Selasa, 10 Januari 2017

Kisah Perjuangan Sahran Menangkan Pertarungan Melawan Buaya Sungai Mentaya

Sahran ketika menunjukan lokasi terjadinya serangan buaya kepada petugas BKSDA Kotim, belum lama ini. (SONI/KALTENG POS)

PROKAL.CO, SAHRAN tidak akan pernah melupakan insiden serangan buaya yang nyaris merenggut nyawanya. Apalagi hewan buas itu telah menghilangkan jari tengah tangan kirinya. Meski begitu, warga Kecamatan Pulau Hanaut ini telah kembali beraktifitas di Sungai Mentaya meski sempat dihantui perasaan trauma

SONI, Sampit

Pasca serangan itu, tim dari Badan Konservasi Daerah Sumber Daya Alam (BKSDA) Kotim langsung bergerak melakukan pelacakan. Termasuk meminta keterangan dari korban.

Korban yang sehari-hari sebagai pemetik buah kelapa ini menceritakan, serangan terjadi saat ia turun ke tepi sungai untuk mencuci tangan. Lokasi serangan hanya berjarak sekitar 200 meter dari rumahnya.

Saat asyik membasuh tangan dan pakaiannya sekitar pukul  20.00 wib, tiba-tiba saja ia disambar buaya. Korban mengaku sempat diseret dan dibawa ke tengah sungai, namun dilawan dengan menarik tangannya sendiri. Korban juga berpegangan tonggak kayu yang berada di lokasi kejadian sembari berteriak meminta tolong.

Alhasil akibat gigitannya  jari telunjuk, tengah dan jari manis tangan sebelah kiri harus diamputasi. "Saya harus merasakan sakit yang luar biasa karena gigitan buaya. Daripada saya yang terseret, lebih baik beradu kuat dengan buaya sampai jari putus," ucap Sahran.

Sahran tidak pernah menyangka harus berhadapan dengan buaya yang selama ini ditakuti oleh semua warga pinggiran sungai. Apalagi selama ini hanya mendengar dan mendapatkan cerita dari warga maupun korban gigitan buaya,namun kali ini harus mengalaminya sendiri.

Rasa trauma dan ketakutan menghantuinya hingga tidak ingin bekerja dan takut untuk mandi disungai. Tetapi karena harus mencukupi kebutuhannya mau tidak mau harus kembali bekerja dengan resiko yang harus dihadapinya. Tetapi sedikit lebih berhati-hati agar tidak menjadi korban lagi.

"Saya tidak berani lagi ke sungai pada malam hari dan paling sekitar sore hari. Rasa ketakutan dan trauma memang sempat menghantui tetapi inilah resiko tinggal di pinggir sungai," jelasnya. (ang)

Let's block ads! (Why?)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar