Senin, 04 September 2017

Akhir Kisah Kakak Beradik Maswi-Fatimah yang Menguras Empati Publik Banua

PROKAL.CO, Duduk di kursi roda, Maswi (12) hanya terpaku. Matanya menerawang. Di depannya, sang adik Siti Fatimah, terbaring di atas brankar jenazah. Inilah akhir dari drama yang menguras airmata dan empati banyak orang di Banua: Fatimah akhirnya menyerah pada penyakitnya.

Mata Maswi terlihat sembab. Tak terhitung sudah dia menangisi Fatimah. Maklum, sudah lebih dari 1 bulan, dia merawat dan menjaga sang adik yang menderita kanker darah dan tulang di RSUD Ulin Banjarmasin.

Maswi sendiri sebelum sang adik wafat, sekitar pukul 22.50 Wita, baru datang dari kampung halaman di Kabupaten Balangan untuk merayakan Hari Raya Idul Adha pada Sabtu pagi. Ketika itu, kondisi Fatimah sudah dinyatakan kritis dan harus dipindah ke ruang (Pediatric Intensive Care Unit) atau ICU anak.

Beruntung, Maswi sempat menemui adiknya sebelum meninggal. Tak banyak yang dia ungkapkan. Maswi hanya menyebut adiknya sudah tak berbicara ketika dia menemui almarhum di ruang ICU. "Ulun (Saya) ketika bepandir (berbicara) dengan ading (adik) di ruang ICU sudah kada meherani (tak merespons)," tutur Maswi yang masih terlihat tegar, Sabtu (2/9) malam.

Meski terlihat kuat, namun sorot mata siswa kelas VI SDN Nungka Kabupaten Balangan itu tetap menampakkan kesedihan. Sesekali dia menundukkan muka ke pakaian bekas di atas pahanya. Di sampingnya, sang Ibu, Masni yang datang bersama dirinya dari kampung halaman tak berbicara sepatah kata pun.

Perempuan berusia 37 tahun itu hanya diam dengan tatapan mata terlihat kosong. Istri Arbani (57) ini memang disebut-sebut mengalami gangguan mental. Kondisi psikis ini pula yang membuat dia tak bisa menjaga dan merawat almarhum ketika berada di rumah sakit.

Kondisi almarhum sendiri dinyatakan memasuki fase kritis dan harus ditangani intensif sejak Sabtu pagi. Bahkan, untuk penanganan maksimal, almarhum memerlukan asupan tiga kantong darah segar untuk mencegah pendarahan karena mengalami trombositopenia.

Dokter Wulan Dewi yang menangani almarhum sejak dirujuk ke RSUD Ulin mengungkapkan, sebelum Fatimah meninggal dunia, trombositnya sangat rendah. Belum lagi demam dan sesak nafas yang diderita. "Dari tiga kantong darah segar yang disiapkan, satu kantong darah pun tak sempat (ditransfusi)," jelas Wulan kemarin.

Dia menambahkan, selain dilatarbelakangi trombosit yang rendah, faktor psikis almarhum juga salah satu penyebab turunya kondisi Fatimah. "Dia (Fatimah) sangat tergantung dengan sang kakak, akhirnya psikisnya pun ikut terganggu dan mempengaruhi daya tahan pasien," terang Wulan.

Selain psikis sebutnya, ramainya tamu yang datang juga sedikit berdampak terhadap daya tahan tubuh almarhum. Sejak ramainya kunjungan ini, kondisinya sudah mulai turun. Bahkan, untuk perawatan intensif, pihak rumah sakit sudah menyetop kunjungan terhadap Siti Fatimah pada hari Rabu. Namun, kerana pasien tak punya kekebalan terhadap virus yang sudah kena infeksi, akhirnya kondisinya terus menurun. "Pasien yang ada di ruangan yang sama pun sempat kami pindah. Ini untuk menghindari hal hal yang tak diinginkan terhadap pasien lain," tuturnya.

Apa yang dilakukan Maswi demi menjaga sang adik, memang membuat masyarakat prihatin dan menaruh empati. Pasalnya, sang kakak yang masih berusia 12 tahun rela sendiri meninggalkan rumah dan sekolahnya di Kabupaten Balangan demi menjaga sang adik di rumah sakit.

Dari merawat, mengurus administrasi, membersihkan badan sang adik seperti mengganti popok, hingga mengurus transfusi darah ke PMI Kalsel yang lokasinya jauh dari RSUD Ulin, dilakukan sang kakak sendiri.

Keteguhan Maswi merawat sang adik tercinta mendapat empati dan keprihatinan dari masyarakat. Bahkan, Wakil Gubernur Kalsel, Ketua DPRD beserta beberapa anggotanya hingga Kapolda Kalsel sempat menjenguk dan berempati terhadap Maswi dan almarhum. (mof/ay/ran)

Let's block ads! (Why?)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar