Minggu, 15 Juli 2018

Kisah Ketua RT Menteng Tenggulun Selamatkan Istri dari Kobaran Api

Kebakaran di Menteng

Kebakaran di Menteng (Foto: Twitter@humasjakfire)

Budi masih tertegun di depan reruntuhan rumahnya yang ludes terbakar api. Ia tak bergerak sedikitpun. Kepalanya menunduk, dan tatapanya menerawang jauh ke runtuhan hitam.

Ia tersadar, seketika ada seseorang rekannya menghampiri, mengucap prihatin padanya. Tak pelak, air matanya turun.

Budi adalah Ketua RT 04 Tenggulan, Menteng, Jakarta Pusat. Kecuali keluarganya, ia telah kehilangan segala-galanya yang ia simpan di rumahnya itu. Kepada kumparan, ia menceritakan saat-saat genting ketika ia menerobos asap pekat, demi menyelamatkan istrinya.

"Istri saya sudah lama sakit stroke, selama ini ia hanya bisa terbaring, dengan bantuan tabung oksigen dan alat bantu pernapasan lainya," kisah Budi.

Peristiwa itu terjadi pada Jumat (14/7) pukul 13.50 WIB. Api melalap sekitar 15 rumah, dan menelantarkan setidaknya 150 warga yang rumahnya hangus diamuk api.

Budi saat itu terhenyak. Dia yang baru saja akan istirahat, melihat langit mendadak hitam. Asap sudah tinggi, dan api telah melalap beberapa rumah. Ia tidak bisa berpikir jernih, di antara kalang kabut, ia membungkus istrinya dengan seprei agar istrinya tidak terlalu terpapar asap.

"Saya panik, ambulans tidak bisa masuk, karena jalan ketutup sama Blanwir (truk pemadam kebakaran), saya lari, saya lihat PMI, dan saya minta tandu ke PMI," terang Budi.

Tanpa alat bantu pernapasan, Budi membopong istrinya keluar dari gang sempit rumahnya dan menyerahkanya kepada PMI. Budi mengatakan, istrinya segera dilarikan ke RSCM.

Saat akan kembali menyelamatkan surat berharga, Budi menemui hal yang menyeramkan. Api telah merambat hingga dekat rumahnya. Terlebih, ada sebuah kabel listrik yang terjuntai dan mengeluarkan ledakan-ledakan.

"Ada kabel dari tiang listrik, meledak-ledak, liar sekali. Saya panik, akhirnya saya kabur, dan saya enggak sempat menyelamatkan surat-surat yang sudah siapkan," tambah Budi.

Kebakaran di Menteng, Jakarta Pusat

Budi, Ketua RT 04/10 yang rumahnya juga ludes terbakar. (Foto: Ricky Febrian/kumparan)

Barang berharga seperti surat-surat berupa Ijazah, Kartu Keluarga (KK), hingga akta Tanah, sudah ia persiapkan di dalam ransel. Namun, Budi lebih memilih menyelamatkan istri ketimbang lembaran kertas tersebut.

Kini Budi hanya bisa pasrah. Dia masih merasa beruntung, tak ada korban jiwa dalam kebakaran tersebut. Sebagai ketua RT, Budi sebenarnya telah merasakan kekhawatiran apabila terjadi di kawasan sempit seperti pemukimannya.

"Saya sudah firasat, banyak kebakaran terjadi di pemukiman padat dan sempit, namun sampai sekarang tidak ada penyuluhan bagaimana mencegah kebakaran itu sendiri," keluh Budi.

Keluhan tersebut juga menjadi harapan Budi kepada pemerintah. Menurutnya, masyarakat perlu diberikan sosialisasi mengenai pencegahan kebakaran di lahan sempit, padat penduduk dengan material rumah yang sebagian besar terdiri dari kayu tersebut.

"Kalau bantuan pasti sudah jelas datang, tapi, penyuluhan atau pelatihan tentang kebakaran itu yang belum saya dapatkan," pungkas Budi lemas.

Let's block ads! (Why?)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar