Senin, 07 November 2016

Kisah Jubaedah, Warga Kelapa Gading yang Tinggal di Rumah Kumuh

Jubaedah menempati rumah di Kelapa Gading sejak lahir. Keterbatasan biaya membuat kondisi rumahnya kian memprihatinkan.

KELAPA GADING – Kondisi rumah Jubaedah (56) di Jalan Haji Oyar RT 002 RW 02, Kelurahan Pegangsaan Dua, Kelapa Gading, Jakarta Utara tampak memprihatinkan. Timpang dengan rumah-rumah yang ada disekelilingnya. Cenderung terkesan megah. Atau paling tidak, layak ditempati.

Dindingnya hanya berupa triplek, bukan susunan bata merah. Atapnya dari seng yang sudah berkarat dan berlubang di beberapa bagian. Bahkan, kondisinya sudah nyaris roboh saat ini.

Di rumah seluas 42 meter persegi ini, Jubaedah tinggal bersama suami, anak, menantu, dan dua cucunya. Apa daya, kondisi perekonomian yang cenderung pas-pasan, membuat Jubaedah dan keluarga tidak mampu merenovasi.

Suaminya menderita sesak nafas. Tidak mungkin untuk bekerja berat. Anaknya hanya bekerja sebagai petugas Penanganan Prasarana Sarana Umum (PPSU) Kelurahan Pegangsaan Dua.

"Gimana mau renovasi, mau makan saja susah. Rumah ini peninggalan orangtua. Saya lahir di sini. Dari dulu, memang belum pernah diperbaiki. Kalau hujan, atap bocor dan air masuk ke dalam. Terus juga sering banjir. Kalau sudah basah semua, kami tidak  ke mana-mana dan terpaksa bertahan di sini," katanya.

Pertolongan Datang

Beruntung, pertolongan datang. Petugas puskesmas yang datang mengobati suaminya terkejut melihat kondisi rumah. Terlebih, ketika itu, sedang ada genangan. Hampir setiap hari air selalu merembes ke dalam rumah.

Tim puskesmas langsung melaporkan hal ini ke petugas kelurahan. Satu pekan kemudian, tim kelurahan datang melihat lokasi dan menyampaikan bahwa pemerintah kota akan merenovasi rumah Jubaedah.

"Saya langsung menangis. Saya bahagia. Sebelumnya, saya sempat putus asa, kenapa rumah selalu ada genangan air. Alhamdulillah, ternyata pemerintah mau membantu. Sekitar akhir Oktober, rumah saya langsung dibedah," ungkap Jubaedah.

Semua dindingnya diganti batako. Begitupun atapnya, menggunakan baja ringan dan asbes.

Kini, proses renovasi sudah masuk tahap finishing. Kondisinya sudah jauh lebih layak. "Saya ingin anak anak bisa kumpul kembali, rasanya sedih saat Lebaran lalu orang-orang merayakan, lah kita malah basah-basahan kebanjiran," pungkasnya.

Let's block ads! (Why?)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar