
Kisah Frans Thamura, Pendiri Meruvian, Lembaga Nirlaba Pendorong Munculnya Entrepreneur IT
JADI PEMAIN GLOBAL: Frans Thamura (baju biru), pendiri Meruvian, bersama calon pengusaha-pengusaha muda berbasis kemampuan dan pengetahuan Java. (fedrik tarigan/jawa pos)
Satu dekade sudah Frans Thamura mencetak pengusaha-pengusaha muda berbasis teknologi informasi. Tujuannya agar Indonesia jadi pemain global. Alumnus yang sukses diwajibkan gantian membimbing peserta program berikutnya
DIAN WAHYUDI, Jakarta
KEMARAHAN sang ayah tak terbendung. Bukan hanya umpatan, tangan juga melayang. Wajah Frans Thamura pun langsung lebam.
Tapi, Frans memilih pasrah. Sama sekali tak melawan. Dia menerimanya sebagai konsekuensi kelalaian. Juga, demi kecintaannya kepada komputer yang kini menjadi jalan hidupnya. Saat itu dia duduk di kelas I SMA.
"Ya itulah, karena belajar komputer, sampai pernah bengkak muka ini," kenang Frans, saat ditemui Jawa Pos, di mes Meruvian Center, bilangan Kompleks Perumahan Gading Mas, Jakarta Utara, Senin dua pekan lalu (2/5).
Ketika itu, ayahnya murka karena Frans yang diminta membeli makanan tak langsung pulang dengan segera. Dia malah memilih mampir sebentar ke tempat rental komputer.
Ketika itu, dia memang sedang gandrung-gandrungnya belajar perangkat elektronik yang menjadi salah satu simbol kemajuan peradaban. Frans memang baru saja mengikuti kursus singkat bahasa pemrograman Basic (Beginners All-purpose Symbolic Instruction Code). Sebuah bahasa pengodean dasar untuk membangun perangkat lunak sendiri di komputer.
Tapi, pengorbanan muka bengkak itu, selain juga karena kerja kerasnya, tak sia-sia. Frans kini dikenal berkat kepeduliannya terhadap sesama melalui keterampilannya di bidang information technology (IT).
Meruvian adalah lembaga yang didirikan Frans pada 28 Maret 2006. Bentuknya yayasan. Dengan program utama j-technopreneur. Yaitu, menghasilkan pengusaha-pengusaha muda berbasis kemampuan dan pengetahuan Java. Java merupakan bahasa pemrograman berorientasi objek yang dapat membuat berbagai bentuk aplikasi, desktop, web, dan lainnya.
Pembentukan dilandasi sebuah mimpi besar; Indonesia bisa menjadi global player. "Anak-anak ini sudah jauh lebih enak ketimbang saya dulu, mereka tinggal belajar tekun saja. Saya sekarang kan paling cuma mengomel kalau ada yang tidak sungguh-sungguh ngerjain tugas," tunjuk pria kelahiran Sukabumi, 23 Oktober 1975, itu sambil mencolek salah seorang anak didiknya.
Saat Jawa Pos berkunjung, belasan remaja laki-laki usia anak SMA dan kuliahan, terlihat serius menghadap laptop masing-masing. Mes yang menempati bangunan rumah dua lantai itu, kini memang sekaligus dijadikan tempat workshop untuk sementara waktu. Sebab, ruko yang biasa ditempati sedang direnovasi.
Anak-anak itu berasal dari luar Jakarta. Sebagian besar di antaranya merupakan pelajar salah satu SMK di Kota Payakumbuh, Sumatra Barat. Mereka khusus datang ke Jakarta untuk mengikuti program magang tahap 1 di Meruvian Center. Selama enam bulan, mereka dibekali kemampuan programming (OSS dan Java).
Sisanya adalah anak-anak alumnus beberapa SMK dari Rembang dan Kendal. Mereka sebelumnya pernah mengikuti program magang yang sama. Kini mereka menjadi pendamping adik-adik angkatannya.
Selain itu, mereka sekaligus sedang melanjutkan program berikutnya di Meruvian. Anak-anak terpilih tersebut telah dan sedang difasilitasi untuk mendapat program beasiswa melanjutkan kuliah S-1, bahkan S-2, di sejumlah kampus.
Beberapa institusi, termasuk Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) digandeng untuk itu. "Kalau Hermawan Kartajaya di bidang marketing dan Yohanes Surya untuk fisika, positioning kami sejak awal sengaja khusus di pengembangan teknologi informasi," tutur Frans.
Institusi yang dipimpinnya berusaha sedapat mungkin mencari siswa-siswa dari daerah. Khususnya yang berlatar belakang strata ekonomi bawah. Model kontinuitas yang berusaha diterapkan itu pulalah yang membuat Meruvian tetap bertahan hingga saat ini.
Setiap ada yang datang, ada yang pergi, dan ada yang kemudian datang kembali.
"Meski kebanyakan kalau sudah pergi, jarang ada yang mau balik lagi. Yah, itu risiko, mental sebagian bangsa ini masih susah diajak berpikir sesuatu yang lebih besar di luar sukses untuk diri sendiri," tuturnya.
Padahal, sejak awal, program Meruvian didesain dengan kewajiban kerja sosial bagi para alumninya. Artinya, bagi mereka yang telah diantar menuju tangga sukses, punya kewajiban membantu mengentaskan anak-anak peserta program berikutnya.
Minimal, satu orang yang sukses harus membeasiswakan satu anak lainnya. "Tapi, tetap saja mayoritas kabur begitu saja meski sudah bergaji dolar," jelasnya.
Lalu, dari mana Meruvian membiayai program, terutama untuk operasional sehari-hari selama ini? Frans menegaskan, semuanya dibiayai secara mandiri.
Salah satunya lewat fee sharing order dari perusahaan ataupun institusi yang membutuhkan penyediaan software. Misalnya, yang saat ini sedang ditangani adalah pesanan Fuji Xerox untuk membuat sistem data untuk sejumlah unit usaha.
Di bawah supervisi Frans langsung, anak-anak alumni magang yang mengerjakannya. "Sejak 2006, ya seperti ini, syukurlah ada saja yang ngasih pekerjaan," bebernya.
Salah satu yang menggarap order dari Fuji Xerox tersebut adalah Miftahul Huda (19). Alumnus salah satu SMK di Rembang itu merasa bersyukur punya kesempatan menimba ilmu di Meruvian.
"Dengan begini, saya bisa belajar sekaligus bekerja untuk mengaplikasikan langsung ilmu yang saya punya," kata Huda.
Ketika dihubungi, salah seorang alumnus angkatan awal di Meruvian, Kristiono Hendrawan, juga berterima kasih atas yang dia peroleh di Meruvian. Dia yang kini sudah memiliki perusahaan sendiri di bidang IT itu menganggap, keberadaan program-program seperti yang digagas Frans penting untuk terus dikembangkan.
Dia menegaskan, setiap teori yang didapat di bangku sekolah atau kuliah belum cukup. Ilmu dan pengetahuan penting pula untuk diaplikasikan. "Sebab, teknologi itu tool, dia akan bermanfaat kalau sudah diaplikasikan. Nah, sentuhan Frans di Meruvian telah mengenalkan kita dengan Java yang aplikatif," imbuh alumnus Universitas Indonesia tersebut.
Pada masa-masa awal Meruvian berjalan, fokus garapan memang masih untuk mahasiswa. Baru sekitar 2008, konsentrasi digeser untuk lebih konsentrasi pada lulusan SMK. Secara faktual, mayoritas lulusannya ternyata masih banyak yang belum benar-benar siap memasuki dunia kerja.
"Tapi, kalau boleh jujur, apa yang saya lakukan selama ini tidak melulu berbuah apresiasi. Tidak sedikit yang mencela. Papa, misalnya, sejak awal saya dibilang buang-buang hidup saja," kata Frans, sambil terkekeh.
Meski demikian, dia tetap bergeming. Sejak kecil, bapak satu anak itu sudah dibiasakan untuk tidak serta-merta mendapatkan segala sesuatu yang diinginkan. Misalnya, bagaimana dia saat kelas 1 SMA akhirnya bisa memiliki nintendo (perangkat game asal Jepang yang sempat ngetren awal-awal 90-an). Saat itu, dia harus kerja dulu selama tiga bulan di sebuah pabrik sepatu di sekitar kediamannya di Sukabumi.
Kemandirian Frans berlanjut. Saat kuliah di Universitas Trisakti, Jakarta, dia juga menyambi kerja. Beruntung, berbekal kemampuan dan pengetahuan komputernya yang makin baik, dia diterima ikut membantu tim IT sebuah perusahaan aluminium di Jakarta.
Namun, saat bekerja di situ pulalah, Frans sempat mengalami insiden yang menyebabkan luka permanen jahitan. Dia menjadi sasaran penodongan saat berada di dalam bus metromini jurusan P12 (Terminal Kalideres-Senen) sepulang kerja. Karena melawan, perut bagian kanannya robek karena tersayat senjata tajam. Untuk menutup luka itu, butuh jahitan sekitar 5 cm.
"Saya tidak tahu, kenapa saya yang jadi sasaran? Apa karena saya beda ya? Kalau benar karena saya beda, berarti saya sudah punya dua permanent injury. Satu di perut dan satu lagi di mata karena pernah dikeroyok juga waktu kecil," tutur putra pasangan Thamura dan Liong Tjin Nyong itu, sambil menunjukkan bekas luka jahitan yang masih jelas terlihat.
Dengan nada satire, dia kemudian melanjutkan, bisa jadi pengalaman itu pulalah yang menjadi alasan ayahandanya mempertanyakan aktivitasnya di Meruvian hingga saat ini.
"Aneh sih memang, hampir semua anak-anak yang di Meruvian ini kenyataannya memang justru bukan (WNI) keturunan seperti saya. Tapi, ya memang begini lah adanya," katanya lalu tertawa. (ttg/jpnn/far/k8)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar