Minggu, 01 Oktober 2017

Kisah Pahlawan Revolusi yang Bertaut Takdir dengan Saracen

Beberapa hari setelah percobaan kudeta yang gagal itu, tepat di hari ulang tahun TNI, 5 Oktober 1965, iring-iringan militer keluar dari Aula Departemen Angkatan Darat. Sejak semalam sebelumnya, tujuh jenazah Pahlawan Revolusi disemayamkan di sana.

Selain enam jenderal, ada pula jenazah perwira Pierre Tendean yang turut ditangkap saat peristiwa penculikan. Pasukan Cakra Birawa yang menculiknya mengira Tendean adalah Jenderal Nasution.

Harian Kompas 6 Oktober 1965 menggambarkan tiga puluh truk RPKAD berjalan di depan rombongan. Konvoi bergerak ke arah Taman Makam Pahlawan, tempat tujuh Pahlawan Revolusi akan dimakamkan. Iringan berjalan tenang membelah jalanan Jakarta.

Sekitar pukul 12.30 siang mereka tiba di tujuan. Tank-tank berjejer di kanan kiri jalan menjelang Kompleks Taman Makam Pahlawan.

Formasi itu penghormatan pada iringan kereta merta yang membawa tujuh Pahlawan Revolusi.

"Para jenazah diturunkan dari kendaraan-kendaraan panser yang membawa mereka ke tempat istirahat terakhir," tulis Harian Kompas.

Tujuh peti jenazah berbalut bendera merah putih diletakan di atas panser yang tak lain FV603 Saracen. Jenazah Jenderal Anumerta Ahmad Yani dan Mayjen Anumerta Sutojo Siswomihardjo berada di antara tujuh jenazah Pahlawan Revolusi yang dimakamkan hari itu.

"Panser-panser ini adalah peralatan yang dibeli Bapak dalam Misi Yani," kenang Amelia Ahmad Yani dalam buku Profil Seorang Prajurit TNI.

Di London, tahun 1959, keduanya mungkin tak menyadari tengah membeli kereta merta yang mengantarnya ke peristirahatan terakhir tujuh tahun kemudian.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini

https://www.vidio.com/watch/152116-peringatan-hari-kesaktian-pancasila-mengenang-gugurnya-pahlawan-revolusi

Let's block ads! (Why?)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Incoming Search