Selasa, 26 September 2017

Sepenggal Kisah “Anak Terbuang” 2 Anak Aidit Untung Pasca G30S/PKI

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Ketika publik Indonesia ramai membicarakan lagi perihal kekejaman Partai Komunis Indonesia (PKI) dalam tragedi berdarah tahun 1965, mungkin ada juga yang mengutuk-ngutuk perilaku keji para anggota PKI, kita mungkin tidak tahu perasaan dan isi hati keluarga, khususnya anak-anak Ketua PKI Aidit Untung dan para anggotanya.

Mungkin anak-anak mereka waktu itu masih kecil sehingga  tidak tahu persis sepak terjang orangtua mereka dengan PKI, dan aksi brutal yang dilakukan para pembunuh para jenderal dan lain-lainnya pada peristiwa kelam G30S/PKI itu.

Kita juga mungkin tidak tahu banyak tentang bagaimana stigma yang mereka dapat sebagai anggota keluarga PKI dan sejauh mana masyarakat, termasuk anak-anak seumuran mereka memperlakukan mereka dalam keseharian, entah ada yang menerimanya tanpa perasaan apa-apa, dan mungkin ada yang selalu mengucilkan mereka. Sekali lagi, kita tidak tahu persis.

Dalam kaitannya dengan itu, mungkin orang-orang yang ingin diketahui keadaan dan perasaan mereka adalah anak dari Aidit Untung, dimana Aidit Untung sendiri hingga kini mungkin masih dianggap sebagai musuh besar bangsa ini.

Di bawah ini dicuplik dari beberapa sumber yang mengisahkan sepenggal kisah tentang anak Aidit Untung seperti Ilham Aidit dan Ibarruri Sudharsono Aidit.

Anak Dipa Nusantara Aidit Untung  atau yang lebih dikenal dengan DN Aidit, yang terakhir ini menceritakan kisahnya sebagai "manusia yang terbuang". Ketika peristiwa 1965 terjadi, ia baru berusia 16 tahun dan sedang bersekolah di Moskow.

 Tapi bagi rejim Soeharto, ia adalah seorang berbahaya yang "langsung atau tidak langsung pasti terlibat G30S/PKI". Paspornya dicabut dan ia kehilangan kontak dengan keluarga di Indonesia. Dalam waktu yang sangat lama ia tidak tahu dimana keluarganya berada.

Ibarruri bercerita,  bahwa ketika sedang kuliah di luar negeri, ia punya teman bicara yang cukup dekat di kampus. Suatu kali, Ibarruri menunjukkan kartu identitasnya yang memuat nama Aidit. "Waktu tahu saya anak Aidit…, teman saya terdiam, kemudian lari."

Kisah traumatis serupa juga diungkapkan oleh Ilham Aidit, adik dari Ibarruri Aidit.  Dia mengaku sejak terjadinya Gerakan 30 September tersebut dirinya harus merelakan nama belakangnya tidak disandingkan dengan nama depannya.

"Saya yang terbiasa menggunakan nama Ilham Aidit kini sudah tidak bisa lagi. Tangan saya berhenti lama sekali. Namun sejak saat itu saya tidak berani menambahkan nama Aidit."

Selama puluhan tahun dia pun tidak lagi menuliskan Aidit dibelakang namanya. Hingga akhirnya tahun 2003 dia melihat namanya disandingkan dengan nama Aidit di dalam foto di sebuah media. "Pertama kali saya melihat itu saya terharu sekali. Saat itu saya memakai nama itu lagi dan saya tetap hidup."

"Setelah G30S saya keluar rumah. Tiba-tiba saya melihat tulisan besar gantung Aidit, bubarkan PKI. Saya terkejut. Badan saya bergetar, jiwa saya bergetar," kisah Ilham dalam acara tersebut.

Sejak itulah Ilham tahu bahwa kehidupannya akan sama sekali berbeda. Tetapi, sebagai seorang beriman, ia tetap berdiri teguh menjalankan kehidupannya.

Beruntung dia pun diangkat anak oleh beberapa keluarga. "Ayah saya didaulat sebagai musuh besar bangsa. Puluhan tahun itu terjadi, bahkan hingga kini. Dan saya dan saudara-audaraku tidak bisa berbuat apa-apa".

 "Namun ada tangan-tangan lain, saya diangkat anak. Masa sekolah saya sulit sekali, semua bilang PKI, saat itu saya punya reaksi melawan, tetapi mulut tetap katub tak berkata apa-apa, hanya begitu sedih".

Ilham mengatakan, apa pun upaya mereka merekonsiliasikan tragedi tersebut perlu banyak hal yang harus dicermati. Dia pun hingga kini terus berharap agar rekonsiliasi ini tidak hanya rekonsiliasi semu. "Rekonsiliasi butuh sifat kesatria dan jiwa besar. No future without forgiveness," ungkap Ilham suatu ketika seperti sikutip m.tempo.co dan sejumlah media saat itu.

Lalu, apa perasaan-perasaan mereka yang nanar hari ini dalam sanubari mereka? Kita tetap tidak tahu, dan tetap tidak tahu.  Sekali lagi tidak tahu.

Dan hingga saat ini, ada ribuan anak-anak yang lahir dari keluarga yang dulunya dimasukkan sebagai keluarga PKI yang jahanam itu. Dan kita juga tidak tahu apa perasaan mereka yang selalu hidup dalam balutan stigma sebagai keluarga PKI itu.

Kita hanya tahu kalau mereka adalah anak-banak bangsa ini juga yang terus meniti buih perihnya kehidupan ini, ada masa cerah dan ada masa kelam. Semua akan sampai pada titik tertentu di akhir perjalanannya masing-masing.

 

Let's block ads! (Why?)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar