Kamis, 09 Agustus 2018

Ada Kisah Prihatin Dibalik Suksesnya Penjualan Jersey MU

Memiliki pendukung nyaris seantero bumi wajar jika setiap jersey Manchester United (MU) laku keras di pasaran. Sayangnya, di balik kesuksesan Setan Merah dalam memasarkan produk kausnya tersebut terselip kisah pilu yang memprihatinkan.

Ketika penggawa MU memungkinkan untuk menerima bayaran nyari 450.000 poundsterling atau Rp8,4 miliar per pekan, maka jumlah tersebut sangat jomplang dibanding upah para pekerja yang berkali-kali lipat lebih sedikit. Bahkan, upah buruh masih jauh lebih sedikit dibandingkan dengan harga satu jersey MU.

Seperti pada kebiasaan setiap tahunnya, masing-masing klub di dunia merilis jersey terbaru yang digunakan selama semusim. Bagitu pula MU yang baru saja meluncur jersey terbaru yang dapat dikatakan sangat mentereng. Fans fanatik harus merogoh isi dompet sekitar 110 poundsterling atau Rp2 juta untuk mendapatkan jersey terbaru The Red Devils.

Berdasarkan Daily Mail, jersey Manchester United itu dibuat di sebuah pabrik yang berada di negara Kamboja. Jersey tersebut dikabarkan dibuat oleh pekerja wanita yang dibayar sekitar 31 poundsterling atau sekitar Rp584.000. Angka itu menurut laporan berada dibawah upah hidup di negara Kamboja.

Seorang pekerja yang telah memiliki keluarga berjumlah empat orang mengatakan, mereka harus tinggal di rumah yang memiliki kamar sempit yang memiliki harga sewa 46 poundsterling atau sekitar Rp 866 ribu per bulan. Itu pun mereka harus berbagi dengan tiga keluarga lainnya.



Mata uang yang digunakan Kamboja adalah Riel, akan tetapi para pekerja mendapat bayaran atas kerja kerasnya dengan dolar Amerika Serikat (AS). Sebulan para pekerja mendapat bayaran 172 dola AS atau setara 132 poundsterling. Jika dirupiahkan menjadi Rp2,5 juta per bulan.

Selain gaji, para pekarja juga mendapat tunjungan makan dan transport. Maka, take home pay yang diterima beserta lembur menjadi 250 dolar AS (192 poundsterling) atau sekitar Rp3,6 juta per bulan.

Sayangnya, total kerja keras para pekerja untuk menghasilkan jersey yang dipasarkan dengan harga Rp2 juta tergolong rendah. Bahkan jumlahnya setengah lebih kecil dibandingkan upah yang ditetapkan Aliansi Penghasilan Asia, yakni 367 pounsterling atau Rp6,9 juta sebulan.

Para pekerja juga mengeluh karena mendapat kecamanan oleh pengawas jika mereka gagal menghasilkan setidaknya 60 jersey per jam. Terkadang juga mereka dituntut untuk membuat 100 jersey. Namun, para pekerja wanita itu hanya dapat hanya mampu membayar rumah kumuh dari kerja kerasnya.

Kondisi tersebut seolah menjadi perbedaan kontras  antara pekerja wanita yang mengerjakan jersey dengan eksistensi para pemain MU. Contohnya seperti penyerang berkebangsaan Chile, Alexis Sanchez, yang dilaporkan memiliki gaji sebesar 450.000 poundsterling atau Rp8,4 miliar per pekan.

"Kami memiliki target yang sangat sulit untuk dipenuhi dan jika kami tidak bertemu mereka, kami harus bersumpah dan diteriaki oleh supervisor kami," cerita salah satu pekerja dikutip Daily Mail.

"Setiap pekerja harus memproduksi 60 kaus per jam ,yang sulit tetapi kadang-kadang itu dinaikkan menjadi 100 kaus per jam. Jika kita tidak bisa memenuhi target, pengawas berteriak, 'Apa yang salah denganmu?" ucapnya.

Upah rendah pekerja pembuat jersey MU Selengkapnya  

Let's block ads! (Why?)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar