Sabtu, 28 Januari 2017

Wayang Potehi, Peninggalan Dari Sebuah Toleransi

AnsorNews.com, JAKARTA – Hari ini Sabtu 28 Januari 2017 Masehi bertepatan dengan tahun baru Imlek 2568. Tahun baru ini merupakan awal dimulainya tahun ayam, lebih tepatnya ayam api. Imlek kurang lengkap rasanya tanpa hujan, kue keranjang, dan angpao. Imlek kali ini saya sedikit menuliskan tentang wayang potehi, khususon untuk warga nahdliyin dari kalangan Tionghoa.

Kontak budaya antara orang Tiongkok dengan orang Nusantara sebetulnya sudah cukup terjalin cukup lama. Baik yang terjalin karena kontak perekonomian, bahkan tidak jarang adanya perkawinan latar budaya yang berbeda, kisah-kisah 'putri china' tidak asing tentunya. Di Jawa juga terdapat kisah putri China (Putri Ong Tin) yang diperistri oleh Sunan Gunung Jati. Di Palembang bahkan ada cerita yang cukup menarik di daerah sungai Musi, kisah harta karun emas dari Tiongkok yang dibawa oleh Pangeran dari Tiongkok untuk melamar putri dari Palembang. Sampai sekarangpun masih banyak perahu kecil yang mencari emas di sungai musi. Tidak mengherankan jika sungai Musi mendapat julukan River of Mystery. Cerita tersebut masih bisa didapatkan di Pulau Kemaro, dimana sekarang juga terdapat pagoda.

Namun, kedatangan orang Tionghoa dari Tiongkok ke Nusantara puncaknya ketika keruntuhan Dinasti Ming sekitar tahun 1640an, dinasti yang dulunya didirikan oleh kaum petani. Peralihan kekuasaan dari Dinasti Ming kepada Dinasti Qing mengakibatkan arus migrasi yang cukup besar. Tekanan dari dalam negeri memaksa rezim Dinasti Ming khususnya orang Han melakukan migrasi keluar dari wilayah Tiongkok. Umumnya berasal dari wilayah provinsi Hokkian/Fujian dan Kwantung/Guangdong.

Di Jawa khususnya para migran dari Tiongkok mulai beralkulturasi atau membentuk budaya baru (new form literary). Misalnya perpaduan alat musik antara bonang dengan rebab, perpaduan wayang kulit cina jawa atau biasa disebut dengan 'wacinwa', termasuk juga wayang potehi. Wayang potehi atau orang Jawa lebih sering menyebutnya dengan wayang piti juga menjadi salah satu usaha orang Tionghoa menjadi 'orang Jawa'.

Presiden Soekarno pernah mengeluarkan PP No 10/1959 terkait dengan Larangan Bagi Usaha Perdagangan Kecil dan Eceran Yang Bersifat Asing di luar Ibu Kota Daerah Swatantra Tingkat I dan II Serta Karesidenan. Kebijakan Indonesianisasi usaha-usaha perdagangan dari bangsa Asing ini berdampak pula pada masyarakat Tionghoa di Indonesia. Di Gombong, Kebumen terdapat gedung sekretariat A.G.H yang dahulunya untuk menampung para orang Tionghoa Gombong yang sudah terlanjur menjual asetnya karena kepanikan kebijakan tersebut. Namun, banyak juga yang memilih bertahan karena banyak yang beranggapan yang dimaksud bukan masyarakat Tionghoa karena kebanyakan memang lahir dan beranak-pinak di Gombong.

Ketika Presiden Soeharto menjabat dikeluarkannya Inpres RI No 14/1967 tentang Agama Kepercayaan dan Adat Istiadat Cina. Kebijakan tersebut membatasi kegiatan adat-istiadat masyarakat Tionghoa di depan publik. Dalam pelaksaannya justru sebagai usaha 'memberangus' kebudayaan masyarakat Tionghoa. Sering disebut sebagai 'masa gelap', namun hal tersebut tidak berlaku di Gudo yang terletak sekitar 13 kilometer arah barat Jombang. Di Kelenteng Hong San Kiong yang berdiri sekitar tahun 1710, terletak di tengah-tengah masyarakat nahdliyin. Kesenian wayang Potehi masih eksis hingga sekarang, baik dari produksi wayang hingga pementasannya. Rupanya inti kenapa masih eksis hingga sekarang karena sikap masyarakat sekitar memberikan sikap toleransi yang cukup baik. Di Gombong juga terdapat wayang potehi tepatnya di tempat ibadat Tri Dharma Hok Tek Bio, namun nasibnya tidak sebaik dengan yang di Gudo, Jombang.

Keran toleransi mulai dibuka kembali pada saat era Presiden Abdurahman Wahid atau Gus Dur. Presiden yang dikenal 'nyentrik' dan senang membela kaum minoritas. Diawali dengan Keppres RI No 6/2000, Gus Dur mencabut Inpres No 14/1967 tentang Agama, Kepercayaan, dan Adat Istiadat China. Kemudian, dilanjutkan dengan Keppres RI No 19/2001 yang menjadikan Imlek sebagai hari libur fakultatif (berlaku bagi yang merayakan). Kemudian pada tahun 2003 secara resmi oleh Presiden Megawati Soekarnoputri, Imlek menjadi Hari Libur Nasional.

Toleransi telah menjadi pembuka sekat-sekat yang selama ini menyelimuti tabir, akhir tulisan ini adalah pantun saya. Oiya, dalam pertunjukkan wayang potehi biasanya juga disisipi pantun.

"Gong Xi Fat Cai diucapin pas imlekan,

Imlekan ora lengkap karo kue keranjang,

Gus Dur ngajarin jadi toleran,

Agar jadi bangsa pemenang." (Ade)

Let's block ads! (Why?)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Incoming Search