:strip_icc():format(jpeg)/liputan6-media-production/medias/2002670/original/059402700_1521209018-IMG20180316102825.jpg)
Dari segi arsitektur, masjid ini syarat perpaduan budaya. Perpaduan budaya ini terlihat jelas pada bagian atap masjid, yang pada setiap ujungnya melengkung menyerupai bangunan khas Tiongkok. Kemudian di bagian paling atas atap, terdapat hiasan yang biasa digunakan pada bangunan Bali.
Secara keseluruhan, atap berbentuk tumpang yang merupakan ciri khas bangunan Jawa.
"Di dalamnya ada ukiran-ukiran juga itu perpaduan Jawa dan Bali. Dari bentuk pintu juga kelihatan. Jendelanya itu terali-terali pakai unsur Eropa. Kalau mimbarnya yang menjorok keluar itu, khas dari Maroko," ujar Abdiyan.
Menurut Abdiyan, keragaman budaya tidak hanya pada arsitektur dan ornamen masjid, tapi juga di lingkungan sekitar masjid. Di sekitar masjid, hidup berdampingan warga keturunan Tionghoa dan warga dari etnis lainnya.
Terdapat juga makam di belakang masjid, yang letaknya sangat dekat dengan rumah penduduk. Namun, bukan perasaan horor maupun ngeri, penduduk justru merasa aman dan tenteram dengan keberadaan makam-makam tersebut.
Menurut Abdiyan, makam-makam itu merupakan makam dari Kesultanan Banten, Cirebon, Pontianak, hingga makam pendiri masjid.
"Kalau makam, yang sisi barat (belakang masjid) itu dari Kesultanan Banten dan Cirebon. Sisi timur itu makam-makam dari Kesultanan Pontianak," terang dia.
Makam pendiri masjid dan juga arsiteknya ikut dimakamkan di sekitar masjid ini. Keduanya merupakan muslim Tionghoa. "Di sisi barat juga ada makam pendiri masjid sama arsitek yang merancang masjid ini," tuturnya.
Masjid ini terdiri dari dua lantai. Pada zaman perjuangan, lantai dua selain digunakan sebagai tempat mengumandangkan azan, juga digunakan sebagai tempat memantau pergerakan musuh.
"Masjid Angke dulu letaknya kan cukup terpencil. Jadi lantai 2 ini selain buat azan, dipakai juga buat memantau pergerakan musuh. Ibaratnya jadi menara pengintai lah," ungkap Abyan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar