernur Kaltim sebagai bidan pelopor wilayah perbatasan, ini mengaku tidak jarang dirinya merasa khawatir. Misalnya, ketika menangani ibu hamil dengan usia kandungan prematur. Dan saat dia menyarankan untuk segera dirujuk, namun sang suami ibu hamil bersikeras tak menyetujui hal itu dilakukan.
Dikatakan Mariyati, awal-awal dia bertugas, warga masih banyak yang memanggil dukun untuk melakukan persalinan. Sementara targetnya harus melahirkan melalui tenaga kesehatan. Namun, kini warga sudah memahami bagaimana pentingnya kehadiran seorang bidan. Hal ini melalui kesepakatan yang difasilitasi oleh Pemeritah Desa Sebakung Taka, bahwa bidan dan dukun harus bermitra dalam menangani persalinan.
"Kita harus bermitra dengan dukun, karena di Sebakung Taka masih banyak dukun bayinya. Dulu itu terkadang masih terbagi antara bidan dengan dukun untuk melakukan persalinan. Sehingga, kita harus bermitra," tutupnya. (*/rus/k1)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar