
RUMAH berwarna dominan krem dan kuning di Desa Seketi Utara, RT 3, RW 8, Balongbendo, itu begitu riuh. Di pelatarannya yang teduh, di bawah rindangnya pepohonan dan kanopi, delapan orang tampak berjibaku dengan besi dan peralatan mekanik.
Ada yang sedang memotong logam dengan circular saw (alat pemotong besi, Red). Ada pula yang sedang mengoperasikan gerinda untuk menghaluskan besi. Suara gesekan yang begitu bising tersebut membuat mereka terkadang harus sedikit berteriak ketika berbicara satu sama lain.
Dilengkapi kacamata khusus las auto darkening, sarung tangan, jaket, dan segenap atribut lainnya, mereka memotong batangan besi dengan diameter beragam. Mulai 5 hingga 20 sentimeter. Batangan besi yang dipotong dengan panjang tak sama itu kemudian dirakit menjadi bentuk-bentuk tertentu. Misalnya, kerangka kanopi dan pagar. ''Ukur sing pas yo,'' perintah Sutig, pemilik bengkel las tersebut, kepada rekannya.
Sejak 2012, kediaman Sutig tidak hanya berfungsi sebagai tempat membangun keluarga dan membesarkan tiga anaknya, namun sekaligus tempat mencari nafkah. Tepat di depan rumah itu, berdiri bengkel las seluas 4 x 10 meter.
Meski rumah dan tempat kerjanya berada di satu lokasi, pria 44 tahun tersebut tidak setiap hari dapat dijumpai di rumahnya. Dia sering ke luar kota di wilayah Jatim untuk memantau proyek yang dipercayakan kepadanya. ''Takpasrahno ke mereka (pegawainya, Red) kalau ada tugas luar. Wes (sudah, Red) pinter-pinter semua dan ngerti tugase,'' ujarnya.
Minggu ini, contohnya. Sutig harus beberapa kali ke Kediri. Dia sedang memantau pembangunan sebuah pabrik. Dalam proyek itu, dia kebagian pekerjaan membangun kerangka corong pabrik. Kali ini dia tidak sendirian, melainkan bekerja sama dengan sahabat karibnya.
Dalam kurun lima tahun terakhir, sudah puluhan perusahaan dan instansi pemerintahan yang memanfaatkan tenaga Sutig. Antara lain, pembangunan gedung baru di Poltek Kediri, Pendapa Kota Kediri, instalasi cerobong asap PT Energi Agro Nusantara (Enero) di Mojokerto, dan berbagai perusahaan lain di seantero Jawa.
Sutig memang memiliki kecakapan khusus di bidang welding (juru las,Red). Tak heran banyak perusahaan dan instansi pemerintahan yang menggunakan tenaganya untuk membangun konstruksi-konstruksi bangunan rumit. Terutama ketika hendak memasang pipa dan menyambung konstruksi bangunan. Beberapa kali dia harus turun sendiri ke lapangan bila ada sesuatu yang njelimet. Beberapa kali pula dia hanya bertugas menjadi pengawas yang sekadar mondar-mandir mengecek pekerjaan anak buahnya bila ada sesuatu yang kurang pas.
Welding atau teknik mengelas yang Sutig lakukan bukan mengelas biasa. Kecakapan welding yang dikuasai Sutig sudah diakui secara internasional. Bahkan, dia mengantongi sertifikat khusus.
Sutig mulai menekuni dunia welding sejak berusia 17 tahun. Kala itu dia tidak memiliki pilihan lain selain terjun ke dunia kerja dan putus dari dunia pendidikan. Keadaan ekonomi keluarga yang terbatas membuatnya menempuh jalan tersebut. Dia memutuskan berhenti sekolah ketika duduk di bangku kelas XII SMK Bhakti Kita Driyorejo, Gresik.
''Pas SD, ayah saya meninggal. Jadi, mulai SD sampai SMK kakak saya yang biayai. Karena dia waktu itu mau menikah dan butuh uang, ya saya berhenti sekolah ae wes. Memang eman (sayang, Red), tapi yo ya apa maneh (mau bagaimana lagi, Red),'' ujarnya, lantas sedikit tersenyum seolah berusaha menekan rasa pahit dari kenangan itu.
Begitu berhenti sekolah, dia mengaku sempat putus asa selama beberapa saat. Namun, dengan segenap keteguhan hati, dia kembali bangkit. Anak terakhir dari lima bersaudara tersebut begitu menyayangi kakak-kakaknya.
Pertengahan 1991, berbekal ijazah, keterampilan mekanik semasa SMK, dan salat Tahajud, dia mencoba mengadu nasib di salah satu perusahaan produsen aki mobil. Sutig sudah lupa namanya. Yang dia ingat, perusahaan itu berlokasi di Sepanjang, Taman. Sutig termasuk orang yang cepat belajar dan menyerap ilmu dari lingkungan kerjanya.
Setahun kemudian, dia memutuskan pindah ke PT Surya Kertas, Driyorejo. Selama lima tahun dia bekerja untuk perusahaan itu. Dia menjadi juru las junior. Melihat kecakapan dan ketelitiannya ketika mengelas, manajemen perusahaan menawarinya pekerjaan yang lebih baik. Lewat rekomendasi seorang teman, Sutig kembali pindah. Kali ini dia bergabung dengan PT Trakindo, rekanan yang dipercaya PT Freeport Indonesia untuk membuat instalasi pipe steam atau pipa uap dan pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) di pedalaman hutan di Papua (dulu Irian Jaya, Red). ''Sampai 2002, saya di sana terus. Setelah itu, balik ke Jawa,'' jelasnya.
Kecakapan Sutig dalam mengelas yang terus terasah membuat namanya tenar. Tenaganya beberapa kali digunakan perusahaan di Pulau Jawa. Terutama sebagai penyambung pipa uap. Sutig pun dikenal sebagai orang yang ahli di bidang penyambung atau pengelasan pipa uap.
Di Pulau Jawa, salah satu perusahaan yang pernah menggunakan tenaganya adalah PT Temprina Media Grafika milik Jawa Pos Group. ''Waktu itu juga saya ketemu Pak Dahlan Iskan untuk kali pertama. Yo seneng. Apalagi, Pak Dahlan turun tangan langsung,'' kisahnya dengan nada semangat.
Dia teringat saat itu menjelang Hari Raya Idul Fitri 2002, persis malam Lebaran. Sutig sedang bekerja memasang pipa uap. Dia sudah mengerjakannya selama beberapa minggu. Tiba-tiba seorang pria dan perempuan datang menerobos tempatnya bersama tim yang sedang bekerja.
''Sempat saya tegur. Enak-enak masang pipa lha kok enak main masuk. Lha ternyata Pak Dahlan Iskan dan istrinya. Saya ya kaget lha wong bajunya gak kayak direktur. Serampangan,'' tuturnya, lantas terkekeh.
Rupanya, Dahlan sengaja datang begitu mengetahui ada karyawan yang lembur pada malam Lebaran. Tidak hanya datang, Dahlan juga ikut membantu. Dia mengangkut beberapa barang yang diperlukan pekerja. Dia berharap para pekerjanya dapat segera pulang mengingat takbir sudah berkumandang di mana-mana. ''Mulai waktu itu, Pak Dahlan menjadi salah seorang tokoh panutan saya. Dia peduli orang bawah,'' ungkapnya.
Setelah melayani banyak perusahaan, dia mendengar informasi dari Disnaker Jatim bahwa pemerintah Jepang membutuhkan tenaga ahli di bidang logam dan bangunan. Tertarik mendengarnya, Sutig ikut mendaftar. Dia pun bergegas menuju PT Dok dan Perkapalan Surabaya (DPS). Kejadian itu terjadi tepat pada Agustus 2006.
''Akhire saya ikut. Meski waktu itu anak saya yang ketiga baru lahir,'' jelasnya. Tujuan yang melatarbelakangi berangkat ke Jepang beragam. Selain haus pengalaman, dia berencana menabung untuk membangun suatu usaha.
Sebelum diterima dan berangkat ke Jepang, dia harus bersaing dengan ratusan orang dari seluruh Indonesia. Pemerintah Jepang turun langsung menyeleksi para peserta lewat lembaga bernama Japan International Training Cooperation Organization (JITCO). Tes tersebut berlangsung sehari penuh. Yakni, meliputi kemampuan welding dasar dan pengetahuan seputar Jepang. Lima hari berselang, Sutig senang bukan main. Dia dinyatakan lolos bersama 25 orang lainnya.
