Minggu, 11 Februari 2018

Kisah Tragis Cinta Raden Panji Pulang Jiwo; Simbol Perlawanan Kadipaten Malang terhadap ...

Sendratari Raden Panji Pulang Jiwo saat melawan Roro Proboretno yang akhirnya menjadi istrinya. Kisah Raden Panji merupakan kisah heroik perlawanan Kadipaten Malang melawan Mataram. (Istimewa)

Sendratari Raden Panji Pulang Jiwo saat melawan Roro Proboretno yang akhirnya menjadi istrinya. Kisah Raden Panji merupakan kisah heroik perlawanan Kadipaten Malang melawan Mataram. (Istimewa)

MALANGTIMES - Raden Panji Pulang Jiwo merupakan adipati Sumenep dari Madura yang namanya tidak bisa dilepaskan dengan sejarah Kabupaten Malang,  khususnya Kepanjen yang kini menjadi ibu kota Kabupaten Malang. 

Nama Raden Panji Pulang Jiwo dikenal karena keberanian dan kesaktiannya saat menolak tunduk terhadap hegemoni Mataram. Selain tentunya dikarenakan kisah cintanya kepada Roro Proboretno,  putri Adipati Malang bernama Ronggo Toh Jiwo. 

Kisah cinta Raden Panji Pulang Jiwo yang tragis dimulai sejak sang Adipati Ronggo Toh Jiwo membuka sayembara untuk putrinya yang tersohor berparas jelita dan memiliki ilmu kanuragan tinggi itu.  "Barang siapa yang bisa mengalahkan kesaktian anakku,  maka dia akan jadi suaminya". Sayembara ini cepat tersebar sampai di luar daerah Kadipaten Malang.

Raden Panji Pulang Jiwo yang mendengar sayembara tersebut pun langsung berangkat menuju Kadipaten Malang. Dia mengetahui adanya sosok Sumolewo,  punggawa Kadipaten Malang yang selalu mencegat dan membunuh para kesatria dari luar Malang yang akan mengikuti sayembara di wilayah Lawang. 

Secara cerdik, Raden Panji Pulang Jiwo masuk  Kadipaten Malang melalui arah timur. Konon,  wilayah tersebut adalah tempat pemeliharaan hewan-hewan piaraan kadipaten yang kini dikenal sebagai Kedung Kandang. 

Pada hari sayembara,  akhirnya Raden Panji Pulang Jiwo dengan kesaktiannya mampu mengalahkan puluhan peserta. Tinggal Sumolewo yang kini berhadap-hadapan dengan adipati Sumenep ini sebelum nantinya pemenang berhadapan langsung dengan Roro Proboretno,  sesuai dengan aturan sayembara. 

Alkisah,  Raden Panji Pulang Jiwo pun berhasil mengalahkan Sumolewo dan bertanding sengit dengan calon istrinya, Roro Proboretno. Terdesak,  Roro Proboretno pun akhirnya berlari dan bersembunyi di benteng patilasan Kerajaan Singosari yang tertutup kuat dan rapat. Karena kesungguhan hati dan kesaktian Raden Panji,  gerbang kuat itu pun terbuka. Proboretno pun takluk dan menerima Raden Panji menjadi suaminya. 

Kehidupan cinta mereka berjalan harmonis,  sampai akhirnya dikarunia anak laki-laki yang diberi nama Raden Panji Wulung atau Raden Panji Saputra. 

Menukil kitab Babad Tanah Jawi Pesisir, tragedi cinta Raden Panji dan Retno Proboretno dimulai. Saat itu terjadi penolakan untuk tunduk kepada Mataram dari adipati Malang dan seluruh adipati di Bang Wetan. Dianggap makar,  raja Mataram memerintahkan Ronggo Toh Jiwo menghadap ke Mataram. Tetapi panggilan ini tidak dihiraukan. Akhirnya Raja Mataram mengirim pasukannya yang dipimpin oleh Surontani.

Makam Raden Panji Pulang Jiwo di Jl Penarukan,  Kepanjen (Istimewa)

Ada dua versi dalam peristiwa perang besar antara pasukan Malang yang dipimpin Raden Panji dengan Mataram yang dipimpin Surontani. Pertama,  Proboretno meninggal dalam perjalanan pulang ke  Kadipaten Malang setelah terkena tikaman keris sakti Surontani dalam pertempuran. Kedua,  Proboretno sakit berkepanjangan saat mendengar suaminya meninggal dalam pertempuran. 

Amarah Raden Panji menggelegak saat mendengar istrinya meninggal. Dengan kesaktiannya,  dia mengejar pasukan Mataram dan mengobrak-abriknya. Surontani atau dikenal Ki Joko Mbodo pun mati di tangannya saat bersama pasukannya lari  dan bersembunyi di daerah hutan rimba yang bernama Desa Ngebruk. 

Walau kemenangan di tangannya,  kehilangan Proboretno membuat Raden Panji linglung.  Rasa cintanya yang  besar inilah yang akhirnya menjadi kelemahannya.  Mataram membuat siasat untuk menjebak Raden Panji.

Dibuatlah sebuah panggung. Putri Mataram menyaru menjadi Proboretno. Mataram pun mengirim undangan kepada Raden Panji. Saat datang,  rasa berdosa dan tekanan batin yang hebat atas kematian istri tercintanya membuat Raden Panji buta. 

Melihat istrinya menari bersama Surontani di panggung,  amarah Raden Panji meledak dibakar cemburu. Tanpa pikir panjang, dia naik ke panggung yang telah disiapkan jebakan sumur maut.  Tembang Asmaradana semakin melangutkan Raden Panji,  sehingga kehilangan kontrol atas jebakan yang membuatnya terbunuh. 

Makam dua sejoli yang mengharumkan nama Kadipaten Malang itu sampai kini bisa dilihat di Kepanjen. Tepatnya di belakang kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Malang. Kerap masyarakat di waktu-waktu tertentu menziarahi kedua makam tersebut. 

*Diolah dari Berbagai Sumber

Let's block ads! (Why?)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar