Kamis, 23 November 2017

Kisah Warga Australia Jadi Pemandu Wisata di Korea Utara

Ancaman Hukuman Mati

Kulesza bersedia membagikan video tur terakhirnya di Korea Utara.

Tur dimulai dengan briefing terhadap sekitar 20 peserta saat Kulesza menguraikan apa yang "boleh" dan "tak boleh" dilakukan saat berkunjung.

Setelah beristirahat semalam, Kulesza bersama tiga pemandu Korea Utara mengajak rombongan untuk melihat objek kunjungan resmi: Monumen Mansudae - tugu peringatan untuk menghormati pendiri negara serta stasiun metro Pyongyang, yang berfungsi ganda sebagai tempat perlindungan serangan bom sedalam 110 meter di bawah tanah.

Kereta bawah tanah itu sangat mengesankan, dihiasi dengan mozaik dan mural sepanjang sisi yang dibangun hampir setengah dekade lalu.

Pemberhentian berikutnya yaitu Grand People's Study House. Inilah perpustakaan dengan 600 ruangan, tapi sebagian besarnya kosong.

Saat berada di sini, rombongan diperlihatkan internet, tapi hanya terkoneksi dengan puluhan situs website Pemerintah Korea Utara.

Semua situs asing dilarang dan jika mengaksesnya bisa terancam hukuman mati.

'Mereka orang biasa'

Dalam berbagai perjalanannya itu, Kulesza telah menjalin pertemanan dengan penduduk setempat. Menurut dia, orang Korea Utara bukanlah robot yang dicuci otaknya, sebagaimana sering digambarkan dalam pemberitaan dan budaya populer di negara barat.

"Bila Anda ke sana sebagai turis, (penduduk setempat) tidak membicarakan hal-hal itu (propaganda). Mereka itu orang biasa. Makam malam, minum atau di hotel atau bar lokal, mereka orang biasa yang menyenangkan," ujarnya.

"Mereka semaksimalnya memanfaatkan situasi yang tidak mereka kendalikan... mereka tidak punya pilihan di mana mereka dilahirkan. Mereka memanfaatkan sebaik mungkin situasi spesifik mereka itu," tutur Kulesza.

Dalam video itu, Kulesza kemudian tampak membawa rombongan ke Istana Anak Manyungdae, sebuah aula mewah di mana anak-anak mengenakan kostum tradisional, bernyanyi dan menari bagi para penonton.

Di sela pertunjukan, tayangan video peluncuran rudal nuklir terlihat di layar dan pertunjukan pun berubah menjadi puja-puji bagi program nuklir itu.

Semesta yang lain

Kulesza menjelaskan bahwa pajangan militer di sana mungkin sering disalahartikan.

"Kim Jong-un menginginkan persenjataan nuklir untuk tetap berkuasa. Namun, dari sudut pandang rakyat, dari mereka yang pernah saya ajak bicara, mereka melihatnya sebagai pertahanan. Mereka tidak ingin menyerang Korea Selatan atau Amerika meski propagandanya begitu," katanya.

"Mereka melihat hal ini sebagai pertahanan. Mereka merasa terancam oleh AS dan Korea Selatan," tambah Kulesza.

Tur tersebut diakhiri dengan kunjungan ke Zona Demiliterisasi (DMZ), garis pemisah yang membelah Semenanjung Korea menjadi dua.

Zona ini didirikan oleh Korean Armistice Agreement dan berfungsi sebagai penyangga antara Korea Utara dan Korea Selatan.

Kunjungan ke sana berubah menjadi pelajaran sejarah dari perspektif Korea Utara.

"Ini agak menegangkan. Sensitivitasnya masih menonjol saat ini. Sangat menarik untuk mendengar sisi cerita ini," kata Kerstie Cooper dari Inggris.

Saat kunjungan berakhir, kelompok tur kembali ke kereta, menyapa selamat tinggal kepada pemandu lokal mereka dan berefleksi mengenai perjalanan yang telah mereka tempuh.

"Ini membuka mata. Rasanya seperti kembali ke semesta lain. Bagaimana segala sesuatunya beroperasi sangat berbeda dari dunia barat," ujar Beth Blount, seorang guru asal Inggris yang mengunjungi Korut untuk pertama kalinya.

Let's block ads! (Why?)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Incoming Search