Judul : Kiai Sholeh Darat
Penulis : Taufiq Hakim
Penerbit : Institute of Nation
Development Studies
Cetakan : November, 2016
Tebal : XXI + 242 Halaman
ISBN : 978-602-74816-8-8
Kecuali kaum santri, kiai atau ulama, tidak banyak orang tahu sosok Kiai Sholeh Darat. Padahal kontribusi Kiai Sholeh Darat dalam perjuangan bangsa cukup besar. Beberapa santrinya menjadi ulama dan pejuang kemerdekaan.
Muhammad Sholeh bin Umar lahir di pesisir utara Jawa, daerah Kedung Cumpleng, Kecamatan Mayong, Jepara, Jateng, tahun 1820 (hal 16). Ayahnya bernama Kiai Umar bin Tasmin pernah menjadi mitra perjuangan Pangeran Diponegoro. Kiai Umar dipercaya sebagai penasihat Diponegoro. Dia juga menjadi prajurit tempur Diponegoro untuk kawasan pantai utara (hal 34). Perjuangan melawan penjajah ini menurun kepada Sholeh.
Sejak kecil, Sholeh dididik ayahnya dan sejumlah kiai. Menginjak remaja, dia belajar ke Mekkah dan Madinah. Memang pada abad-19 Mekkah dan Madinah menjadi bidikan santri. Saat di Mekkah, dia berteman dengan ulama, seperti Syekh Nawawi Al-Bantani dan Kiai Kholil, Madura (hal 46).
Pada tahun 1870-an, Sholeh pulang kampung diajak Kiai Hadi Girikusomo. Sesampai di Jawa, Sholeh menetap di Kampung Mlayu Darat, Semarang. Dia mendirikan pesantren darat (hal 79). Dari nama daerah itulah, Kiai Sholeh lebih dikenal dengan nama Kiai Sholeh Darat atau Mbah Sholeh Darat.
Langkah Sholeh Darat dalam memajukan pendidikan di Jawa bukan tanpa rintangan, pemerintah kolonial mengawasi dengan ketat. Meskipun begitu, niatnya tak pernah surut. Sholeh Darat menerapkan langkah strategis jangka panjang dengan menanamkan nilai-nilai perjuangan. Hasilnya, para santri didikannya kemudian banyak menjadi pejuang kemerdekaan, di antaranya KH Hasyim Asy'ari dan KH Ahmad Dahlan (hal 102).
Kiai Sholeh banyak menulis karya-karyanya dengan huruf pegon (tulisan Arab berbahasa Jawa) (hal 154). Salah satu murid yang terkenal adalah tokoh emansipasi wanita, RA Kartini. Menurut Kartini, dia mengajar dengan baik (hal 175).
Sejak itu, Kartini mulai sering ikut dalam pengajian Sholeh Darat. Bahkan, dia disebut-sebut sebagai salah satu santri istimewa. Sholeh juga memberi kado saat Kartini menikah. Buku ini menyampaikan perjuangan seorang kiai dalam memajukan pendidikan tanah Jawa.
Diresensi Mawardi Purbo Sanjoyo, Alumnus Program Pascasarjana Ilmu Sejarah Universitas Gadjah Mada
Tidak ada komentar:
Posting Komentar