Sabtu, 02 September 2017

Mengiris Hati! Kisah Perempuan Rohingya yang Diperkosa dan Dibunuh

SURATKABAR.ID Kekerasan yang dilakukan Militer Myanmar pada Muslim Rohingya sangatlah keji. Kisah yang menyayat hati telah dilontarkan oleh salah satu pengungsu muslim Rohingya yang berada di kamp Bangladesh.

Hamida Begum adalah salah satu pengungsi yang sudah meninggalkan Myanmar, ia membeberkan kisah yang sangat menyayat hati tentang kekerasan yang dilakukan oleh Militer Myanmar terhadap muslim Rohingya.

"Mereka memukuli kami, menembaki kami, dan memburu orang-orang kami sampai mati. Banyak orang terbunuh, wanita diperkosa dan dibunuh, kami sangat miskin, suami saya hanyalah buruh harian," ungkap Hamida seperti dilansir Jawapos.com.

Ia mengaku konflik yang mulai pecah sejak Jumat (25/8/2017) itu membuat etnis Rohingya kehilangan segalanya. Tidak hanya merasakan kemiskinan yang seolah tidak ada ujungnya muslim Rohingya kini pun juga harus merasakan kehilangan anggota keluarga.

Pengungsi lain juga mengatakan bahwa ia kini sudah tidak punya apa-apa lagi sejak tentara Myanmar menyerang. "Mereka disiksa sampai mati. Rumah kami terbakar dan kami kehilangan semuanya di sana," ujar salah satu pengungsi tersebut.

Peristiwa yang dijuluki dengan operasi pembersihan oleh Militer Myanmar memaksa muslim Rohingya meninggalkan rumah mereka. Pemerintah Myanmar menyatakan terhitung sejak Kamis (31/8/2017) ada 399 korban jiwa dan 370 orang diantaranya dianggap teroris.

Pernyataan yang sangat bertolak belakang dari para aktivis yang menyebutkan bahwa Militer Myanmar telah membunuh wanita, anak-anak, dan banyak orang yang tidak bersalah.

Tak heran jika banyak muslim Rohingya memilih untuk kabur ke kamp pengungsian di Bangladesh, mereka harus melihat banyak pembantaian dan tidak punya uang, sehingga mereka terpaksa harus menempuh perjalan yang jauh dan berbahaya ke perbatasan Bangladesh.

Operasi pembersihan ini membuat Direktur Eksekutif Nexus Fund, sebuah LSM, Sally Smith angkat bicara. "Penganiayaan terhadap orang-orang ini telah berlangsung selama beberapa decade. Dalam beberapa hari terakhir, apa yang terjadi pada Rohingya sangat mirip dengan apa yang terjadi pada Oktober lalu," kata Smith.

Sally Smith memegang teguh komitmennya untuk mencegah kekejaman terhadap masyarakat.

Let's block ads! (Why?)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar