
TRIBUN-MEDAN.COM, MEDAN - Herman Pohan (34 tahun), tampak terbata‑bata bercerita ketika ditanya alasan mengapa terlibat dalam tindakan kejahatan memalsukan surat izin mengemu (SIM).
Ia mengusap‑usap wajahnya, dan menunduk sesekali seraya menyeka buliran air mata di wajahnya.
"Saya mau kerja kek gini karena kondisi ekonomi. Saya sangat sedih, saat anak saya meminta es krim yang harganya Rp 2.000 saja tidak sanggup aku beli, saat diminta anak saya. Saya malu sekali, terpukul sekali saya, hanya Rp 2.000 tidak bisa saya belikan es krim yang lewat dari depan rumah," ujar Herman saat ditemui di raung Penyidik Ditkrimum Polad Sumut, Senin (2/10), saat memulai ceritanya.
Baca: Pengakuan Polisi Pembuat SIM Palsu, Bripka Ridha: Istriku Selingkuh dengan Temanku Sesama Polisi
Herman pernah empat tahun bekerja sebagai tenaga honorer pada Satuan Administrasi Pelayanan Surat Izin Mengemudi (Satpas SIM) Kepolisian Resor Kota Besar Medan. Dia kemudian berhenti kerja. Selepas itu, kesulitan ekonomi menderanya.
"Saya dulu disuruh lari saat ada kasus di Satpas Polrestabes Kota Medan 2015 lalu, saya disuruh pergi supaya berkas kasus itu tidak lengkap," tuturnya.
Saat itu, pamannya terlibat kasus di Satpas Polrestabes Medan. Semula pamannya menjanjikan menangung biaya hidup anak‑anak dan istri Herman. Ternyata belakangan tidak ditepati.
"Saya pulang belakangan, saya lihat anak saya sangat kurus, istri saya tidak terurus, tulang (paman) itu tidak menepati janjinya," ujarnya.
Sejak dia kembali ke keluarganya, setelah melarikan diri selama delapan bulan, dia pun bertekad mengubah nasib keluarganya tanpa meminta bantuan apa pun dari keluarga besar.
Sejak dia pergi, dan kembali lagi, tidak seorang pun keluarga yang bersedia membantunya.
Baca: ANEH! SIM Palsu Buatan Bripda Ridha Lebih Bagus Dari pada Buatan Satlantas, Kok Bisa?
Kemudian saat dia mulai mencoba mengubah nasibnya, Herman justru bertemu dengan B, temannya yang mengajarinya mencari uang dengan cara menjual SIM palsu. Akhirnya dia membuat tim pemalsu SIM dan menjual SIM palsu tersebut.
"Sempat jaya saya dari memalsukan SIM, namun sudah terungkap. Saya tidak tahu lagilah nanti ke depannya nasib keluarga bagaimana," kata Herman.
Ia bercerita dia sangat menyesal melakukan kejatahan karena sudah tidak bisa lagi bekerja untuk memberikan nafkah kepada keluarganya. Kerja yang dilakukanya ini tidaklah merugikan orang lain seperti yang dilakukan pelaku kejahatan begal maupu penipuan lainnya.
"Kami tidak merampok. Tidak merugikan orang lain. Tidak menjual narkoba," ujarnya.
Pada akhir perbincanganya, Herman menceritakan harapan, kiranya keluarga besarnya membantu hidup anak dan istrinya, karena dia sangat khawatir.
"Saya mohon kepada kakak, dan saudara saya yang lain. Kasihanlah sama istri dan anak saya. Tolong dibantu. Saya sudah tidak bisa lagi mencari nafkah buat mereka," ujarnya.(ryd)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar