
Saat itu Ngabalin mengaku sedang berada di salah satu percetakan di kawasan Senen, Jakarta Pusat. Dia sedang membuat buku tentang hasil penelitiannya. "Rupanya Bung Nico itu staf Pak Pratikno. Dan ditelepon, Nico mengundang saya untuk bertemu dengan Pak Pratikno, bosnya," ujar Ngabalin.
Sayang, Nico enggan menanggapi pernyataan Ngabalin soal dirinya menjadi jembatan antara Ngabalin dan Istana. Saat dimintai konfirmasi detikX via WhatsApp, Nico hanya mengatakan, "Maaf, saya tidak dalam posisi memberi komentar. Itu proses Pak Ngabalin di KSP," begitu kata peneliti dari Centre for Strategic and International Studies tersebut.
Namun, kata Ngabalin, beberapa hari setelah telepon Nico, ia diminta datang bertamu ke Sekretariat Negara untuk bertemu dengan Pratikno. Dalam pertemuan itu, kata Ngabalin, Mensesneg bercerita tentang kondisi terbaru terkait dinamika politik dan situasi pemerintahan. Pratikno pun menyampaikan pesan Presiden Joko Widodo kepada Ngabalin.
"Tapi saya tidak mungkin bertanya saat itu bantuan apa yang dapat saya berikan. Saya hanya bilang insyaallah. Saya sudah punya hati kepada pemerintahan ini. Punya hati dalam pengertian, ketulusan beliau, kerja beliau, kemudian mondar-mandir ke Papua. Bagaimana jalan dari satu titik ke titik lain di pegunungan bisa tembus. Itu kan, sebagai anak Papua, saya ada kebanggaan tersendiri," katanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar