Senin, 19 Februari 2018

INSPIRASI BISNIS: Kisah Petani Organik yang Bisa 'Menghidupkan' Satu Kampung

KETAPANG - Mujilah begitu bersemangat memanen kacang panjang di kebun pada siang itu. Ditemani anak laki-lakinya yang masih kecil, perempuan paruh baya tersebut seolah tak menghiraukan terik matahari membakar kulitnya pada Rabu 14 Februari 2018.

Panas matahari di daerah dekat garis khatulistiwa ini memang sangat menyengat. Bahkan kaus panjang dan topi yang membungkus kulitnya serasa tak banyak berarti. Mujilah tak sendiri. Tak jauh dari dia berdiri, ada Nimia, 33, yang sedang memanen sawi dan bayam. Sayuran yang tampak subur dan segar itu membuat Nimia berseri-seri mencabutnya.

BERITA TERKAIT +

"Ini nanti langsung dibeli tukang bakso dan mi ayam, pasokannya selalu berkurang," ujar Nimia yang juga bendahara Kelompok Tani Sinar Harapan Desa Lembah Hijau 2, Nanga Tayap, Ketapang, Kalimantan Barat (Kalbar). Sayuran produksi kelompok tani ini memang menjadi incaran.

Selain pasokan masih terbatas, sayuran yang dipanen Nimia dan Mujilah adalah hasil pertanian organik (green farming) yang sedikit pun tak tercampur pupuk berbahan kimia. Ini membuat sayuran lebih segar dan menyehatkan. Tidak hanya sawi dan bayam, warga Lembah Hijau 2 juga sudah mahir menanam cabai, terong, kemangi, kenikir, tomat, dan kacang tanah.

Kelompok Tani Sinar Harapan di bawah binaan PT Agrolestari Mandiri ini juga sudah memadukan pertanian organik dengan budi daya sayur, hortikultura, ternak, dan perikanan. Kebahagiaan tak hanya dirasakan belasan warga anggota Sinar Harapan. Sebab kini ada ratusan ibu di Kecamatan Nanga Tayap yang akhirnya terampil bertani plus dengan pola organik.

Bahkan, teknik bertanam di atas lahan gambut pun kini sudah mereka kuasai. Kemampuan baru ibu-ibu ini jauh dibandingkan tiga tahun silam atau sebelum musibah kebakaran hutan, kebun, dan lahan (karhutbunla) hebat pada 2014-2015 yang asapnya mengganggu penerbangan hingga negara tetangga.

Lembah Hijau 2 yang wilayahnya berdempetan dengan perkebunan kelapa sawit milik Sinar Mas Agribusiness and Food adalah salah satu dari delapan desa di Nanga Tayap menjadi binaan dan rintisan program kemitraan untuk pencegahan kebakaran. Program bertajuk Desa Makmur Peduli Api (DPMA) yang dimulai sejak 2016 ini terbukti efektif mencegah kebakaran.

Lebih dari itu, masyarakat juga antusias karena selain mendapat penyadaran pentingnya membuka lahan tanpa membakar, mereka juga mendapat ilmu baru bertani. Dari pola baru pertanian ekologis terpadu (PET) ini, warga akhirnya bisa menanam sayuran dengan nilai ekonomis yang tinggi. Dengan memiliki kebun sendiri, rata-rata tiap rumah tangga bisa menghemat belanja Rp300.000/bulan. Tak hanya itu, dari penjualan sayuran mereka mendapat tam bahan penghasilan Rp500.000/bulan. Sebagian pendapatan dimasukkan ke kas kelompok tani untuk kegiatan sosial seperti memberi uang duka ke anggota.

"Pokoknya hasilnya bisa dua kali lipat dengan metode organik ini," kata Ketua Kelompok Tani Sinar Harapan Yatimin, 64.

Sebelumnya

1 / 2

Let's block ads! (Why?)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar