
FAJRIN MARHAENDRA BAKTI, Surabaya
DALAM pencarian rumah kontrakan Jarwo dan Munasipah, ingatan langsung melayang pada suasana gemerlap Gang Dolly di masa lampau. Maklum, untuk sampai di rumah yang beralamat di Jl Kupang Gunung Tembusan II/6, Surabaya, mau tak mau orang harus melewati eks tempat prostitusi legendaris yang tutup pada Juni 2014 tersebut.
Memang, menurut informasi, masih ada saja praktik prostitusi di sekitar sana. "Masih ada, tapi sembunyi-sembunyi," ujar Jarwo membuka pembicaraan.
Jarwo memang pantas tahu seluk-beluk Dolly. Tempat lubang tikus pun dia hafal. Dia memang lahir dan besar di kawasan Dolly. Sejak kelas XII SMK, Jarwo sudah membuka warung kopi di depan Wisma Permata Biru.
Sang kakak, Darmuji, memintanya untuk berjualan kopi. Modalnya pun berasal dari kakaknya yang saat itu bekerja sebagai pelayan wisma tersebut. "Karena merasa enak, jadi keterusan jualan kopi," lanjutnya.
Karena terus berkembang, dia sampai memiliki tiga gerobak. Namun, penghasilannya tidak pernah terkumpul. Tidak berkah. Sebab, Jarwo hobi mabuk-mabukan dan berjudi bola. "Sehari, bisa tujuh kali buka botol," kenang Jarwo, lantas tertawa.
Namun, hidupnya mulai berubah sedikit saat bertemu Munasipah. Meski belum bisa berubah drastis, sedikit demi sedikit dia mulai tobat. Jarwo mengaku langsung jatuh cinta saat perempuan yang akrab disapa Eva itu datang ke Dolly pada Maret 2011. "Wis tak gambar pas mulai teka (sudah saya incar saat dia baru datang)," aku pria berperawakan kurus tersebut.
Eva adalah pekerja seks di Wisma Permata Biru. Berbagai masalah yang didapatnya saat itu membuatnya memilih jalan pintas. ''Dulu saya kelilit utang banyak. Jadi, harus kerja yang menghasilkan uang cepat,'' terang Eva.
Jarwo mengaku iba pada nasib Eva. Perempuan itu harus mengasuh dua anaknya sendirian setelah mantan suaminya, Asep Saifudin, meninggalkannya. Namun, baru tujuh bulan bekerja, Jarwo meminta Eva berhenti. "Saat itu, aku diminta Mas Jarwo kerja jadi pelayan restoran," tutur perempuan asal Pekalongan tersebut.
Namun, Eva mengaku tidak kerasan bekerja sebagai pelayan restoran. Dia memutuskan berjualan jus setelah mendapat bantuan berupa rombong. "Ternyata, hasilnya banyak. Bisa buat ngontrak rumah," terang Eva.
Rumah berukuran 2 x 12 meter itu ditempatinya sampai saat ini. Tapi, nasibnya berubah saat Dolly ditutup. Semua usahanya otomatis juga harus ditutup. Namun, para pedagang kaki lima (PKL) tidak mendapat ganti rugi.
Yang mendapat kompensasi hanya PSK dan mucikari. Jarwo pun menggalang massa untuk melakukan protes. Seluruh PKL di daerah Dolly digerakkan. Dia masih ingat, kelompok tersebut tergabung dalam Front Pekerja Lokalisasi. "Tak hanya PKL, para PSK dan mucikari malah ikut mendukung juga," kenang Jarwo.
Pria pengagum nasi pecel madiun tersebut menjadi salah satu garda terdepan dalam protes. Bawa batu dan celurit. Sambil mengerutkan dahi, dia bercerita bahwa puncak kericuhan terjadi saat H-1 Hari Raya Idul Fitri 2014. Ketika itu, Idul Fitri jatuh pada 28 Juli. "Saat itu, Risma datang dan memasang plakat area bebas prostitusi di Putat Jaya dan Kupang," ungkapnya.
Kondisi sempat mencekam. Massa membakar ban. Karena aksi itu, 29 orang ditangkap. Tiga orang di antaranya ditahan karena dianggap sebagai provokator.
Tiga hari setelah kejadian mencekam itu, ada operasi penangkapan. Enam orang ditangkap lagi karena perkara yang sama. Menolak dan melawan petugas kepolisian. Termasuk salah seorang kakak suami Jarwo, Darmanto, juga ditangkap. "Beruntung, saat itu saya sudah pindah ke kontrakan. Jadi, tidak ikut diciduk," bebernya.
Jarwo baru sadar menjadi buron ketika seorang saudaranya menjenguk Darmanto di kamar tahanan Polrestabes Surabaya. Di sana, seorang penyidik menunjukkan foto Jarwo yang saat itu berstatus buron. Tak mau ambil risiko, Jarwo akhirnya melarikan diri. "Saya lari dengan Mas saya, Darmuji," katanya.
Bersama Darmuji, Jarwo berkelana dari kota satu ke kota yang lain. Dari rumah teman satu ke rumah teman yang lain. Malang, Sidoarjo, sampai Gresik. Terkadang, dia juga balik ke Surabaya. Pelarian itu berlangsung selama sebulan. "Saya menunggu berkas kakak saya P-21," akunya.
Jarwo sedang berada di rumah kakaknya, Darmaji, di Gedangan, Sidoarjo, ketika mendengar kabar lengkapnya berkas pemeriksaan kakaknya. Di rumah Darmaji, dia belajar membuat tempe selama empat hari. "Cuma belajar dasar-dasarnya. Lha wong cuma sebentar," paparnya.
Saat pamitan pulang, dia disangoni kedelai oleh Darmaji. Tidak banyak. Hanya 3 kilogram. Dia masih ingat pesan Darmaji kala itu. Agar keledai tersebut digunakan dengan sebaik-baiknya.
Tentu, Jarwo tak langsung menanam kedelai itu agar tumbuh pohon raksasa seperti cerita Jack dan Kacang Ajaib. Sampai di rumah, Jarwo langsung praktik membuat tempe. Sepertiga kedelai pemberian Darmaji diolahnya menjadi tempe. Ternyata sukses. Tempe buatannya itu digoreng dan dibagikan kepada tetangganya.
Karena girang, dia langsung melapor ke Darmaji. "Yo wis berarti jodoh nggawe tempe. Terusna ae dodolan tempe," ujar Jarwo menirukan pesan Darmaji lewat percakapan telepon kala itu.
Darah Bonek sepertinya memang melekat pada diri Jarwo. Hanya dengan modal Rp 80 ribu, dia nekat kulakan kedelai. Tempe pertamanya pun hanya dari 3 kilogram kedelai. Mereknya Tempe Dolly. Karena namanya itu, banyak yang tertarik sekaligus bertanya. Kok Dolly? "Iya, Dolly tutup, jadi jualan tempe," terang Jarwo.
Setiap sore dia menjajakan tempenya dengan menggunakan sepeda onthel. Pelan-pelan, usahanya berkembang. Produksinya bertambah menjadi 5 kilogram kedelai setiap hari. Namun, karena masih manual, proses produksi cukup menguras tenaganya. "Sebenarnya, mau terus ditambah. Tapi, tenaganya tidak ada," ungkap Jarwo.
Melihat usaha itu berkembang, Kelurahan Putat Jaya tertarik dan mengusulkan Jarwo untuk mendapat mesin giling. Akhir 2014, pemkot memberinya mesin. Namun, dia tidak mau mengambil mesin tersebut di kelurahan. Alasannya, dia masih takut polisi mengetahui keberadaannya. "Takut status buron belum hilang," urainya.
Merasa sudah tenang, dia mulai berani menunjukkan diri. Dia memutuskan untuk menghalalkan Eva. Pernikahan itu terjadi pada 24 Desember 2014. Mereka berdua pun bagi tugas. "Saya yang bagian produksi, Mas Jarwo bagian jualan," imbuh Eva.
Setelah enam bulan berjalan, ada yang protes dengan produknya. Nama Tempe Dolly dianggap masih saru. Akhirnya, mereknya diganti Tempe Mandiri Jaya. Namun, hanya berjalan beberapa bulan. "Karena namanya sulit diingat dan ndak terkenal," selorohnya.
Dia pun kembali mengganti merek produknya. Menjadi Tempe Bang Jarwo. "Terinspirasi judul kartun Adit & Sopo Jarwo," tambah Jarwo.
Usahanya semakin berkembang setelah mendapatkan pendampingan bisnis pada pertengahan 2015 oleh Gerakan Melukis Harapan (GMH). Jarwo mendapatkan ilmu terkait pemasaran, pembukuan, hingga promosi. Sejak saat itu pula, dia melek teknologi dan mengenal media sosial. "Pemasaran sudah merambah media sosial selain keliling pakai sepeda. Hasilnya lumayan," terang pria kelahiran 10 Oktober 1980 tersebut.
Sekarang setiap hari dia mampu membuat tempe dari 20 kilogram kedelai. Omzetnya mencapai Rp 10 juta per bulan. Margin keuntungan 100 persen. Pelanggannya berasal dari berbagai dinas dan lintas kota. Ada yang dari Jakarta, ada yang dari Bali.
Jarwo terus mengepakkan sayap bisnisnya. Produk terbarunya adalah nugget tempe. Baru dua bulan ini. Khusus untuk nugget, dia mengajak warga memproduksi. "Bahan bakunya dari Tempe Bang Jarwo, dong," terangnya.
Jarwo dan Eva adalah contoh masyarakat eks Dolly yang ingin berkembang dan maju. Mereka sering diajak mengisi seminar bisnis dan motivasi. Mulai di Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMS), Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), sampai ke Rembang, Jawa Tengah.
Lahir di Dolly, dahulu Jarwo diburu, sekarang dibanggakan. Sementara itu, Eva adalah sosok wanita harapan yang bisa jadi contoh bahwa dirinya mampu berubah dan bangkit dari gemerlapnya dunia negatif. (*/c6/dos)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar