Senin, 30 Oktober 2017

Tentang Dawuk, Novel Pemenang Kusala Sastra Khatulistiwa 2017

Kepada Liputan6.com, Mahfud Ikhwan bercerita banyak soal proses kreatif dalam menciptakan Dawuk hingga menjadi sebuah novel.

Mahfud mengatakan, nama Dawuk sendiri berangkat dari premis awal di masyarakat Pantai Utara Jawa. Diceritakan olehnya, Dawuk merupakan warna dari bulu kambing, campuran antara putih dan hitam, tapi cenderung gelap.

"Kalau bahasa Indonesianya yang paling dekat dengan Dawuk itu ya kelabu. Makanya Dawuk itu di sini (novel) punya makna yang ganda. Di satu sisi sebagai ejekan untuk nama tokoh utamaku, Muhammad Dawud. Tapi, di sisi lain, Dawuk menggambarkan keseluruhan isi novel tentang sesuatu yang gelap, tapi tidak sepenuhnya gelap."

Novelis kelahiran 1980 ini kemudian melanjutkan, Dawuk dikerjakannya setelah ia selesai menonton film Machete pada tahun 2010. Machete sendiri merupakan film Amerika yang menceritakan imigran asal Meksiko yang memiliki banyak musuh di negeri Paman Sam.

Dalam gambarannya tentang Machete, menurut Mahfud, pasti ada sosok seperti itu pada imigran-imigran asal Indonesia. "Gabungan antara nasib buruk dan keberanian yang berlipat, kira-kira seperti itu," tambahnya.

Maka itulah, dalam penghargaan KSK rabu kemarin, Mahfud memberikan tribut kepada teman-temannya yang bekerja sebagai buruh imigran.

"Aku mengenal orang-orang yang berjuang hidup mati untuk menyeberang ke negeri seberang, menjadi bulan-bulanan di negeri jiran. Bahkan, beberapa orang mati. Banyak orang yang pulang dengan menjadi kaya, tapi banyak juga yang hilang, dalam artian hidupnya hancur, keluarganya hancur, cita-citanya hancur."

Terkait dengan menangnya Dawuk dalam ajang KSK kemarin, pendiri dari penerbit Marjin Kiri, Ronny Agustinus, mengatakan bahwa pandangannya terhadap Dawuk tidak berubah. Ia mengatakan bahwa ini adalah karya bagus dan penting.

"Kami menganggap bagus dan penting bukan dari jenisnya novel atau kumcer, tapi dari penulisan, tema yang diangkat, dan keutuhannya sebagai sebuah karya. Serta relevan secara sosial atau tidak," ujarnya.

Let's block ads! (Why?)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar