Jumat, 05 Januari 2018

Kisah Pendeta Melayani di Daerah Terpencil, 10 Kali Jatuh dari Motor hingga Masuk Jurang

Liputan Wartawan Tribun Manado  Valdy Vieri Suak

TRIBUNMANADO.CO.ID, MINAHASA TENGGARA  - Menjadi pendeta tentu membutuhkan jiwa dan semangat tinggi dalam melayani. Terlebih bagi yang bertugas di daerah terpencil.

Ada banyak hal yang harus dikorbankan, mulai dari waktu, tenaga, sampai keluarga. Seperti yang dialami Pendeta Vicber Motolu yang melayani jemaat GMIM Kanaan Pisa.

Pendeta Vicber Motolu
Pendeta Vicber Motolu (Tribun Manado)

Desa Pisa yang berada di pelosok Kabupaten Minahasa Tenggara (Mitra) ini merupakan salah satu daerah terpencil. Akses masuk ke desa ini cukup jauh, dari Ratahan, ibu kota Mitra, butuh perjalanan sekitar 2,5 jam. Jalan sempit dan ada beberapa jalur yang masih rusak membuat kendaraan roda empat agak kesulitan melintasi jalan menuju desa.

Namun, pelayanan Pendeta Vicber dimulai sejak jalan belum diperbaiki. Tanah yang licin masih menjadi tumpuan ban motor saat melintas. Ia mengaku diawal bertugas pada 2015, akses untuk masuk ke Desa sangat sulit.

Hanya roda dua yang bisa masuk, bukan roda dua biasa, tapi harus dimodifikasi begitu katanya. "Harus ban motor yang bergerigi kalau motor standar sulit lewat," jelasnya.

Saat hujan, ia lebih kesulitan, bahkan ia mengaku sudah sepuluh kali jatuh dari motor. "Sepuluh kali jatuh dari motor dan bahkan pernah masuk jurang. Tapi, itu dulu sebelum jalan di perbaiki tapi saat ini jalan sudah cukup bagus untuk dilalui," akunya.

Pendeta Vicber Motolu terjatuh dari sepeda motor saat dalam perjalanan pelayanan.
Pendeta Vicber Motolu terjatuh dari sepeda motor saat dalam perjalanan pelayanan. (Tribun Manado)

Namun, baginya hal itu bagian dari pemberi semangat untuk melayani. Tantangan awal ia dapat saat melihat kondisi Gereja di awal ia bertugas.

Kayu busuk, bambu masih menjadi tembok dan penyangga gedung Gereja. "Saat itu memang masih terlihat bangunan Darurat. Hanya semangat melayani yang menguatkan saya untuk terus berbuat," ujarnya.

Bulan berganti bulan, bangunan gereja mulai direnovasi bantuan dan diakonia dari jemaat mulai memperlihatkan indahnya bangunan gereja di pelosok itu.

"Mulai kita bangun dinding beton, pintu sampai semua tertutup. Sehingga saat beribadah Jemaaat lebih nyaman," akunya.

Tak hanya itu, menjadi pelayan iman di desa terpencil banyak yang harus di korbankan. "Keluarga besar saya ada di Desa Lola, Minahasa, tapi saya jarang bertemu, karena fokus pada pelayanan," ungkapnya.

Bahkan, saat Natal dan Tahun Baru ia harus bersama jemaat. "Natal dan Tahun baru saya tetap di Pisa bersama jemaat. Sebab, di sini hanya saya pendeta tak ada guru agama juga. Di sini kita ada 39 kepala keluarga dengan 113 jiwa," bebernya.

Meski melayani di pelosok namun ia mengaku tetap memiliki semangat menumbuhkan iman Jemaat. "Saya tetap berpegang teguh dalam pelayanan. Dimana saya bertekad membangun semangat kuat iman Jemaat di Pisa," akunya.

Ia pun mengaku memiliki harapan agar iman jemaat Pisa lebih kuat lagi. "Semuanya saya kerjakan sepenuh hati dengan harapan iman jemaat tumbuh untuk melayani. Dan siap memberi diri untuk Tuhan dalam segala hal," tandasnya.

Let's block ads! (Why?)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Incoming Search