Senin, 12 Februari 2018

Kisah Bulutangkis Lombok dan Perjuangan Lahirkan Bintang Dunia

Nasib sebagian besar anak-anak di Kota Mataram ataupun Lombok tidak seberuntung Wahyu Nayaka. Berbagai kendala harus dihadapi demi bisa menjadi pebulutangkis level dunia.

Keterbatasan dana menjadi faktor utama sulitnya pemain bulutangkis usia muda di Mataram dan Lombok untuk berkembang. Berbagai turnamen bergengsi tingkat amatir atau seleksi klub-klub besar lebih sering dihelat di Pulau Jawa.

"Untuk bisa mengirimkan atlet ke daerah lain demi mengikuti turnamen terbentur dana pembinaan yang terbatas. Mungkin kami hanya bisa mengirimkan atlet sekali setahun untuk mengikuti kejurnas," jelas Sekertaris Umum PBSI NTB, Ir. Muhamad Iqbal M.P.

"Dari segi kualitas, Mataram atau NTB tidak kalah dari daerah lain. Cuma itu kami tidak memiliki kemampuan untuk mengirimkan atlet mengikuti pertandingan di luar daerah, karena keterbatasan dana," lanjut pria yang juga menjabat sebagai Sekretaris Umum KONI NTB tersebut.

Selain dana, minimnya dukungan orang tua dan faktor pendidikan memengaruhi perkembangan sang anak dalam bermain bulutangkis. Sebagain besar orang tua di Mataram dan Lombok lebih mengutamakan pendidikan, serta menganggap bulutangkis hanya sebagai ekstrakulikuler.

"Perkembangan atlet bulutangkis di NTB cukup bagus cuma tak maksimal, karena pikiran anak-anak terbagi dua. Pagi mereka harus sekolah dan sore harinya latihan, itu pun hanya lima kali seminggu," ucap Sofyan Yaman, pelatih klub PB Warna Agung, Mataram.

"Berbeda dengan latihan atlet di Pulau Jawa yang bisa berlatih dua kali sehari dalam seminggu. Pemain-peman di sini banyak yang berbobot, akan tetapi mereka tak mampu mengalahkan pemain dari Pulau Jawa. Itu karena intensitas latihan anak-anak di sini kurang," lanjutnya.

Fasilitas yang memadai juga memengaruhi perkembangan anak-anak di Mataram, Lombok, serta NTB pada umumnya. Sebagian besar klub di Pulau Lombok tak memiliki gedung sendiri.

Dari delapan klub di Kota Mataram, hanya dua yang memiliki gedung sendiri, yakni PB Warna Agung dan PB Rudis. Sementara itu, klub-klub lainnya harus menyewa gedung dengan dana dari iuran anak-anak yang mengikuti latihan.

"Yang tidak punya gedung harus menyewa gedung, dengan biaya sewa satu lapangan Rp 25 ribu untuk satu jam yang biasanya harus memakai tiga lapangan, belum lagi iuran yang didapat harus membayar honor pelatih. Jika telat bayar, anak-anak tidak bisa berlatih karena pemilik gedung tak memberikan izin," papar Sofyan.

Let's block ads! (Why?)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar