Senin, 02 Oktober 2017

Kisah Ibu 9 Anak, Jual Becak Keliling Madiun setelah Ditinggal Pergi Suami

KIBLAT.NET, Madiun- Di sebuah rumah kecil yang terletak di Mangunharjo, Madiun, Niswadi tinggal bersama istri dan anak-anaknya. Sehari-hari, Niswadi bekerja sebagai tukang becak dengan penghasilan yang tak seberapa.

Permasalahan ekonomi memang menjadi problem bagi Niswadi. Bahkan, meski sudah bekerja ekstra, ia masih belum mampu mencukupi kebutuhan keluarganya sekalipun untuk menyekolahkan anaknya.

Sayangnya, sudah lebih dari tiga pekan lamanya, Niswadi pergi meninggalkan keluarganya. Terlebih lagi, tak ada yang ditinggalkan Niswadi untuk keluarganya, kecuali becak yang biasa digunakannya untuk bekerja. Bahkan istrinya Sri Lestari (35 tahun), tak mengetahui pasti ke mana suaminya itu pergi.

Informasi berbeda datang dari tetangga Sri sendiri, Dina Pasa yang berproferi sebagai petugas Amil Lembaga Zakat FKAM Madiun. Menurutnya, Niswadi merupakan salah-satu anggota aktif Jemaah Tabligh.

"Niswadi hanya mbecak, itupun kalau di rumah. Sedangkan beliau juga sering keluar kota untuk keperluan Jamaah Tabligh, sehingga kami memberi santunan kepada keluarga yang dirumah. Tahun 2014, masih ada kedua orang tua Sri, dan anaknya masih enam," tutur Dina kepada Kiblat.net, Kamis (29/09).

Meski tidak rutin, lembaga yang dikelola Dina cukup sering memberi santunan kepada keluarga Niswadi sejak tahun 2014. Karena memang sejak dulu Niswadi dan keluarganya tak berkecukupan.

Selain itu, Dina cukup memahami kondisi ekonomi keluarga Niswadi. Kerap kali, Dina memberi keluarga Niswadi makanan. Ketika memasak, ia melebihkan lauk dan nasi untuk kemudian diberikan kepada keluarga Niswadi.

Rumah Niswadi dan Sri Lestari (sumber: Pemkot Madiun)

Niswadi dan Sri memiliki sembilan orang anak. Anak sulung diasuh oleh saudara Sri yang tinggal di Riau. Anak kedua dan ketiga mendapatkan beasiswa sekolah gratis di Pondok Pesantren Temboro, Magelang, Jawa Timur. Sedangkan keenam anaknya yang lain kini diasuh oleh Sri sendiri. Keterbatasan ekonomi itu pula turut menghambat keenam anaknya ini untuk merasakan duduk di bangku sekolah.

Untuk mencukupi kebutuhan keluarga saja, Sri biasanya hanya mengandalkan penghasilan "mbecak" suami. Dalam sebulan, Niswadi hanya mampu menghasilkan sekitar 400 ribu rupiah.

Namun kini, kondisi itu diperparah dengan 'menghilangnya' Niswadi. Kendati demikian, Sri tak mau pasrah dengan keadaan. Ia berjuang seorang diri untuk menghidupi enam orang anak yang tinggal bersamanya.

Setiap pagi sejak ditinggal suami, Sri keluar berkeliling Kota Madiun, menawarkan kepada orang-orang yang mau membeli becak milik suaminya itu. Meski panas semakin terik, Sri tidak patah semangat. Ia tatap mendorong, menyisiri jalanan dan menjajakan barang peninggalan suaminya itu.

Perihal Niswadi, Dina menuturkan, bahwa suami Sri ini memang menjadi anggota aktif di Jamaah Tabligh. Niswadi juga sering keluar daerah untuk berdakwah di masjid-masjid.

"Dulu, sebelum hilang kabar 3 minggu terakhir ini, Niswadi kadang masih saya lihat ada di Masjid Agung Madiun. Namun sekarang entah kemana. Mungkin juga tidak ada kabarnya karena tidak memiliki ponsel, karena memang keluarga mereka tidak berpunya," ungkap Dina.

Selain itu, menurut penuturan Sri, sebelumnya, suaminya itu juga pernah pergi keluar daerah paling lama seminggu. Namun, Sri selalu mendapatkan kabar ke mana Niswadi pergi.

"Kadang keluar daerahnya, para jamaah ini kan sampai keluar Jawa Timur dan Jawa Tengah, bahkan ada yang sampai Jakarta. Dan para jamaah juga tidak sedikit yang keluar hingga sebulan sampai tiga bulan," tuturnya.

Dina menjelaskan, saat ini Sri berserta ke-6 anaknya akan ditangani oleh Lembaga Amil Zakat Nurul Hayat (NH) Madiun. Kabar yang ia dapatkan, NH juga akan memfasilitasi pendidikan untuk ke-6 anak yang tinggal bersama Sri.

Sri juga ditawari modal untuk membuka usaha. Namun, kata Dina, Sri sempat bimbang. Pasalnya, Sri bingung kepada siapa anak-anaknya akan dititipkan selama ia sibuk bekerja. Sedangkan kedua orang tua Sri sudah meninggal dunia.

Reporter: Muhammad Jundii
Editor: Syafi'i Iskandar

Let's block ads! (Why?)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Incoming Search