Sabtu, 15 April 2017

Kisah Keren Gubernur NTB yang Cepat Maafkan Steven Meski Sudah Dihina

Gubernur NTB Tuan Guru Bajang (TGB) Zainul Majdi (LOMBOK POS/JPG)

JawaPos.com - Kerukunan dan harmoni umat beragama di NTB terjalin dengan sangat baik. Meski berjuluk seribu masjid dengan mayoritas muslim, NTB yang juga dihuni beragam entis, suku, ras, agama, tradisi, budaya dan bahasa itu mampu menjaga kedamaian. Ya, itu semua tak lepas dari kepemimpinan sang gubernur. Dia adalah Tuan Guru Bajang (TGB) Zainul Majdi. 

Di tangan TGB, sapaan akrab Zainul, kemajemukan itu selama ini terjalin sangat baik dan menjadi tulang punggung pembangunan di NTB. Masyarakatnya menjunjung nilai-nilai toleransi dan kerukunan antar umat terjalin sangat indah. Hal inilah yang membuat NTB sebagai daerah yang  damai. Hal itu dikatakan, Gubernur NTB, TGB HM Zainul Majdi, Jumat (14/4).

Ya, pernyataan tersebut disampaikan gubernur yang juga ulama kharismatik tersebut menyusul munculnya peristiwa tak mengenakkan yang menimpa dirinya di Bandara Changi, Singapura, Minggu (9/4) lalu. Saat itu dia dihina seorang pria asal Jakarta dengan kata-kata tak etis lantaran dituduh menyerobot antrean.

Padahal saat itu dia maju dari anteran untuk hendak bertanya kepada seorang petugas. Kejadian itu berujung pada urusan polisi di Bandara Soekarno-Hatta. TGB terpaksa melaporkan pria bernama Steven Hadisurya Sulistyo ke pihak kepolisian bandara lantran terus menerus diumpat. 

Setelah ditangani polisi, Steven akhirnya minta maaf dan menuliskan pernyataan penyesalannya di atas kertas bermaterai. 

Yang membuat sejuk, TGB dengan mudah memaafkan Steven. Gubernur menegaskan, penghinaan yang terjadi pada 9 April tersebut telah sepenuhnya dia maafkan. Terlebih lagi, yang bersangkutan juga telah meminta maaf secara terbuka melalui media massa.

Karena itu, Gubernur yang akrab disapa TGB ini mengajak seluruh elemen masyarakat NTB untuk tetap menjaga harmoni dan kerukunan yang telah terwujud dengan sangat baik selama ini. Jangan ada pihak yang menggunakan isu-isu primordial, isu-isu SARA yang dapat merusak dan memecah belah masyarakat. Apalagi saat ini, NTB tengah bersusah payah membangun daerah yang sudah mulai menampakkan hasil.

Menurutnya, kerukunan yang dimiliki NTB saat ini adalah suatu kondisi yang menjadi dambaan semua pihak, sehingga sudah banyak daerah yang datang ke NTB hanya untuk belajar tentang toleransi dan kerukunan.

Beberapa waktu lalu ia bertemu dengan pengurus Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) NTB. Pada kesempatan itu, ia mendapatkan laporan bahwa sangat banyak daerah lain di Indonesia yang memiliki problem toleransi, mereka berkunjung untuk mencontoh upaya-upaya Pemda menciptakan harmoni di tengah  masyarakatnya yang plural. 

Dengan kondisi daerah yang aman, pemerintah bisa melaksanakan program pembangunan untuk mencapai kemajuan yang besar, yakni menyejahterakan masyarakat. Pemerintaha sedang fokus membangunan infrastruktur dasar, pertanian, pariwisata dan lainnya. "Bila kondusivitas daerah tidak terjaga dengan baik, maka akan sangat mahal akibatnya," katanya.

Oleh karena itu, TGB mengingatkan agar jangan ada gerakan-gerakan yang merusak keharmonisan NTB, sehingga akan menghambat laju pembangunan yang telah diperjuangkan dengan susah paya. 

"Jika ada masalah, mari kita selesaikan dengan cara-cara yang lebih konstruktif, santun dan bermartabat, lebih mengedepankan semangat persatuan dan NKRI," imbuhnya.

Sementara terkait momentum Pilkada 2018, TGB menghimbau semua pihak, utamanya para figur yang akan maju, lebih mengedepankan mengadu kekuatan program-program dan menghindari penggunaan isu-isu primordial, apalagi isu-isu yang dapat memecah belah kerukunan. (ili)

Alur Cerita Berita

Rekomendasi Untuk Anda

Let's block ads! (Why?)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar