Minggu, 06 Mei 2018

Kisah Pensiunan 'Menghutankan' 27 Hektar Lahan di Puncak

TRIBUNNEWS.COM -- Kisahnya beda dengan para pengusaha yang membuat vila-vila di kawasan Puncak, Bogor, yang berakibat banyaknya tanah longsor dan 'membantu' banjir di Jakarta, Bambang Istiawan (64) justru selama belasan tahun berusaha menghijaukan lahan-lahan kritis di daerah tersebut.

Bersama dengan keluarganya, Bambang mulai merintis menghijaukan tanah-tanah kritis rawan longsor di Megamendung sejak 2001 yang lalu.

Hingga saat ini, Bambang yang dibantu oleh sang istri Rosita dan Yuhan Subrata telah mengembalikan lahan tandus seluas 27 hektar menjadi hutan dengan 120 jenis pohon keras serta buah-buahan. Mereka pun Menamakannya sebagai hutan organik.

"Bisa dibilang hutan ini sama dengan kondisi 50 tahun yang lalu," ujar Bambang kepada Tribunnews.com, belum lama ini.

Lantas bagaimana bisa, mantan pekerja gas dan minyak di sejumlah perusahaan ini tiba-tiba 'nekat' berinisiatif menghijaukan lahan kering kerontang tanpa dibantu oleh pihak mana pun.

Ia pun bercerita, awalnya Bambang ingin menghabiskan masa tuanya dipinggir hutan. Lelaki asal Badak, Kaltim itu mengatakan, di daerah asalnya sudah tidak mungkin bisa dihijaukan.

Maka berdasar masukan dari sang istri yang berasal dari Bogor, mereka membeli lahan kritis seluas 12 hektar di sekitar Megamendung yang ditanami sejumlah pohon pada 2001.

Tak puas dengan luas yang telah mereka hijaukan, pada 2005 mereka kembali membebaskan 15 hektar, hingga genap menjadi 27 hektar. Tanah itu ditanami pohon-pohon asal Indonesia dan mancanegara.

Tak lupa ia juga melestarikan tanaman endemik dari Jawa Barat seperti rasamala, pohon puspa, tapi juga mendatangkan pohon dari luar jawa seperti kayu ulin, ebony dan lain-lainnya.

Di sejumlah tanah yang memiliki kemiringan hingga 80 derajat, kata Rosita, telah ditanami tanaman panii. Meski tanaman itu sejenis perdu dan sereh, jelasnya, tetapi akar panii mampu mencapai hingga 8 meter, sehingga sangat efektif menahan longsor. Boleh dibilang, hutan yang ada itu saat ini tahan longsor.

Let's block ads! (Why?)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Incoming Search