Minggu, 05 Agustus 2018

Kisah Pilu Penumpang KM Satya Kencana IX, Terjun Bebas ke Laut Lepas Hingga Berebutan ...

Kisah Pilu Penumpang KM Satya Kencana IX, Terjun Bebas ke Laut Lepas Hingga Berebutan Menaiki Sekoci

Kepala Badan Sari Nasional (Basarnas) Kalsel Mujiono

Zainal Mufakin asal Lamongan penumpang kapal KM Satya Kencana IX yang terbakar di laut.

Supri penumpang KM Satya Kencana IX asal surabaya beserta anaknya.

BANJARMASIN, K.Pos Online – Terbakarnya kapal penumpang KM Satya Kencana IX, di perairan Tanjung Selatan tepatnya di titik 54 Mil Barat Daya, Laut Jawa, Sabtu (4/8) sekitar pukul 05.00 Wita, menyisakan kisah pilu bagi 230 penumpang dan awaknya.

Kelelahan masih terpancar dari wajah mereka, setelah berjuang berjam-jam berjuang demi keselamatan nyawa mereka hingga berhasil dievakuasi ke kapal penyelamat KM Nikki Sae dan KM Kumala.

Salah satu penumpang KM Satya Kencana IX Zainal Mufakin asal Lamongan menuturkan, kejadian kebakaran di kapal berlangsung cukup cepat, para penumpang pun kocar kacir ingin menyelamatkan diri.

Para anak buah kapal (abk) dengan sigap menurunkan sekoci penyelamat ke lautan, selanjutnya meskipun agak berebutan, atas perintah kapten kapal KM Satya Kencana IX, penumpang semua berhasil terjun ke laut dan menaiki perahu kecil berwarna orange itu.

"Saya dan 32 penumpang termasuk abk serta kapten kapal, terakhir masuk perahu sekoci menyelamatkan diri. Sekitar dua jam kami terombang ambing di lautan, sembari menunggu kapal penyelamat datang," cerita Zainal yang merupakan supir truk ekspedisi lintas pulau menuturkan kepada Kalselpos.com di ruang tunggu Terminal Penumpang Bandarmasih, Pelabuhan Trisakti Banjarmasin sekitar 30 menit usai kapal KM Niki Sae yang ditumpanginya sandar.

Dia juga menceritakan, terkait salah satu penumpang yang meninggal dan baru diketahui belakangan bernama H. Fauzi (55) alias Maki, asal Bangkalan, Madura. Penumpang tersebut merupakan satu kapal sekoci dengan dirinya.

Penumpang meninggal akibat kelelahan, ketika hendak naik ke sekoci dan Itu terjadi karena para penumpang berebutan menaiki sekoci.

"Orang tua itu berusaha naik ke sekoci, tapi ditengah dia berjuang naik, badannya terinjak-injak penumpang lain yang berebutan. Tubuhnya sempat timbul tenggelam di air, meskipun berhasil menaiki sekoci, tapi orang itu meninggal dalam perahu ketika terombang-ambing di laut menunggu kapal penyelamat," ujarnya sambil menuturkan barang bawaan miliknya semua hilang dan yang tersisa hanya baju dan celana menempel di badan.

Ditempat yang sama salah satu penumpang bernama Supri asal Surabaya, mengatakan dirinya ketika kapal terbakar hanya bisa menyelamatkan anaknya, sedangkan istrinya Sri Mulyani terpisah tidak satu kapal sekoci dengan dirinya.

"Kami berbeda perahu sekoci, ketika menyelamatkan diri terjun ke laut guna menaiki perahu penyelamat. Ketika itu saya hanya memegang anak kecil saya, agar tidak terlepas dan tenggelam. Terakhir ketika berhasil selamat menaiki KM Nikki Sae, saya dapat kabar jika istri selamat dan berada di KM Kumala bersama 89 penumpang lainya," ujarnya sambil meneteskan air mata.

Sementara itu, menurut keterangan Kepala Syahbandar dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Banjarmasin Bambang Gunawan, hingga pukul 22.30 Wita malam tadi, penumpang kapal dan awak KM Satya Kencana IX yang berhasil dievakuasi sebanyak 230 orang dan satu diantaranya meninggal dunia.

"Dengan 230 jumlah penumpang, serta awak KM Satya Kencana yang berhasil dievakuasi itu sudah dipastikan sesuai dengan manifest kapal yang berlabuh dari Surabaya tujuan Banjarmasin," ujar Bambang.

Berdasarkan pantauan Kalselpos.com, di ruang tunggu Terminal Penumpang Bandarmasih, seluruh penumpang masih terlihat shok dengan kejadian yang mereka alami. Beberapa penumpang yang luka-luka dilakukan perawatan oleh petugas medis.

Dari semua cerita kejadian musibah terbakarnya KM Kencana IX di Laut Jawa, peran serta seluruh tim penyelamat memiliki andil besar kesuksesan penyelamatan seluruh penumpang dan awak kapal.

Kantor Badan Search and Rescue (SAR), Badan Sar Nasional (Basarnas) Kalsel, yang dikomandani Mujiono yang langsung melakukan reaksi cepat dengan menurunkan tim ke lokasi kejadian itulah yang patut mendapatkan penghargaan, termasuk tim lainnya yang cepat dan tanggap membantu para korban.

Penulis: Aprie/Anang fahrulani/Fauzie
Editor: Aprie
Penanggungjawab: S.A Lingga

Let's block ads! (Why?)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar