Kamis, 26 Januari 2017

Kisah Tri Pamoedjo 14 Tahun Mendampingi Anak Berhadapan dengan Hukum

MENURUT data Badan Pemasyarakatan (Bapas) Kelas I Surabaya, jumlah anak berhadapan hukum (ABH) meningkat dari tahun ke tahun. Tidak saja dari segi jumlah. Kualitas kasus yang mereka hadapi juga cukup pelik.

Betapa tidak, sepanjang 2016 saja, ada 500 anak yang membutuhkan pendampingan. Jangan heran bila Seksi Bimbingan Klien Anak Bapas Kelas I Surabaya juga kian repot.

Selain membuat penelitian kemasyarakatan, mereka harus mendampingi anak-anak tersebut saat duduk di bangku sidang. Bisa dibayangkan betapa repotnya. Maklum, selama ini hanya ada sebelas orang yang bertugas mendampingi para ABH tersebut.

Di antara sebelas orang itu, ada satu sosok yang tidak kalah sibuk. Dia adalah Kepala Seksi Bimbingan Klien Anak Bapas Kelas I Surabaya Tri Pamoedjo. ''Anak-anak semakin nakal. Tapi, mereka tetap harus didampingi bagaimanapun keadaannya,'' katanya.

Siang itu, Selasa (17/1), Tri memang sedang banyak kerjaan. Namun, dia masih menyempatkan diri untuk bertemu dengan Jawa Pos. ''Meski banyak kerjaan, tetap harus dinikmati,'' ujarnya.

Mendampingi ABH memang bukan cita-cita pria kelahiran Magetan tersebut. Keinginan utamanya adalah mengabdi untuk negara sebagai serdadu TNI. Namun, dua kali dia tidak lolos tes kesehatan. Hal itu membuatnya sedikit kecewa. ''Saya pun memutuskan untuk kuliah saja,'' kenangnya.

Jurusan yang dipilih pun sama sekali tidak berkaitan dengan anak-anak, yaitu hubungan internasional. Dia mengasah ilmu diplomasi dan negosiasi tersebut di Universitas Jember. Sebab, Tri gemar membaca berita luar negeri sejak kecil. ''Dulu waktu baca koran, yang dicari selalu berita internasional,'' ujar Tri yang besar di lingkungan keluarga guru.

Setelah menyelesaikan pendidikan, dia memilih bekerja. Tri cukup selektif, hanya memilih perusahaan dengan gaji tinggi. Tapi, dia tidak kunjung diterima. Akhirnya, karena kepepet, dia sempat bekerja sebagai penjaga wartel. ''Dulu terlalu idealis. Jadi, susah diatur,'' tuturnya.

Sampai suatu saat, ayahnya menegur Tri. Intinya, sang ayah ingin anaknya memikirkan kembali pekerjaan yang dipilihnya. Ayahnya pun merekomendasikan untuk bekerja di Kementerian Kehakiman. Saat itu ada lowongan, tapi belum jelas ditempatkan di mana. ''Ternyata ditempatkan di sini. Ya sudah, terima saja,'' ujarnya.

Suami Dwi Rini Widyastuti tersebut bekerja sejak 1993. Awalnya berposisi di bagian umum. Selama sepuluh tahun dia mengurus administrasi di bapas. Pada 2013, dia dipromosikan untuk menjadi pembimbing klien anak. ''Sebenarnya tidak pernah mikir bakal ngurusi anak-anak,'' katanya.

Dia kaget. Pria yang hobi bermain voli itu tidak punya latar belakang menangani perkara anak. But, the show must go on. Dia belajar secara otodidak. Satu per satu pasal yang menyangkut peradilan anak dipelajarinya. Tidak tertinggal tentang psikologi anak. ''Sempat susah juga membuat penelitian kemasyarakatan (litmas),'' ungkapnya.

Namun, dia memanfaatkan ilmu negosiasi dan diplomasi yang didapatkan saat kuliah dulu. Selain itu, karena lama berurusan dengan bagian administrasi, yang menjadi perhatiannya adalah cara membuat laporan penelitian masyarakat (litmas) yang baik. ''Kalau laporannya baik, hasilnya akan jelas. Itu juga akan memudahkan hakim membuat putusan,'' jelasnya.

Litmas yang terkesan kaku dan membosankan diubah menjadi lebih mudah dan enak dibaca. Terobosan itu akhirnya membuat Tri dipromosikan menjadi kepala seksi tiga tahun kemudian. Dia juga masih menjabat sampai sekarang.

Namun, meski memiliki jabatan, Tri tetap turun ke lapangan. Padahal, dia sudah diminta berfokus mengurusi administrasi. ''Nggak enak kalau hanya di dalam ruangan terus. Jadi, tetap harus turun membimbing anak-anak,'' tegasnya.

Tak pelak, sudah tak terhitung ABH yang sudah ditanganinya. Mereka berasal dari berbagai latar belakang dengan beragam masalah yang dihadapi. Mulai pembunuhan sampai pencabulan. Pencurian hingga sekadar cakar-cakaran.

Dalam menangani perkara anak, dia tidak mau setengah-setengah. Anak akan dikawal hingga proses hukum selesai. Bahkan, pascavonis dan selesai menjalani hukuman, Tri tetap rajin menjenguk mereka. Tujuannya, memastikan anak-anak tersebut sudah kembali ke jalan yang benar. ''Biasanya kalau sedang menangani perkara di sebuah daerah, sekalian mampir ke rumah anak yang dulu saya tangani,'' ungkapnya.

Hubungannya pun tidak sebatas di situ saja. Beberapa anak yang pernah dibimbingnya masih sering menghubungi via telepon. Mereka kadang menumpahkan keluh kesahnya. Namun, ada pula cerita sukses mereka. ''Ada yang sudah jadi dosen. Itu kan bukti bahwa anak bisa berubah walau mereka pernah nakal,'' tuturnya.

Meski sering berhadapan dengan anak nakal, Tri tidak trauma. Ayah Oktavian Adnan Pramu Widiyanto dan Meita Hamas Pramu Widiyati tersebut tidak ragu melibatkan anak-anaknya dalam pekerjaannya. Dia sering berdiskusi soal perkara anak dengan anaknya. ''Alhamdulillah, anak saya ndak ada yang ketularan nakal. Semuanya nurut,'' ujarnya.

Karena itu, dia mengajak semua orang tua untuk lebih memperhatikan anak. Sebab, selama ini biang kenakalan anak, menurut dia, adalah kurangnya perhatian orang tua. ''Kalau orang tua saja tidak peduli kepada anaknya, bagaimana anak bisa baik?'' katanya. (aji/c5/git/sep/JPG)

Let's block ads! (Why?)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar