Kamis, 23 November 2017

Kisah 'Gila' Eks Karyawan Google Bentuk Agama Kecerdasan Buatan

Yang cukup mengerikan, salah satu poin dari surat pengajuan tersebut ingin mengedepankan prinsip ketuhanan berdasarkan kecerdasan buatan. Dengan demikian, atas kecerdasan buatan, kehidupan manusia diharapkan akan lebih maju dan makmur.

Levandowsky percaya, kecerdasan buatan bisa mengubah eksistensi manusia dan mengambil peran utuh untuk membantu kehidupan.

"Di masa depan nanti, akan ada sesuatu yang lebih cerdas dari manusia. Namun demikian harus ada 'transisi' soal siapa yang bertanggungjawab. Kecerdasan buatan pasti akan diterima umat manusia karena tujuannya mulia: membantu sesama," kata pria yang juga sempat menjabat sebagai engineer di Uber ini.

Levandowski sendiri adalah toko kenamaan yang populer di dunia teknologi, khususnya kecerdasan buatan. Ia juga terlibat dalam pengembangan kecerdasan buatan untuk proyek mobil pintar besutan Google, Waymo.

Saat memutuskan diri untuk hengkang dari Google, barulah Levandowski mendirikan startup pembesut mobil pintar Otto, yang pada akhirnya diakuisisi Uber. Sayang, Levandowski pun harus pergi meninggalkan Uber pada Mei 2017 akibat tindakan plagiarisme teknologi Waymo yang ia pakai di Uber.

Kecerdasan buatan sendiri dipandang ibarat dua mata pisau di industri Silicon Valley. Facebook dan Google, termasuk beberapa di antara perusahaan teknologi yang begitu menggembor-gemborkan kecerdasan buatan untuk masa depan.

Sementara, di sisi lain, tokoh seperti Elon Musk dan Bill Gates justru menolak kecerdasan buatan untuk dikebut. Menurutnya, kecerdasan buatan harus dilakukan dengan hati-hati agar tidak berisiko membahayakan manusia.

(Jek/Cas)

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

Let's block ads! (Why?)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Incoming Search