Selasa, 24 Oktober 2017

Kisah Cinta Anak Pesisir Banyuasin Difilmkan

Artis pemeran film kisah Cinta Dua Dunia yang menceritakan cinta anak pesisir Banyuasin telah difilmkan. Foto: Adi/Sumeks

PALEMBANG – Selama ini tidak banyak orang yang mengetahui, sulit untuk menikah berbeda suku terutama di kawasan Jalur 3 Telang Bandung Desa Sumber Jaya Kecamatan Sumber Marga Telang, Banyuasin. Fenoma yang terjadi di masyarakat tersebut, dijadikan bahan inspirasi Akhmad Kapno untuk merilis film layar lebar dengan judul Cinta Dua Dunia.

"Kita coba mengangkat cerita dua suku besar yang ada di Banyuasin yakni Bugis dan Jawa. Tapi kedua suku ini tidak bisa bersatu dalam percintaan," kata Sutradara Film Cinta Dua Dunia, Akhamd kapno yang ditemui di sela-sela launching atau pemutaran perdana di Graha Bandara Insani, Kelurahan Talang Jambe, kemarin (23/10).

Disebutkannya, selama ini di Jalur 3, Suku Bugis ataupun Suku Jawa, selama ini masih berpegang kuat dengan adat istiadat dan tradisi terutama yang berkaitan dengan perkawinan. Dimana, kedua suku ini, sama-sama tidak boleh mempersunting dari suku lain atau hanya dari kalangan suku saja. Baik itu untuk kaum laki-laki atau perempuan. " Semoga bisa menyatu dalam perkawinan," ulasnya.

Bahkan menurutnya, kedua suku ini sagat sulit bersatu dan masih tetap mempertahankan ego masing-masing. Setidaknya, melalui film ini, kebuntuan tersebut bisa terpecahkan dan bisa membaur. "Ini nyata terjadi di kampung saya. Semoga dari sini, ego orangtua bisa mencair. Sehingga tidak ada lagi pertentangan saat anak berlainan suku menjalin asmara," bebernya.

Cerita ini, mengisahkan tentang percintaan antara Aziah yang diperankan Afika gadis dari Suku Bugis dengan Cahyono yang diperankan oleh Harmanto bujang dari Suku Jawa, tapi hubungan keduanya tidak direstui ayahnya Afika, Ramli.

Berawal dari Cahyono yang baru mendiami Jalur 3 mampu membuat Aziza jatuh hati, hingga akhirnya memutuskan untuk berpacaran. Singkat cerita, Cahyono mengajak Azizah untuk menikah, persoalan muncul, ketika Ramli ayah Azizah yang merupakan orang terpandang di kampung dari Suku Bugis masih menganut tradisi menikahkan anaknya juga dari Suku Bugis.
Walaupun ditentang, keduanya tetap nekat menjalin hubungan asmara. Di sisi lain, Jamal, orangtua dari Cahyono juga menolak anaknya berhubungan dengan Azizah. Hanya saja, ending dari cerita ini keduanya akhirnya menikah ketika Azizah mengalami sakit.

" Azizah meruapakan anak orang kaya, terpandang dan berpendidikan. Sedangkan Cahyono, pemuda biasa-biasa saja, hingga akhirnya kedua belah pihak setuju dan menikahkan keduanya dengan menggunakan adat dari Suku Jawa dan Bugis. Saya harap ini jadi inspirasui semua orangtua," terang Ahmad.

Yang menarik dalam film ini, selain lokasi syuting ada di Jalur 3 Kecamatan Sumber Marga Telang, juga menggunakan empat bahasa. Yakni, Bugis, Jawa, Palembang dan Indonesia. Sedangkan untuk syuting membutuhkan waktu selama sepekan pada bulan Agustus 2017 dengan durasi film selama 1 Jam 45 menit. " biaya yang kita gunakan mencapai RP 300 juta," ulasnya.

Untuk pemain, diakuinya, baik pemeran utama ataupun pemeran pengganti dan pendukung seperti kameramen, semuanya menggunakan warga asli Jalur 3. Dengan kata lain, tidak ada yang basicnya aktris ataupun aktor. Semua mengalir secara alamiah. Apalagi, ceritanya juga dibuat oleh petani sawah di Jalur 3.

" Kesulitannya saat mengambil gambar, bisa diulang sampai 30 kali. Karena memang, semuanya bukan aktor yang sudah berpengalaman. Setelah ini, aan diputar di seluruh balai desa se Kabupaten Banyuasin," bebernya.

Afika Despriyanti, pemeran Azizah dalam film Cinta Dua Dunia mengungkapkan, film ini seharusnya menjadi inspirasi bagi semua orang terutama orangtua yang menganut tradisi dan adat menikahkan anak dalam satu suku yang sama. Yang menarik, ketulusan Cahyono yang meski ditentang untuk berhubungan dengan Azizah tetap sabar dan berjuang demi pujaan hatinya.

"Benar-benar kisah nyata, karena memang antara Bugis dan Jawa sangat sulit untuk dipertemukan dalam pernikahan. . saya berharap, setelah ini tidak pertentangan seperti itu terutama di Kabupaten Banyuasin," ungkap mahasiswi semester III FKIP Universitas Muhammadiyah Palembang (UMP) tersebut.

Bupati banyuasin, SA Supriono ditemui usai menonton mengatakan, film ini menjadi sumber inspirasi bagai anak muda untuk terus berkarya dan kreatif. Karena itu, dirinya berjanji akan membantu pemuda untuk memajukan Kabupaten Banyuasin di tingkat nasional ataupun internasional.

" Kalau kita lihat, ini seperti miniatur Indonesia. Karena memang di Banyuasin berbagai etnis dan suku ada. Lagipula, film ini seperti membawa kita kembali ke kampung. Sebab lokasi dan bahasa serta semua hal benar0-benar alamiah," tutupnya. (afi)

Berita Lainnya!

Let's block ads! (Why?)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar