
TRIBUN-MEDAN.com - Hingga hari ini, Amelia Yani, putri dari Achmad Yani, salah satu Pahlawan Revolusi, mengaku tidak pernah bisa melupakan kepedihan yang dialaminya pada 1 Oktober 1965.
Ketika itu, dini hari, sekelompok tentara meluruk ke rumahnya di Jalan Lembang Nomor D 58, Jakarta Pusat.
Peristiwa itu berlangsung begitu cepat, mungkin tidak sampai setengah jam.
Sebuah waktu yang singkat namun mempengaruhi perjalanan hidupnya kemudian.
Baca: Lama Tiada Kabar, Tyas Mirasih Muncul dengan Kabar Kecelakaan, Warganet Merasa Ngilu
Baca: Isyana Sarasvati Diserbu Komentar Warganet Terkait Unggah Merangkul Pria
Baca: Gak Nyangka, Si Cantik Chelsea Olivia Biarkan Cuek pada Anaknya untuk Urusan Satu Ini, Kenapa?
Dalam buku biografinya, Sepenggal Cerita Dari Dusun Bawuk, diterbitkan Pustaka Sinar Harapan (2002) Amelia menuliskan larik-larik kesaksiannya.
Aku melihat sesosok tubuh sedang diseret-seret tanpa belas kasihan.
Yang diseret adalah kedua kakinya; tangan, badan, dan kepala dibiarkan terseret-seret di lantai, berlumuran darah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar