
Inspirasi bisa datang dari mana saja. Bisa dari melihat kesuksesan orang lain ataupun pengalaman sendiri.
Kali ini di acara seleksi awak kumparan bertajuk 'kumparan 1001 lowongan', inspirasi ditebar oleh narasumber yang sukses di bidangnya masing-masing. Cerita mereka dibalut dalam talk show bertajuk 'Young and Innovative'.
Inspirasi pertama datang dari Lucy Wiryono. Dulu mungkin kita mengenal Lucy sebagai presenter acara olahraga, namun kini ia juga menggeluti busnis kuliner. Ya, saat ini dia merupakan founder restoran steak Holycow.
Saat ditanya motivasi pertama Lucy membangun Holycow, tak lain dan tak bukan karena di Indonesia, harga sepotong steak wagyu saja, cukup mahal.
"Cetek ya sebenernya (keinginannya) mau makan enak tapi enggak mau bayar mahal," ujar Lucy di Kuningan City Mall, Jakarta Selatan, (29/9).
"Saya awalnya denger erita suami saya, Afit, soal lezatnya steak hotel atau biasa disebut wagyu, Namun harganya yang mahal yaitu sekitar Rp 700.000 buat hidangan ini jadi hidangan yang esklusif," jelas Lucy.
Baru pada awal tahun 2010, ia memberanikan diri untuk memulai usaha. Bermodal Rp 70 juta, Lucy dan Afit, sepakat membuat bisnis restoran steak dengan nama Holycow.
"Afit sebagai chef, secara total berhenti dari pekerjaannya. Awalnya mustahil, tapi ternyata dalam waktu 4 bulan sudah bisa balik modal," ungkapnya.
Baca Juga :
Dan ada dua hal yang menjadi modal utama Lucy membangun Holycow, hingga bisa menjadi seperti sekarang ini.
"'Inovasi dan komitmen, intinya itu. Pilih satu hal dari dua itu kemudian baguslah dalam hal tersebut," imbuh dia.
Lalu pernahkah bisnis Lucy mengalami kendala?

Lucy menjelaskan, tentu saja pernah. Membangun bisnis dengan suami sendiri menurutnya bukan hal yang mudah. Namun dia memiliki solusi jitu.
"Kuncinya jangan baper' dan terbuka soal masalah keuangan," kata dia. Menurut wanita yang berusia hampir 40 tahun ini, ia beruntung suaminya mau 'buka-bukaan' soal uang.
Kisah inspiratif selanjutnya dibeberkan oleh Hana Keraf founder dari Du'Anyam. Du'Anyam adalah perusahaan yang bergerak di bidang kerajinan tangan (Handycraft). Bisnis ini dimulainya pada tahun 2015.
"Saya terinspirasi dari kehidupan sosial masyarakat NTT yang serba terbatas. Terutama menyangkut soal kehidupan perempuan dan anak di pulau Komodo itu. Pernah suatu waktu saya dapat kabar bahwa ada seorang Ibu hamil yang melahirkan di atas kendaraan umum dan nahasnya, bayinya tak bisa diselamatkan, akibat tak punya cukup biaya persalinan yang layak," kisah Hana.
Dari situlah kemudian Du'Anyam mulai mengarahkan bisnisnya ke arah social enterpreneur. Hanna melibatkan perempuan hamil dan Ibu rumah tangga di NTT sebagai karyawan perusahaan. Dari situ, keuntungan yang didapat perusahaan digunakan untuk membantu peningkatan perekonomian masyarakat setempat.
"Saat ini ada dua proyek yang dijalankan Du'Anyam, yakni proyek bisnis dan sosial. Untuk bisnis sosial, kami sedang menjalankan program peningkatan gizi untuk para ibu dan wanita yang menganyam. Jika mereka menganyam di Du'Anyam, sebagian pendapatan mereka disisihkan untuk peningkatan ekonomi di sektor lain," ungkapnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar