Kamis, 17 Mei 2018

Kisah Berjayanya Para Diktator Afrika

"Hanya Tuhan yang akan menyingkirkan saya," ujar Robert Mugabe seperti dikutip oleh The New York Times. Sementara Foreign Affairs menyitir, Mugabe adalah satu-satunya presiden yang dikenal oleh Zimbabwe sejak kemerdekaannya pada tahun 1980.

Namun, masa pemerintahannya harus berakhir 37 tahun kemudian ketika Mugabe dan istrinya, Grace, dikepung oleh pasukan militer Zimbabwe dalam usaha mereka untuk melakukan kudeta.

Apa yang salah dari Mugabe?

Jika ada satu hal yang melekat pada gambaran akan Zimbabwe selama hampir 40 tahun terakhir, keruntuhan ekonomi negaralah jawabannya. The Conversation dalam tulisannya menyebutkan bahwa Mugabe telah mengubah "permata Afrika" menjadi sebuah kegagalan ekonomi. Inflasi di Zimbabwe pernah mencapai 800 persen. Bahkan, Zimbabwe sempat mengadopsi mata uang dolar Amerika Serikat (AS) karena inflasi yang sudah menyebar.

Pada tahun 2000, CNN memberitakan bahwa Mugabe mengeluarkan kampanye yang memaksa 4.000 petani kulit putih untuk menyerahkan tanah mereka. "Langsung terjadi kelangkaan makanan," ujar Funmi Akinluyi, seorang manajer portofolio yang berinvestasi di Afrika dan pasar perbatasan di Silk Invest. "Orang-orang menjadi kelaparan." tambahnya.

Selama dua tahun Zimbabwe hidup dengan hasil panen yang buruk dan kekeringan yang panjang berujung pada kondisi kelaparan terparah di Zimbabwe dalam 60 tahun. Dalam puncak krisis, harga-harga naik dua kali lipat setiap 24 jam. Akibatnya, banyak rakyat yang meninggalkan Zimbabwe dan pergi ke Afrika Selatan, seperti dilansir The Guardian.

Namun, di tengah-tengah keadaan tersebut, DW memaparkan estimasi aset yang dimiliki oleh Mugabe dan keluarganya yaitu sekitar 844 juta euro. Mereka mempunyai rumah dengan 25 kamar tidur di Harare, Zimbabwe yang bernilai 8,5 juta euro, vila mewah di Hong Kong dengan harga lebih dari 4 juta euro, dan Hamilton Palace di Sussex, Inggris senilai lebih dari 40 juta euro.

Selain itu, Open Source Investigations memberitakan bahwa anggaran untuk ulang tahun Mugabe tiap tahunnya ialah 1 juta dolar AS, walaupun negara tersebut sedang mengalami kekeringan yang parah, kekurangan makanan yang kronis, dan malnutrisi. Perayaan ulang tahunnya yang ke-93 diperkirakan dapat mencapai biaya 2 juta dolar AS.

Sementara itu, sang istri berkat gaya belanjanya dan baju-baju desainer terkenal membuatnya dijuluki "Gucci Grace" dan "DisGrace". Telegraph memberikan contoh, Grace diperkirakan menghabiskan 120.000 poundsterling saat berbelanja dalam perjalanan ke Paris pada tahun 2002. Uni Eropa dan AS sampai mengenakan sanksi kepada Grace untuk menghambat pengeluarannya.

Selain itu, anak-anak Mugabe hidup di apartemen dengan harga 6.000 dolar AS per bulan, memakai pakaian desainer, meminum champagne dengan harga 500 dolar AS per botol, menjelajahi Johannesburg dengan limusin, serta uang bulanan keduanya diperkirakan melebihi 40.000 dolar AS per bulan, seperti dilansir African Independent.

Cerita lanjutan dari kekuasaan

Korupsi bukanlah hal yang baru di Afrika. Morris Szeftel menjelaskan melalui tulisannya yang bertajuk Clientelism, Corruption & Catastrophe bahwa salah satu alasan mengapa korupsi menjadi sangat destruktif di Afrika ialah klientelisme dan dampaknya bagi formulasi kapitalisme lokal dan formasi kelas di sana.

Dalam buku The Oxford Handbook of Political Science oleh Susan C. Stokes, klientelisme dijelaskan sebagai penawaran barang-barang material sebagai imbalan dari dukungan elektoral. Klientelisme merupakan alat bagi diktator untuk mempertahankan kekuasaannya. Seperti ditulis oleh Berhanu Nega dan Geoff Schneider dalam Journal of Economic Issues dengan judul Things Fall Apart: Dictatorships, Development, and Democracy in Africa, diktator tidak membangun jenis-jenis institusi yang diperlukan oleh perkembangan berbasis luas.

Diktator merancang institusi yang memperkaya para pendukungnya, menyuap rakyat, dan menopang dasar kekuatannya. Akhirya, institusi yang dibangun oleh diktator hanya menghasilkan akibat buruk, menghancurkan rakyat sipil dan institusi yang produktif sembari mendukung mereka yang korup dan tidak produktif.

Setelah terlepas dari cengkraman kolonial, Afrika mengalami kesulitan dalam membentuk pemerintahan yang demokratis. Peter J. Schraeder memaparkan dalam bukunya yang berjudul African Politics and Society: A Mosaic in Transformation bahwa generasi pertama dari elite-elite Afrika, yang dilatih dalam sistem kolonial dan yang mengantarkan negara mereka kepada kemerdekaan, cenderung untuk membentuk sistem politik partai tunggal yang melarang ketidaksepakatan politik.

Contoh sederhana merujuk kepada kasus di negara-negara Afrika Anglophone, negara Afrika yang berbahasa Inggris, tidak digunakan sistem multipartai. Mereka menerapkan sistem partai tunggal atau partai dominan: satu partai yang menikmati dukungan yang berlimpah-limpah, dukungan atas kemerdekaan menghadapi oposisi yang kecil, seringkali terbagi-bagi dan juga seringkali berfokus di wilayah tertentu yang kekurangan sumber daya dan prospek kekuasaan yang nyata.

Di Tanzania, keunggulan partai Tangayika African National Union (TANU) menciptakan sistem partai tunggal yang de facto dari awal. Di Malawi, Kenya, Zambia, Ghana, dan Sierra Leone di bawah kekuasaan eksekutif presiden, partai dominan memastikan adanya stabilitas politik pada tingkat tertentu.

Seperti dilansir The Washington Post, hal serupa juga terjadi di Zimbabwe, dimana sejak tahun 1980 Persatuan Nasional Afrika Zimbabwe-Front Patriotik (ZANU-PF) merupakan partai yang berkuasa dan dominan di negara tersebut.

Usaha presiden merangkul pendukungnya

Berjayanya partai-partai dominan ini turut memaparkan bahwa ada peran dari klientelisme dalam perpolitikan di Afrika. Sebut saja Presiden Chad, Idriss Déby.

Déby telah memerintah sejak tahun 1990. Dalam tulisan In Backing Chad, the West Faces Moral Hazards oleh Richard Moncrieff untuk International Crisis Group dijelaskan bahwa Déby menggunakan pendapatan dari minyak Chad untuk membiayai pengeluaran militer yang dianggarkan cukup tinggi. Sebut saja 670 juta dolr AS pada tahun 2009. Ia melakukannya untuk memberikan penghargaan pada pasukan militer Chad dan juga agar mereka tetap setia untuk mendukungnya. 

Pasukan militer tersebut mengintervensi Republik Afrika Tengah, Mali, negara-negara tetangga yang terancam oleh Boko Haram, juga Saudi Arabia. Karenanya, ia beroleh dukungan dari dunia internasional, seperti Uni Eropa, Prancis, dan AS. Negara-negara barat menganggapnya sebagai rekan dalam memerangi terorisme.

Hal yang sama tentu berlaku juga pada Zimbabwe. Seperti dilansir History, seorang profesor sejarah dari University of Illinois, Teresa Barnes mengatakan bahwa sejak tahun 1980, pemilihan di Zimbabwe semakin kurang bebas.

"Seiring waktu berjalan, pemilihan terasa seperti tipuan, dan Mugabe 'memenangi' setiap pemilihan," tambahnya. Seperti di tahun 2008, Mugabe kalah namun memanipulasi hasil untuk mempertahankan kekuasaannya.

Semakin bertumbuhnya oposisi, Mugabe semakin menggunakan kekerasan dan intimidasi untuk mempertahankan kekuasaannya. Ia juga memperkaya individu-individu pemimpin militer sebagai imbalan atas dukungan mereka. Bersama figur-figur militer dan klien mereka, Mugabe mengeliminasi partai lain secara besar-besaran.

Pada tahun 2000, Mugabe memberi amnesti kepada pendukung partai ZANU-PF yang telah membunuh 30 orang selama proses pemilihan parlemen dan juga kepada para pembunuh seorang petani kulit putih. Pesan yang disampaikan jelas. Mereka yang membunuh untuk presiden tidak akan diberi hukuman.

Sejarah kepahlawanan para bandit

"Dalam suasana seperti itu, dimana orang-orang sangat ingin bekerja secara politis dan bekerja dalam sistem yang baru, Mugabe mampu secara bertahap dan cukup erat mengkonsolidasikan kekuasaan," ujar Barnes. Ia menjelaskan bahwa Mugabe merupakan sebuah kelegaan yang ditunggu-tunggu dari perang selama lebih dari satu dekade.

Sebelum menjadi negara merdeka, Zimbabwe adalah koloni Britania Raya yang dikenal dengan sebutan "Rhodesia" atau "Rhodesia Utara". Pada akhir abad ke-19, orang Eropa berkulit putih berpindah ke sana untuk mendirikan pemerintahannya sendiri. Mereka juga merebut tanah dari orang Afrika dan memberikannya kepada orang kulit putih.

Setelah Perang Dunia II, minoritas kulit putih di Rhodesia Selatan mulai khawatir kalau mungkin mereka tidak akan berkuasa untuk waktu yang lebih lama lagi. Imperium Britania sedang runtuh, sementara bangsa-bangsa Afrika lainnya sedang meraih kemerdekaannya. Oleh sebab itu, pada tahun 1965, perdana menteri kulit putih Rhodesia Selatan, Ian Smith, mendeklarasikan kemerdekaan Rhodesia Selatan.

Kendati demikian, dalam praktiknya, Rhodesia Selatan hanyalah negara yang tak diakui. Rakyat kulit putih yang populasinya hanya 5% dari keseluruhan, memaksakan kekuasaannya terhadap mayoritas orang kulit hitam. Dengan kata lain, ini seperti kolonialisme dalam bentuk yang lain.

Di sinilah muncul Mugabe untuk menyelamatkan negaranya. Mugabe menghabiskan 11 tahun sebagai tawanan politik di bawah pemerintahan Ian Smith. Ia bangkit untuk memimpin gerakan Persatuan Nasional Afrika Zimbabwe dan juga merupakan salah satu negosiator utama dalam Lancaster House Agreement pada tahun 1979. Perjanjian ini berujung kepada berdirinya Zimbabwe sebagai negara yang menjalankan demokrasi secara penuh.

Dianggap pahlawan

Selanjutnya, Mugabe melanjutkan langkahnya menjadi perdana menteri dan pada akhirnya, presiden. Ia merangkul perdamaian dengan minoritas kulit putih di Zimbabwe, tapi juga musuhnya melalui politik dan kekuatan. Pada awal tahun 2000, ia menganjurkan pengambilalihan lahan bertani komersial milik orang kulit putih, yang kemudian mengantarkan kepada keruntuhan ekonomi dan inflasi.

"Cara yang digunakan dunia internasional dalam melihat Mugabe belum tentu sama dengan cara ia dilihat di dalam negaranya," ujar pengacara internasional dan associate profesor Joylon Ford kepada Huffington Post. Mugabe adalah pahlawan perang yang dielu-elukan karena telah membebaskan negara dari tindasan kolonial. 

"Akan tetapi, rakyat menghargainya sebagai bapak negara dan ia mengantarkan Zimbabwe kepada kemerdekaan dan keluar dari kekuasaan kolonial. Zimbabwe merupakan negara yang sangat sukses dalam dua dekade pertama pemerintahannya," lanjut Ford. Orang Zimbabwe memandangnya sebagai figur yang hidup dan historis. Kala memberikan pidato kritikan terhadap kekuasaan Barat, diplomat-diplomat terpandang dan pejabat-pejabat akan berdiri dan bertepuk tangan.

Penghargaan terus-terusan diberikan atas eksistensi Mugabe yang hadir sebagai pahlawan untuk Zimbabwe. "Ulang tahunnya merupakan hal yang penting, seperti ulang tahun Yesus yang lahir untuk menyelamatkan kita. Begitu pula Presiden Mugabe lahir pada tahun 1924 untuk membebaskan kita semua," ujar sekretaris Liga Kaum Muda ZANU-PF. Ini juga menjelaskan anggaran perayaan ulang tahun Mugabe tiap tahunnya.

Latar belakang pahlawan memang membantu diktator untuk bertahan di kursi jabatannya. Presiden Rwanda, Paul Kagame seperti yang dilansir Al Jazeera menerima pujian karena telah memimpin negara melewati periode panjang dalam meraih perdamaian dan kemakmuran setelah genosida brutal yang terjadi pada tahun 1994. Ia memenangi pemilihan presiden dan dengan resmi memperpanjang 17 tahun kekuasaannya.

Meski begitu, banyak kelompok internasional yang mengurusi Hak Asasi Manusia (HAM) dan bahkan para sekutu seperti AS telah menduga keras bahwa Kagame melakukan pelecehan, kekerasan, dan penangkapan terhadap lawan politiknya. Newsweek menceritakan, tidak ada kebebasan menyatakan pendapat di Rwanda. "Jika Anda mengkritiknya (Kagame), Anda akan didakwa oleh agensi pemerintah atas tuduhan memecah-belah negara, dan kita akan dipenjara atau dibunuh."

Bahkan, mengacu pada referendum yang diadakan tahun 2015 tentang perpanjangan batas masa jabatan, Kagame sekarang dapat secara legal berkuasa hingga 2034. Terlepas dari semuanya itu, banyak yang ingin Kagame untuk tetap memegang kekuasaannya selama mungkin.

"Kagame ialah penyelamat kita, dan kita sangat mencintainya. Ia adalah orang yang telah mengorbankan dirinya sendiri untuk negaranya dan rakyatnya," ujar Charles Bakanibona, seorang dari etnis Tutsi. "Saya memerlukannya untuk memimpin negara ini selamanya, karena dialah seorang pria pencinta perdamaian." (Eriana Marta Erige dan Tanya Lee Nathalia)***

Let's block ads! (Why?)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar