Minggu, 06 Mei 2018

Kisah Tragis Mantan Pemain Persebaya dan Pesan Damai untuk Suporter Indonesia

Bola.com, Surabaya - Tanggal 26 Desember 1995 menjadi tanggal yang tidak akan dilupakan oleh Persebaya. Tanggal itu bisa dibilang meruapakan satu di antara penyebab perseteruan Bonek dengan suporter asal Malang. 

Pada tanggal tersebut, Persebaya melakoni partai tandang menantang Persema Malang dalam lanjutan Liga Indonesia 1995/1996. Singkat cerita, pertandingan yang berakhir dengan skor 1-1 itu tampaknya kurang memuaskan suporter tuan rumah, Ngalamania. 

Bus pemain Persebaya yang akan bertolak menuju Surabaya tiba-tiba bus tersebut dihadang oleh sekelompok Ngalamania di tengah jalan. Kaca-kaca pun pecah dan salah satu pemain Persebaya, M. Nurkiman, mengalami luka pada mata bagian kiri. 

"Semuanya terjadi dengan cepat. Tiba-tiba kaca bus pecah dan berhamburan masuk ke dalam. Terus ada benda yang masuk mengenai mata kiri saya. Semua jadi panik. Saya apalagi," kata Nurkiman, saat bercerita kepada Bola.com, Sabtu (5/5/2018). 

Akibat insiden itu, mata kiri Nurkiman mengalami cacat permanen dan tidak bisa berfungsi seperti sedia kala. Pria kelahiran 8 Januari 1973 itu pun tidak bisa menjalani kompetisi musim itu secara penuh karena berada di bawah penanangan medis. 

Musim berikutnya, nama Nurkiman dipanggil untuk dalam skuat asuhan Rusdy Bahalwan dalam Liga Indonesia 1996/1997. Akan tetapi, pria didikan Indonesia Muda, klub internal Persebaya itu menolak tawaran tersebut. 

"Saya tidak kuat lagi kalau harus bertanding dengan kondisi penglihatan yang kurang bagus. Saya akhirnya memutuskan untuk pensiun sebagai pemain," imbuh pria asli Karanggayam, Surabaya itu.

Sangat disayangkan, Nurkiman harus menggantungkan impiannya membawa Persebaya meraih gelar juara. Dia terpaksa pensiun dini di usia 22 tahun saat sedang menjadi gelandang serang yang digadang-gadang sebagai andalan klub. 

Berikutnya, Persebaya sukses menjuarai Liga Indonesia musim itu. Nama-nama seperti Jacksen F. Tiago, Aji Santoso, Bejo Sugiantoro, Uston Nawawi dll menjadi tulang punggung skuat Bajul Ijo saat itu. 

Nurkiman tidak menyesal dengan keputusannya. Pensiun dini saat itu adalah pilihan yang terbaik daripada tetap bermain tanpa memberi sumbangsih nyata untuk tim. Setelah pensiun dari lapangan hijau, dia pun bekerja di PDAM. 

"Saya juga menjadi karyawan di PDAM sejak tahun 1994. Tapi setelah pensiun dari Persebaya, saya jadi lebih fokus saja. Karena sudah ada pekerjaan, makanya saya tidak khawatir," ungkapnya.

Let's block ads! (Why?)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Incoming Search