Sebelum berangkat, dia diwajibkan mengenyam pendidikan dasar bahasa Jepang. Dia pun menjalani delapan bulan pendidikan bahasa Jepang di Indonesia dan tambahan pelatihan bahasa sekaligus teknik welding selama sebulan di Jepang. ''Tapi, percuma. Susah-susah belajar bahasa Jepang hampir setahun banyak yang nggak kepakai. Lah saya nggak diajari bahasa lokal,'' ujarnya.
Beberapa minggu setelah tiba di Jepang, Sutig langsung mendapatkan ''pengalaman buruk''. Kala itu dia hendak melakukan syukuran kecil-kecilan dengan makan bersama teman dari Indonesia. Dia mencari beberapa bahan masakan dan alat makan di sekitar tempatnya bekerja di Kota Onomichi, Hiroshima Prefecture (Provinsi).
Setelah membeli bahan makanan di beberapa toko, dia langsung menuju toko peralatan dapur untuk membeli sendok dan piring. Putus asa mencari piring, Sutig akhirnya menemukan mangkuk dan beberapa set sendok dan garpu di salah satu toko. ''Mangkoke ndek kene lho, ayo wes ndang balik, (mangkoknya di sini lho, ayo lekas kembali, Red),'' ucapnya kepada teman yang turut mencari dengan suara agak keras.
Tidak lama kemudian, banyak pengunjung toko, terutama perempuan, yang melongo padanya. Beberapa dari mereka menampakkan ekspresi wajah kesal. Belakangan Sutig tahu bahwa dirinya dan teman-temannya dianggap kurang ajar, bahkan cabul. Ternyata, mangkuk atau mangkok memiliki arti yang menyimpang jauh dalam bahasa Jepang. Yakni, (maaf, Red) kelamin perempuan. ''Pokoknya, banyak bahasa daerah lain yang belum pernah kami dapatkan. Akhire pelatihan bahasae kami minta ditambah,'' katanya.
Selain pelatihan bahasa, dia mendapat pelatihan tambahan yang menjurus pada keahlian welding khusus di bidang shielded metal arc welding (SMAW). Yakni, suatu tekhnik mengelas dengan beberapa bahan khusus untuk mengelas permukaan logam cekung atau tidak datar. Pelatihan itu didapatnya karena dia akan bekerja di galangan kapal. Dia membantu pemerintah Jepang memproduksi kapal mulai dari pembangunan kerangka. ''Saya spesialis bagian moncong kapal dan baling-baling,'' jelasnya.
Kapal yang dirakitnya memiliki ukuran beragam. Mulai 70 meter hingga lebih dari 100 meter. Ada kapal lima lantai (dek). Ada pula yang mencapai 10 lantai. ''Kapal logistik dan kapal untuk mengangkut mobil antarpulau,'' ungkapnya. Seingat Sutig, dirinya telah membantu proses pembuatan 12 kapal dalam kurun waktu tiga tahun.
Sutig mengaku sangat bahagia mendapat kesempatan itu. Sebab, dia akhirnya bisa mengantongi sertifikat keahlian welding SMAW. Dia juga mengaku senang dengan mekanisme kerja di Negeri Sakura. Satu bulan pertama bekerja, gajinya mencapai Rp 13 juta. Nominalnya terus meningkat sekitar 20 persen setiap tahun.
Setelah empat tahun bekerja di Negeri Matahari Terbit, kontrak kerjanya berakhir. Saat itu dia sebenarnya mendapatkan tawaran untuk perpanjangan kontrak dengan gaji yang tentunya cukup tinggi. Awalnya, Sutig tertarik, bahkan sempat mendaftar. Namun, teringat akan janjinya kepada sang istri, dia mengurungkan niat itu. Sutig memenuhi janjinya. Sebagaimana yang pernah dilontarkan kepada keluarga sebelum berangkat ke Jepang. Dengan modal tabungannya selama bekerja di Jepang, dia akhirnya membuka usaha sendiri di rumah. Dia pun menyalurkan keahliannya kepada warga sekitar dan menjadi bos di tanah sendiri. (*/c20/pri)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar