Terkini.id, Makassar – Suara Abu Sayyeb Bin Abu Sarma tak kuasa menahan air matanya, sesaat setelah menceritakan usahanya untuk mencoba melarikan diri dari Rohingya, Myanmar.
Saat itu, perkampungan kecil yang dipenuhi rumah-rumah panggung dan semacamnya di porak-porandakan oleh pemerintah setempat yang tidak suka dengan keberadaan mereka.
Spontan, pembicaraan Abu yang menggambarkan kondisi Myanmar berubah menjadi cerita yang begitu dramatis.
"Rumah-rumah yang dibakar langsung saja dibakar tanpa sisa. Kemudian kami sebanyak 230 orang lebih yang mencoba melarikan diri dengan menyebrangi sungai dan rawa-rawa," kata Abu, saat ditemui di Wisma Rupa, Minggu, 3 September 2017.
Suara Abu kemudian lirih, sesaat menceritakan perjalanannya di laut lepas dengan menggunakan perahu kecil yang daya angkutnya berjumlah tujuh puluh orang lainnya sehingga berakhir di tanah serambih mekah atau yang dikenal dengan kota Aceh.
"Sama dengan warga minoritas Rohingya lainnya, kami merupakan pelarian dari diskriminasi dan kekejaman yang diterimadi Myanmar, " ketus Abu.
Saat diatas perahu kata Abu, kami kemudian ditempatkan dijok sekitar agar dapat tertampung dalam kapasitas seadanya. Tepatnya 2014 silam dimana kondisi pelarian sangatlah memprihatinkan, serta persediaan ransum yang tidak mencukupi.
"Kami hanya bertahan hidup dengan berpuasa, perjalanan laut kurang lebih sebelas malam dan tibah di Aceh dan ada juga yang ke Medan dalam dua rombongan kapal, " jelasnya.
Setibanya di tanah serambi mekah tersebut, kami awalnya hanya bertahan hidup dengan alakadarnya.
"Ada warga yang merasa simpatik dengan memberikan tempe, tahu dan mie dan makan sepuasnya, dari hasil swadaya masyarakat setempat," paparnya.
Abu mengatakan larinya dari Myanmar sebelumnya kapal mereka tidak diperbolehkan merapat ke Thailand dan Bangladesh. Bantuan dari kedua negara tersebut hanya berupa makanan seadanya, dilemparkan dari helikopter.
"Pasokan yang tipis, anya makan sehari sekali, minum dua kali sehari. Ada dapur di kapal, untuk memasak nasi dan garam. Mie instan kami makan mentah tanpa dimasak," tambahnya.
Ia juga merasa diselamatkan oleh para nelayan di Aceh saat persediaan makanan mereka habis. Kini dia bisa memakai pakaian yang pada umumnya digunakan oleh masyarakat setempat.
"Ada beberapa warga Rohingya yang kini ditampung di beberapa lokasi di Aceh. Lantaran belum begitu menguasai bahasa Indonesia kami kemudian dijanjikan untuk beralih ke Australia, namun ayal kami malah dibodohi dan terdampar di Kupang kemudian di tahan Imigrasi setempat," jelasnya.
Setelah sebelas Bulan terkotang – katung di Kupang, United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR) yang bergerak sebagai Komisioner Tinggi PBB untuk Pengungsi di Makassar merespon keberadaan kami yang sempat tertahan oleh Imigrasi setempat.
"Akhirnya kami dilarikan di kota Makassar, namun sangatlah disayangkan kami belum bisa melakukan rutinitas seperti biasanya lantaran masih dalam status pengungsi," ketus Abu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar