Senin, 15 Mei 2017

Kisah Ikatan Spesial Antara Ibu dan Anak dari Tiga Keluarga

REPUBLIKA.CO.ID, MELBOURNE -- Hari Ibu Internasional diperingati tiap 14 Mei. Australia Plus berbicara dengan tiga pasangan ibu-anak secara terpisah untuk mengetahui apa yang membuat ikatan mereka begitu spesial.

Wynn Ord dan Putrinya, Katie

Wynn dan putrinya Katie.

Pertama kali Wynn Ord melihat putrinya, Katie bukan di rumah sakit bersalin tapi di sebuah hotel di kota Hefei, Cina. Katie adalah anak adopsi. Ia ditinggalkan di gerbang panti asuhan lokal saat ia berusia tiga bulan.

Setelah beberapa kali gagal menjadi orang tua, Wynn dan suaminya, Dave yang berasal dari Sydney, harus membuat keputusan yang sulit. "Adopsi adalah satu-satunya jalan untuk menjadi seorang ibu," kata Wynn.

Menjelang akhir 2003, tiga tahun setelah mereka mengajukan permohonan untuk mengadopsi seorang anak, Wynn dan Dave menerima sebuah amplop dengan foto gadis kecil berusia 21 bulan di dalamnya. "Saya langsung jatuh cinta begitu melihat fotonya. Rasanya mimpi untuk menjadi seorang ibu akhirnya jadi kenyataan."

Enam minggu kemudian, Wynn dan Dave terbang ke Cina dengan beberapa orang tua angkat lainnya. Di sana mereka bertemu dengan Katie.

"Ia meringkuk ke dalam pelukan kami, ia memiliki ekspresi yang sangat mungil. Anak-anak lainnya menangis tanpa henti karena mereka ingin kembali ke pengasuh mereka."

Tiga belas tahun berlalu, Katie telah tumbuh menjadi gadis yang penuh kasih, kuat dan tangguh. Wynn tak bisa menyembunyikan cintanya dan penghargaannya pada Katie, sosok yang memungkinkannya menikmati setiap detik menjadi seorang ibu.

"Punya Katie membuat saya terbangun setiap hari dan masuk kamar melihatnya, [dan] mimpi yang sulit terwujud itu akhirnya menjadi kenyataan."

Mira Millane dan ibunya, Joyce

Yana, ibunya Joyce dan Mira.

Mira Millane lahir dan besar di Australia, di tengah keluarga dengan ibu asal Indonesia, Joyce Angko-Millane dan ayah asal Australia Stephen Millane. Ia juga memiliki saudara perempuan, Yana dan seorang saudara laki-laki, Habibi.

Mira mengatakan ibunya adalah "jantung budaya keluarganya" dan membuat mereka tetap terhubung dengan budaya mereka di Indonesia.

"Seingat saya, ibu telah membenamkan kami dalam budaya Indonesia - entah melalui tarian tradisional, musik, acara sosial, atau bahkan rangkaian masakan Indonesia yang ia masak setiap hari," ceritanya.

"Sehari-hari, ibu saya berkomunikasi dengan kami melalui perpaduan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris selama bertahun-tahun, yang telah menciptakan getaran 'Indo-Aussie' di dalam keluarga kami."

Ini membantu Mira dan keluarganya merasa memiliki identitas hibrida, di mana mereka bisa mempraktikkan hal-hal terbaik dari dua budaya. "Kami menari dan menyanyi menggunakan perpaduan musik dan koreografi Indonesia dan Australia, dan kami suka makan steak dengan hidangan pendamping nasi goreng!"

Mira sesekali masih mengalami kesalahpahaman lintas budaya dengan ibunya. Terkadang mereka berdebat tentang apa yang ia kenakan saat meninggalkan rumah.

Sementara singlet, celana pendek dan sandal jepit bisa diterima dalam budaya Australia, dalam budaya Indonesia memakai lengan panjang, celana panjang dan sepatu tertutup umumnya dianggap lebih baik karena ini merupakan tanda penghormatan terhadap budaya dan agama.

Terlepas dari hal itu, Mira menganggap ibunya telah berhasil menyesuaikan diri dengan gaya hidup orang Australia. "Meskipun ia akan selalu meyakini nilai konservatif Indonesia, ia menjadi sangat terbuka dengan banyak aspek budaya Australia."

Gladys Qin dan ibunya, Grace

Gladys dan ibunya Grace saat liburan di Hawaii.

Gladys Qin menghargai persahabatannya dengan sang ibu, Grace Zheng, namun,terkadang muncul frustasi yang disebabkan oleh sikap Gladys yang tenggelam dalam budaya Australia dengan nilai-nilai tradisional Cina yang diyakini ibunya.

Ada juga hambatan bahasa yang harus dihadapi. Gladys berjuang mengekspresikan dirinya dengan bebas atau berbicara dengan ibunya tentang sesuatu yang kompleks dalam bahasa Cina, sementara ibunya tidak berbicara dalam bahasa Inggris.

Gladys mengatakan, dinamika ibu-anak yang mereka alami berubah ketika mereka pindah ke Melbourne dari Cina pada 2004, dan harus menyesuaikan diri dengan negara yang sama sekali baru. Hirarki tradisional ibu-anak yang biasa terjadi pada kebanyakan keluarga Cina pun hilang.

"Kini saya melihat ibu saya dengan setara," katanya.

Mereka suka pergi keluar untuk minum teh, bergosip tentang keluarga dan makan siang bersama. Namun, komunikasi mereka tak selalu bagus.

Ibu Gladys tak begitu vokal tentang banyak hal, termasuk keputusan Gladys beralih dari jurusan bisnis ke penulisan kreatif -jurusan yang secara tradisional dipandang sebagai pilihan berisiko oleh budaya Asia karena menawarkan sedikit prospek karir -di universitas.

Gladys mengatakan, ia bisa tahu ibunya khawatir akan masa depannya, tapi ibunya tak mengatakan apa-apa yang justru membuat Gladys merasa frustrasi. Ia mengaku ingin merasa lebih dekat dengan ibunya, dan membangun hubungan baik dengannya meski terkadang ada konflik di antara mereka.

Simak berita ini dalam bahasa Inggris di sini.

Sumber : http://www.australiaplus.com/indonesian/sosok/the-special-bond-between-mothers-and-daughters/8522712

Let's block ads! (Why?)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Incoming Search