Minggu, 09 Oktober 2016

Kisah Agni Pratistha Melihat Gerbang Gaib Laut Selatan

TABLOIDBINTANG.COM -

Apa kabar Agni Pratistha Arkadewi (28)? Putri Indonesia 2006 itu berkunjung ke kantor Bintang, Jakarta Selatan, pekan lalu. Agni datang membawa cerita tentang pengalaman melihat pintu gerbang gaib di Laut Selatan Yogyakarta. Seperti apa kisahnya?

Kisah mistik Agni dimulai kala ia memutuskan kembali terjun ke dunia akting setelah 1,5 tahun vakum. Terakhir, ia tampil di sebuah film sebelum dinikahi Ryan Anthony Monoarfa. Sayang, film tersebut sampai sekarang belum tayang. Kabarnya, ada kendala dalam hal pendanaan. Dari pernikahannya dengan Ryan, Agni dikaruniai anak laki-laki, Rudra Agni Monoarfa. 

Satu setengah tahun setelah melahirkan, Agni ditawari skenario karya Gina S. Noer berjudul Pinky Promise. Dalam film itu, Agni diarahkan sutradara Guntur Soeharjanto yang pernah mencetak box office lewat 99 Cahaya Di Langit Eropa. Proses pengambilan gambar dilakukan di Jakarta dan Pantai Parangtritis, Yogyakarta. Syuting di pesisir laut itulah yang nyaris mencelakaan Agni. 

"Syuting di Jakarta 20 hari, di Yogyakarta 3 hari. Saya sangat sensitif untuk hal-hal begituan (gaib-red)," demikian Agni memulai percakapan. Di Kota Gudeg, Agni dan kru menginap di Vila Queen of The South. Di bawah vila itu, Laut Selatan.

Agni menjalankan adegan berlari di pesisir pantai. Ia mengenakan headphone, namun tidak mendengar lagu apa pun. Tujuannya, supaya mendengar aba-aba dari Guntur kapan harus berakting dan kapan mesti diam. Saat itulah, ia mendengar suara laki-laki yang disangka Agni suara Guntur. 

"Agni, ayo lari ke laut." Mendengar perintah itu, Agni menoleh ke laut. Ia melihat gerbang beruba gundukan batu karang dengan warna sangat terang. Demi melihat gerbang itu, tiba-tiba Agni merasa harus segera pulang. Pulang ke dasar samudra. Kamera drone menangkap gambar Agni terpaku di pantai untuk beberapa saat. Kemudian berlari ke arah lautan. Terjadi kehebohan. Seluruh kru mengejar Agni dan memegangi tangannya erat-erat. 

"Saya merasa tidak disuruh. Saya merasa ini waktunya pulang. Itu bukan sekali saja terjadi. Setelahnya, saya mendengar suara wanita mendendangkan tembang yang liriknya mengajak saya menyatu bersama ombak. Setelah satu tembang tuntas, terdengar suara memanggil-manggil: Agni, Agni, Agni! Saya menoleh dan berseru: Mas Guntur memanggil saya?," kenangnya.

Guntur menggeleng. Saat itulah Agni sadar, seseorang yang tidak kasat mata memanggilnya. Ia kemudian menjawab lirih, "Tolong jangan panggil-panggil saya. Saya mau bekerja di sini."

Ajaibnya, suara tanpa wujud itu berbalik menjawab. "Kalau kamu tidak cepat ke sini, pintu gerbang segera ditutup dan salah satu dari orang di sekitarmu akan celaka!"

Benar saja. Salah satu kameraman terjatuh. Kakinya robek dan mengucurkan darah kental. Agni syok bukan kepalang. Tidak tahan diteror, Agni dan beberapa kru menemui juru kunci. Sang juru kunci menjelaskan, pangeran dari samudera menginginkannya. Alasan kedua, Agni beserta kru mendekati ambang gerbang tanpa mengucapkan "kula nuwun (permisi-red)" kepada yang memiliki gerbang kerajaan. Sejak itulah, Agni mempersering frekuensi doa. 

Ia juga menghubungi ibunya, Trees Kusumawardani. Trees menasihati, "Agni, kamu jangan pernah tidur sendiri. Kalau tidur sendiri, kamu akan mendengar panggilan gaib seolah dari sahabat untuk turun ke laut." Nasihat yang sama disampaikan aktris senior Ira Maya Sopha yang berada lokasi syuting. "Doa adalah kunci. Kalau sampai dia mengikutimu ke Jakarta, kasihan anakmu."

Meski suara-suara gaib raib, tanda tanya di benak Agni tidak menghilang begitu saja. Masih ada tanya satu mengambang di benaknya. Dari sekian banyak pemain dan kru yang berada di lokasi syuting mengapa hanya ia yang diincar? Agni kemudian bercerita lebih detail kepada ibunya. 

"Ibu saya lahir di Yogyakarta. Ada salah satu fase dalam kehidupan beliau yang diduga kuat menjadi penyebab. Ia membuat perjanjian dengan ritual Kejawen dengan pihak Laut Selatan. Di tengah jalan, ada satu perjanjian yang tidak terpenuhi dan itu berdampak pada saya. Jadi, kapan pun saya ke Yogyakarta saya pasti terkena gangguan. Entah tubuh saya memberat. Entah saya merasa tiba-tiba sekeliling gelap. Dalam kondisi tertekan, saya sempat berpikir saya ini tumbal," akunya.

Dalam kondisi seperti ini, Agni mengandalkan doa dan pertolongan Sang Maha Kuasa. 

(wyn/gur)

Let's block ads! (Why?)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Incoming Search