Rabu, 09 November 2016

Kisah Wanita Cantik Asal Tenggarong yang Menjadi Cinta Terakhir Bung Karno

BANJARMASINPOST.CO.ID - Suatu pagi yang panas di tahun 1957, di sebuah rumah besar di Jalan Mangkurawang 9, Tenggarong, Kutai Kertanegara, Kalimantan Timur, Heldy, gadis kecil berusia 10 tahun, menangis meraung-raung gara-gara tak diajak kakak-kakaknya ke Samarinda. Hari itu, Presiden Sukarno berpidato di alun-alun Samarinda.

Sang kakak tak mengizinkan Heldy pergi karena selain perjalanan ke Samarinda hanya bisa dengan kapal menyusuri Sungai Mahakam selama dua jam, suasana akan sangat ramai setiap kali Presiden Sukarno berpidato.

Maka Heldy hanya bisa mendengarkan pidato Bung Karno di radio. Bagi Heldy, yang penting bukanlah isi pidato, melainkan kebesaran dan ketokohan sosok yang fotonya banyak terpasang di dinding rumah orangtuanya itu.

Diramal akan mendapat orang besar

Lahir sebagai bungsu dari sembilan besaudara anak-anak pasangan H. Djafar yang seorang pemborong terpandang di Tenggarong dan Hj. Hamiah, pada 10 Agustus 1947, Heldy merasa selalu mendapat curahan perhatian keluarga. Kakak-kakaknya adalah Zubaedah (perempuan), Erham (laki-laki), Milot (perempuan), Ruslan (laki-laki, sering dipanggil Yus). Badrun (laki-laki), Johan (laki-laki), Abu (laki-laki), dan Erni (perempuan).

Ketika mengandung Heldy, Hj. Hamiah sempat melihat bulan purnama bulat utuh. Lalu teman ayahnya, seorang pria Tionghoa, mengatakan, "Nanti kalau bayimu lahir, harus dijaga ya, sampai dia beranjak dewasa."

Saat Heldy duduk di bangku SMP, seorang tante (dalam bahasa Kalimantan adalah "mbok"), Mbok Nong, yang dianggap pandai meramal, mengatakan kepada Ibu Heldy, "Wah, anakmu ini kelak jika dewasa akan mendapatkan orang besar. Jadi tolong dijaga baik-baik ya."

Si bungsu yang cantik dan berkulit putih itu selalu dilindungi dan dimanjakan. Ketika remaja, Heldy juga pandai mengaji hingga memenangi lomba
baca Al Quran. Ayahnya paling senang merasakan kakinya dipijat si bungsu sambil melafazkan ayat-ayat Al Quran, sampai terlelap.

Buku Heldy Jafar Cinta Terakhir Bung Karno
Buku Heldy Cinta Terakhir Bung Karno

Tamat sekolah dasar (waktu itu disebut Sekolah Rakyat), Heldy melanjutkan ke SMP Gunung Pedidi di Jln. Rondong, Demang, Tenggarong. Menjelang naik ke kelas 3, terjadi proses nasionalisasi perusahaan-perusahaan Belanda. Ayah Heldy yang bekerja di perusahaan Belanda Oost Borneo Maatschapij (OBM) pun berhenti. Dalam rangka mencari pekerjaan, H. Djafar memboyong keluarganya pindah ke Samarinda. Heldy pun meneruskan kelas 3 SMP-nya di sebuah sekolah Katolik di Samarinda.

Setelah lulus SMP, Heldy yang sudah tumbuh menjadi remaja putri 16 tahun dan berperawakan mungil itu pun pergi mengikuti jejak kakak-kakaknya ke Jakarta untuk menuntut ilmu. Cita-citanya menjadi desainer interior. Dari Samarinda naik kapal menyusuri sungai menuju Balikpapan, lalu dari Pelabuhan Semayang, Balikpapan, naik kapal laut Naira yang besar. Heldy ditemani Milot dan Izhar, iparnya, serta bayi satu bulan anak terkecil Milot, Achmad Rizali Noor. Berlayar sepanjang malam menuju Surabaya, dan dari sana disambung naik kereta api sehari semalam ke Jakarta.

Let's block ads! (Why?)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Incoming Search